Es Campur Mbah Said, Melegenda Sejak 1954 di Sejuknya Kota Batu - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Es Campur Mbah Said, Melegenda Sejak 1954 di Sejuknya Kota Batu
Mbah Said saat sedang asyik meracik es campur buatannya (Foto: Yulsa Zenna/ Satukanal.com)
BERITA Kanal Highlight Kanal Pesona

Es Campur Mbah Said, Melegenda Sejak 1954 di Sejuknya Kota Batu

Satukanal.com, Batu –Menyusuri sekitaran Alun-Alun Kota Batu, sebuah lapak sederhana bernama Es Campur Mbah Said tampak sedang menjajakan dagangannya. Meski hanya ditemani gerobak buatan sendiri, bangku panjang dan tenda biru, es campurnya sudah cukup melegenda sejak tahun 1954.

Muhammad Said atau Mbah Said biasa berjualan di tepi Jalan Gajah Mada, persis di sebelah barat masjid An nur. Pria paruh baya dengan topi dan kemeja batik khasnya ini menceritakan bahwa es campur racikannya dimulai sejak 67 tahun silam, tepatya pada 7 Agustus 1954.

Sejak dulu, ia selalu berpindah-pindah dengan gerobaknya karena tidak memiliki lahan tetap. Mulai dari keliling alun-alun, hingga pindah ke dalam pasar alun-alun. Bahkan kakek lima orang cucu ini sempat menjadi salah seorang korban dari kebakaran pasar yang sempat terjadi pada 1985 silam. Kini, tiap hari dia masih bertahan dan menetap di tempatnya sekarang.

Bagi yang ingin menikmati kesegaran Es Campur Mbah Said, tidak perlu khawatir. Pasalnya, lapak Es Campur Mbah Said sudah buka sejak pukul 09.00 pagi hingga 22.00 bahkan hingga tengah malam menyambut. “Dari dulu kalau penggusuran, saya tidak pernah melawan. Saya kan hanya menumpang dilahan Pemkot Batu ini,”ujar pria 83 tahun itu.

Es campur pertamanya dijual seharga 50 sen masa itu. Hingga di penghujung tahun 50-an, ia menaikan harganya menjadi 75 sen. Soal harga, Said tak terlalu mempermasalahkan. Terkadang, ia juga memberi es buatannya itu secara cuma-cuma ke anak sekolahan yang ingin membeli. Baginya, yang terpenting adalah orang-orang dapat menikmati minuman buatannya tersebut. Saat ini, harga minuman tersebut sudah ditetapkan yakni Rp 5000 semangkoknya.

Baca Juga :  Kreatif! Mahasiswa UB Ciptakan Body Lotion Daun Kelor Cegah Covid-19

Dalam satu mangkok Es Campur, terdapat isian yang beranekaragam. Seperti roti, mutiara, agar-agar, kacang hijau, ketan hitam, gula cair, sirup merah, dan susu kental manis.

Said masih menggunakan serutan es batu secara manual. Terlihat tangannya yang bergetar saat memarut es batu, tak lupa ia selalu memastikan semua bahan telah lengkap.

Ia bahkan suka tiba-tiba menambahkan bahan ke mangkok pembeli, jika dilihatnya isian mangkok pelanggannya tampak mulai habis. “Kerja itu harus semangat, sabar, ikhlas, dan jangan bermalas-malasan. Tapi, karena sepi seperti ini saya bukanya sesuka hati,” ucapnya sembari tertawa.

Said mengatakan bahwa semenjak situasi pandemi, Said memilih tutup lebih cepat karena sepi pembeli. Normalnya Said dapat menghabiskan 400 porsi dalam sehari, namun angka tersebut terus menurun sejak awal tahun.

Saat ini, ia hanya mampu menjual 20 sampai 40 porsi saja. Bahkan, tak sampai pukul 16.00 WIB Said biasanya sudah pulang ke rumahnya. Menurutnya, itu pilihan terbaik daripada buang-buang tenaga tak ada pembeli.

Alasan Said tetap bertahan berjualan sampai sekarang, karena banyak pelanggan yang menggemari es campur buatannya. Bahkan, beberapa pembelinya yang tinggal di luar kota, tak pernah lupa mengunjunginya saat berada di Malang.

Ia bercerita, dulu mantan Walikota Batu, Eddy Rumpoko, juga merupakan salah satu pelanggan setianya. Eddy selalu mampir di sela waktu luangnya, hanya untuk menyantap es campurnya. “Beliau sering menemani saya berjualan dan duduk di pojok sini sambil bersembunyi, biar tak terlihat warga. Kadang sampai malam, saya masih ditungguin,” tuturnya sambil tersenyum mengingat masa itu.

Baca Juga :  Pilo Kabel Busi, Si Tanaman Sultan Harga Selangit

Said memang dikenal sebagai pribadi yang ramah. Senyuman hangatnya selalu mengembang setiap pembeli datang. Bahkan, ia tak malu meminta maaf jika pelanggan dibuatnya menunggu lama. Kisah-kisah yang ia ceritakan tentang hidupnya, selalu menjadi pencair suasana saat mampir minum es disana.

Menurutnya, walau tak punya toko besar untuk menetap tak masalah. Selama ini, ia sudah menjalani hidup dengan baik dan tak menyusahkan orang-orang. Said pun kerapkali mengisahkan perjalannya memutuskan berdagang es campur.

Kesuksesannya ini memang tak lepas dari peran sang istri, Kasiatun. Berawal dari hanya cari modal nikah, justru es campur menjadi warna di kehidupan keduanya. “Dulu waktu usia saya 16 tahun, saya kepingin nikah. Terus ibu saya nanya apakah sudah punya teman hidup? Kalau jaman dulu teman hidup itu artinya pekerjaan dan kebetulan saat itu saya belum punya. Akhirnya, saya dikasih modal 1000 rupiah buat usaha,” ceritanya

Awalnya, ia bingung harus memulai usaha apa untuk membiayai pernikahannya tersebut. Kala itu, Said memiliki teman yang berjualan es, tiba-tiba saja terlintas dipikirannya untuk ikut berjualan es campur, karena terlihat segar menurutnya.

Temannya tersebut tak sungkan untuk mengajarkannya. Satu persatu kebutuhan dagangan pun ia beli dengan modal seadanya. Mulai dari toples, mangkok, hingga bahan-bahan es campur tersebut. Setelah semua telah beres disiapkan, ia pun merakit gerobak yang menemani berjualan di masa itu.

 

 

Pewarta : Yulsa Zenna
Editor : Chosa, Adinda

Kanal Terkait