SATUKANAL.COM
BERITA HIGHLIGHT STRAIGHT NEWS

Film Operasi Trisula, Gambaran Kisah Mencekam Gerakan PKI di Blitar Selatan

Film berjudul “Penumpasan Sisa-Sisa PKI Blitar Selatan (Operasi Trisula)” adalah film dokumenter drama kolosal tahun 1987 dari Indonesia yang disutradarai oleh B.Z. Kadaryono. Film ini diproduksi oleh studio PPFN milik negara dan dimaksudkan sebagai sekuel dari film Pengkhianatan G30S/PKI.

Dilansir dari Wikipedia, film ini dibintangi Adang MansyurArie SandjajaEva Rosdiana DewiHassan Sanusi,Jeffry Sani,Kusno Arief Saputro,Lina Budiarti,Mawardi Harland,Rachmat Kartolo,Rudy Gozali,Tien Kadaryono,Tommy Kalong,Yana Achbarie,Yati Surachman,Yos Santo.

Film ini menceritakan operasi militer yang dilakukan untuk memberantas anggota gerakan G30S/PKI yang melarikan diri dari Jakarta dan berbagai daerah. Mereka ini kemudian bertahan dan menyusun gerakan dari wilayah tandus, berbukit dan bergua-gua di Blitar Selatan. Mereka dilukiskan merampok, melakukan sabotase dan meresahkan penduduk. Sebuah operasi militer dengan sebutan “Operasi Trisula” dibentuk untuk membasmi mereka.

Dikisahkan pasca peristiwa pemberontakan G30S/PKI di Jakarta dapat digagalkan dan dihancurkan oleh Jendral Suharto. Sisa-sisa penghianat PKI tersebut berusaha meloloskan diri. Diantaranya mereka menyusup ke daerah Jawa Timur, terutama wilayah Blitar selatan.

Melihat wilayah Blitar selatan yang mayoritas masyarakatnya masih lugu, dibelenggu dalam kemiskinan dan didukung kondisi geografis yang didominasi hutan berbukit dengan gua-gua, memudahkan mereka untuk menggalang basis perlawanan terhadap pemerintah.

Dengan dipimpin oleh Suwandi sebagai Compro (Comite Proyek), mereka mengaku sebagai orang suruhan dari pemerintah dan memperdaya masyarakat Bakung dan desa-desa sekitarnya. Selanjutnya disusul oleh sisa-sisa gembong PKI lainnya, sebagian ada yang lewat jalan darat dan sebagian lagi masuk melalui pantai selatan.

Beberapa pentolan PKI yang ikut bergabung di Blitar Selatan di antaranya Rewang dan Oloan Hutapea. Ada juga Sukatno, mantan Ketua Pemuda Rakyat.

Di Blitar Selatan, PKI membentuk Ormas-ormas untuk mendukung pergerakannya. Para buruh dipengaruhi untuk bergabung dengan Serikat Organisasi Buruh Indonesia (SOBSI), sedangkan para petani dengan Barisan Tani Indonesia (BTI). Selain itu, mereka juga merekrut para “bromo-corah” (sebutan preman dalam istilah setempat) dan juga menggelar Sekolah Perlawanan Rakyat (SPR) dan Kursus Kilat Perang Rakyat (KKPR).

Selain membentuk gerakan baru mereka juga merampok para tuan tanah dan orang-orang kaya di sekitar Blitar selatan. Dengan ideologi komunisnya, mereka tidak segan untuk mengintimidasi bahkan membunuh siapa pun yang tidak mau mendukung pergerakannya.

Maraknya aksi-aksi perampokan, penculikan dan bahkan penyerangan terhadap angkatan bersenjata di Blitar membuat Panglima Kodam Brawijaya Mayjen M. Jasin curiga mengirimkan intelijen militer ke Blitar Selatan. Dia mendapati laporan ada gerakan bersenjata yang cukup besar di sana.

Untuk menindak lanjuti hal itu, maka pemerintah Orde Baru melalui Kodam V Brawijaya membentuk Satgas TRISULA  pada 18 Mei 1968.

Dengan dipimipin oleh Kolonel Witarmin dari Brigif Linud 18, operasi Trisula itu dimulai pada 8 Juni 1968. Operasi ini melibatkan hampir setiap lapisan keamanan mulai dari TNI ABRI, Wanra, Kamra, bahkan petugas Ronda Desa dari Kabupaten Blitar, Kediri, Tulungagung, Nganjuk dan Malang.

Operasi tersebut sangat luar biasa, dengan formasi pagar betis yang diisi oleh gabungan antara angkatan militer bersenjata dan masyarakat sipil mengepung wilayah Blitar selatan menuju satu titik yaitu Desa Bakung sebagai titik pusat operasi tersebut.

Hasilnya gembong-gembong PKI beserta para pendukungnya baik taktis maupun moril bisa dilumpuhkan dan diberantas hingga ke akar-akarnya.

Kanal Terkait