GeNose dan Berbagai Pertanyaan Tentang Alat Deteksi Covid-19 Ini - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
GeNose dan Berbagai Pertanyaan Tentang Alat Deteksi Covid-19 Ini
BERITA HIGHLIGHT STRAIGHT NEWS

GeNose dan Berbagai Pertanyaan Tentang Alat Deteksi Covid-19 Ini

SATUKANAL.com, NASIONAL– Mulai Jumat (5/02/2021), Pemerintah akan menggunakan GeNose Sebagai alat deteksi covid-19 di stasiun. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan.

Dilansir dari kompas.com, Kemenhub  akan  mengirimkan surat edaran kepada operator transportasi mengenai penggunaan GeNose di stasiun. Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Luhut selaku Menko Marves yang menyarankan agar GeNose bisa digunakan di semua publik area yang ada di Indonesia.

Lebih lanjut mengenai GeNose, simak penjelasan berikut ini

Apa itu GeNose

Dilansir dari website resmi kemdikbud, GeNose merupakan alat pendeteksi covid-19 buatan ahli Universitas Gadjah Mada (UGM) yang digawangi oleh Dr. Kuwat Triyana dan dikembangkan bersama dengan PT. Swayasa Prakasa di bawah dukungan UGM Science Techno Park. Cara kerja GeNose yaitu melalui hembusan nafas yang  aplikasinya terhubung dengan sistem cloud computing untuk mendapatkan diagnosis secara real time.

GeNose dikalim punya akurasi sebesar 93%, sensitifitas sebesar 90%, PPV sebesar 88% dan NPV 95%. GeNose juga mampu bekerja secara paralel dengan proses diagnosis yang tersentral di dalam sistem sehingga validitas data dapat terjaga untuk semua alat yang terkoneksi. Data  itu kemudian dapat dimanfaatkan untuk keperluan pemetaan, pelacakan dan pemantauan penyebaran pandemi secara aktual.

Baca Juga :  Kena Pajak, Harga Pulsa, Kartu Perdana, dan Token Listrik Naik. Begini Penjelasan Sri Mulyani

Bagaimana izin Kemenkes

Pada 24 Desember 2020, GeNose secara resmi telah mendapatkan  izin dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes). GeNose akan diproduksi massal pada batch pertama sebanyak 100 unit.

Produksi ini merupakan hasil pendanaan dari Badan Intelijen Negara dan Kementerian Riset dan Teknologi. Untuk penyerahan hasil produksi massa batch pertama GeNose akan dilakukan setelah itu.

Sedangkan untuk perilisannya akan dilakukan pada bulan Februari sebanyak 3000 unit, dilansir dari website itjen Kemdikbud. Alat ini diharapkan dapat membantu penanganan kasus covid-19 yang ada di Indonesia sehingga dapat segera tersebar ke seluruh Puskesmas di Indonesia.

Berapa harga dan bagaimana distribusinya

Sebelumnya, pada Sabtu (23/01/2021) Menhub Budi Karya Sumadi bersama Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi (menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan menyaksikan langsung penggunaan alat deteksi covid-19 GeNose di stasiun KA Pasar Senen.

GeNose rencananya akan digunakan di simpul-simpul transportasi umum seperti di stasiun kereta api, bandara, pelabuhan dan terminal. GeNose juga akan digunakan di fasilitas umum lain, seperti hotel, pusat perbelanjaan bahkan sampai  di tingkat Rukun Tetangga (RT).

GeNose dibanderol dengan harga Rp 62 juta per unit, belum termasuk pajak. Sementara, orang yang dideteksi dengan menggunakan alat ini akan dikenai biaya Rp 20.000 per orang.

Baca Juga :  Pembaharuan Aturan Vaksinasi Tahap Dua di Kota Kediri

Bagaimana risiko dan prosedurnya

Sejauh in, belum ada pernyataan resmi dari Kementerian Kesehatan maupun peneliti UGM terkait status alat ini sebagai pengganti peran tes PCR, tes rapid antibodi dan tes rapid antigen atau hanya bersifat screening semata.

Hal tersebut juga sempat dipertanyakan oleh Dicky Budiman, Epidemiolog Griffith University yang dikutip dari kompas.com.

“Ini sifatnya untuk screening dini, seperti thermo gun cuma ini jauh lebih sensitif, tapi tidak bisa menggantikan PCR, rapid test antibodi atau antigen,” ujar Dicky.

Pertanyaan serupa terkait prosedur juga disampaikan oleh Ahmad Utomo, ahli biologi molekuler Indonesia. Karena hingga saat ini, mengenai prosedur, tingkat labilitas dan tanggung jawab terkait risiko GeNose belum ada keterangan resmi baik dari Kemenkes maupun UGM.

“Misalnya, ini jelas hasilnya positif, terus (GeNose) hasilnya negatif. Nanti kalau ada apa-apa liability-nya bagaimana? Atau misalnya dipakai di klinik, pasien protes ke klinik tersebut. Nah nanti yang layak diprotes itu kliniknya, produsennya, atau siapa?” kata Ahmad.

 

 

 

Pewarta: Adinda
Editor: Redaksi Satukanal

 

Sumber: https://itjen.kemdikbud.go.id/, https://www.kompas.com/

Kanal Terkait