Gempar Kasus Swab Tes Bekas Kualanamu, Terapkan Cara Ini Untuk Menghindarinya! - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Gempar Kasus Swab Tes Bekas Kualanamu, Terapkan Cara Ini Untuk Menghindarinya!
BERITA Kanal Highlight

Gempar Kasus Swab Tes Bekas Kualanamu, Terapkan Cara Ini Untuk Menghindarinya!

Satukanal.com, Nasional– Baru-baru ini, swab tes antigen menggunakan alat kesehatan bekas di Bandara Kualanamu cukup menggemparkan publik.

Alat swab tersebut dicuci ulang setelah pemakaian, untuk kemudian dapat digunakan kembali. Selain mengakibatkan hasil swab tes menjadi tidak akurat tetapi aksi tersebut juga dapat menularkan virus Corona ke orang lain.

Lantas bagaimana cara mengidentifikasi alat swab baru dalam test Covid-19? Dilansir dari CNN Indonesia, Hadian Widyatmoko selaku Ahli Patologi Klinik Laboratorium Primaya Hospital Karawang memberikan cara praktis untuk mengenalinya. Berikut ulasannya:

1. Pastikan Kemasan Alat Swab Masih Tersegel Baik

Hadian menghimbau agar masyarakat lebih aware saat sedan melakukan tes swab. Ia menghimbau pada masyarakat untuk memastikan bahwa alat swab yang digunakan masih berada d dalam kemasan dan tersegel dengan baik. Hal ini berlaku untuk rapid test antigen maupun swab PCR.

Menurutnya, masyarakat bisa meminta petugas untuk memperlihatkan alat swab masih baru di dalam kemasan sebelum test. Masyarakat bahkan dapat meminta petugas agar alat test dibuka di depan pasien sesaat sebelum tindakan swab.

Tindakan tersebut bermaksud untuk menjaga agar alat tersebut tetap steril dan mencegah kontaminasi. “Jika tidak melihat alat swab tersebut dibuka dari tempatnya di depan anda, anda dapat mencurigainya,” terangnya.

Baca Juga :  Pemakaman Jenazah Covid-19 Secara Mandiri Diberi Lampu Hijau!

2. Pastikan Alat Swab Memiliki Izin Edar

Alat tes swab,lanjutnya, harus memiliki izin edar. Pasien dapat menanyakan izin edar tersebut pada petugas fasilitas kesehatan (faskes) terkait merek atau tanggal kadaluarsa alat yang digunakan. Mengingat, alat swab antar merek punya kadaluarsa yang berbedaa-beda.

Alat Swab juga harus memiliki Nomor Izin Edar (NIE) dari Kementerian Kesehatan. Dengan begitu, pasien dapat meminta petugas untuk memperlihatkan sertifikat NIEnya. “Kadaluarsa alat swab antar merek pun berbeda-beda. Umumnya sebuah alat swab bisa bertahan bertahun-tahun dari masa produksinya,” ungkapnya.

3. Perhatikan Dengan Seksama Permukaan Swab Stik Yang Digunakan

Sementara itu, Selvi Josten, Doter Spesialis Patologi Klinik Primaya Hospital Makassar menambahkan bahwa masyarakat juga bisa memperhatikan dengan seksama indikasi-indikasi lain mendeteksi alat tes swab baru.

Ia memberikan permisalan, jika melihat permukaan swab stik berwarna putih bersih, masih mulus atau tidak kelihatan bergerigi serta tidak beraroma, maka kemungkinan besar alat tersebut masih baru.

4. Perhatikann Perlekatan Kemasan Alat Swabnya

Bagaimanapun juga, menurutnya, alat swab tidak dapat digunakan kembali lantaran alat ini merupakan alat sekali pakai da akan dibbuang setelah digunakan. Penggunaan reusable, kata dia, sangat beresiko tinggi pada kesehatan dan penyebaran infeksi virus Covid-19 kepada  pasien lainnya.

Baca Juga :  Coban Talun Rela Paceklik Pengunjung Demi Taat Aturan

“Pastikan alat swab tersebut masih baru dan perhatikan perlekatan kemasannya harus dalam keadaan sempurna seperti dari pabrik bukan memakai lem atau double tape,” katanya.

5. Pemeriksaan Swan Antigen atau PCR Dilakukan Oleh Petugas Terlatih

Selama pemeriksaan swab antigen atau PCR dilakukan oleh petugas yang telah terlatih, maka hasil pemeriksaan dapat dipertanggungjawabkan karena para petugas telah memiliki sertifikat pelatihan. Keakuratan hasil dapat diperoleh dari laboratorium yang terstandarisasi serta didukung oleh tenaga terampil dan terlatih.

Disamping itu, terdapat Dokter Spesialis Patologi Klinik sebagai penanggung jawab hasil pemeriksaan swab, baik antigen maupun PCR. “Penggunaan alat swab harus dilakukan oleh tenaga terlatih dari laboratorium yang terstandar. Terdapat teknik dan perlakuan khusus mulai saat persiapan, pemeriksaan, hingga pengelolaan limbah infeksius,” ujar dr. Selvi.

Sebagai informasi tambahan, masyarakat umum tidak diperkenankan untuk membeli alat swab sendiri. Pasalnya, penggunaan alat swab harus dilakukan dan dalam pengawasan tenaga medis ahli. “Penggunaan alat swab yang tidak tepat dapat menimbulkan komplikasi berbahaya termasuk perdarahan hidung,” ujar dr. Hadian.

 

 

Pewarta : Adinda
Editor : Redaksi Satukanal

Kanal Terkait