SATUKANAL.COM
Eksklusif, Mengenal Pria Crosshijaber Asal Kediri yang Buka Diri di Twitter
Mutia, pemuda crosshijaber asal Kabupaten Kediri. (Foto: dok. pribadi)
BERITA HIGHLIGHT ISU PILIHAN LIPUTAN KHUSUS STRAIGHT NEWS

Eksklusif, Mengenal Pria Crosshijaber Asal Kediri yang Buka Diri di Twitter

SATUKANAL, KEDIRI – Masih ingat soal crosshijaber yang sempat viral akhir tahun 2019 lalu? Fenomena pria yang hobi menggunakan pakaian perempuan berjilbab tersebut menuai banyak kritik hingga polemik.

Sudah beberapa bulan sejak ramai-ramai crosshijaber meredup. Tapi, sekira sepekan lalu, sebuah akun twitter justru membuka diri sebagai crosshijaber.

Warganet, bukannya menolak seperti yang terjadi beberapa bulan lalu, tapi justru saling lempar joke di kolom komentar.

Awalnya, pemilik akun @shinici_izumi ini membuat cuitan yang mengaku dirinya crosshijaber dan mencari teman.

“yrl aku cowo crosshijaber, ada ga teman-teman disini yang mau berteman sama aku L haiyuu mutualan ntar kita cerita cerita tentang aku dan kamu”, tulisnya.

Ia juga menyertakan foto diri memakai kaus berwarna oranye, rok hitam, dan hijab berwarna hitam. Tapi, ia menutup bagian wajah dengan gambar hati.

Cuitan itu mendapatkan banyak komentar, bahkan dicuit ulang. Salah satu komentar warganet menyarankan @shinici_izumi untuk mencoba bergaya lelaki. Seperti memakai celana, kaus hitam, bahkan minyak rambut.

Namun, @shinici_izumi menanggapinya tak kalah santai. “Udah pernah, tapi lebih nyaman pakai rok dan jilbab,” balasnya disambut komentar warganet yang lebih kocak.

Satukanal.com mencoba menghubunginya melalui pesan langsung. Setelah @shinici_izumi bersedia, pertemuan pun dilangsungkan di sebuah warung kopi di bilangan Pare, Kabupaten Kediri, sehari setelah percakapan di Twitter.

Tidak ada yang anomali dari penampilannya sebagai seorang pemuda. Secara fisik, meski tak bisa dibilang kekar berotot, ia tampak gagah.

Memakai kaus tanpa kerah dan jaket ber-hoodie. Jam tangan yang dipakainya pun maskulin, berwarna hitam khas jam tangan laki-laki 20 tahun-an.

Ya, ia memang tak berpakaian gamis berhijab, apalagi berniqab seperti jamaknya sosok crosshijaber diberitakan.

Saat bertemu Satukanal.com di warung kopi malam itu, ia bergaya lazimnya milenial.

“Jangan dibayangin tiap keluar saya pakai gamis dan jilbab. Sehari-hari saya ya seperti ini,” katanya, sambil terkekeh.

Mutia, seperti nama yang dipakainya di akun Instagram, tak menyangka kalau cuitannya di media berlogo burung itu bakal ramai.

Memang, sejak ia membuat pengakuan dirinya crosshijaber, akun yang awalnya diikuti tak sampai seratus orang, kini diikuti hampir seribu orang.

Akun @shinici_izumi adalah akun alter yang dibuatnya. Akun alter merupakan akun yang dibuat untuk membentuk karakter tertentu yang berbeda dari karakter asli pengguna di kehidupan nyata.

Meski begitu, Mutia menampik kalau tujuannya untuk kriminal atau motif penyalahgunaan yang lain.

“Serem banget itu, aku juga takut kalau sampai bawa-bawa hukum. Nggak, nggak ada sama sekali (niat kriminal). Itu murni akunku sebagai seorang crosshijabers. Aku juga punya real life yang benar-benar berbeda dengan sosokku sebagai crosshijaber,” akunya.

Ia tak tahu alasan pasti mengapa pakaian perempuan sangat menarik hatinya. Kesukaan itu bahkan sudah ada sejak lama.

“Waktu masih kecil, suka pakai baju ibu. Rasanya nyaman aja, kayak lebih feminin,” katanya memulai cerita.

Tentu saja ia memakainya sembunyi-sembunyi. Saat orang tuanya tak ada di rumah, atau malam hari saat seisi rumah terlelap. “Asalkan ada kesempatan, kesempatannya waktu nggak ketahuan,” katanya.

Saat memakai baju perempuan, yang dilakukannya hanya mematut diri di depan cermin. Terlebih, saat kecil, kamera belum menjadi tren, sehingga ia tak bisa mengabadikan foto diri. Kebiasaan ini berlanjut hingga SMK.

Tapi, pemuda yang masih berstatus mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di kota pendidikan ini mengaku pernah berada di satu titik saat ia tidak menggunakan pakaian perempuan dalam jangka waktu cukup lama.

“Soalnya aku… mengaji,” katanya sambil matanya menerawang ke langit-langit dan tangannya menutup mata. Bibirnya menyunggingkan senyum seribu makna.

Namun, masa ini tak bertahan lama. Memasuki bangku kuliah, gejolak berpakaian perempuan makin membuncah. Terlebih, sembari kuliah, Mutia memiliki penghasilan sendiri.

Perlahan, sedikit demi sedikit, Mutia membeli pakaian perempuan, tak lagi memakai pakaian ibunya.

Tak ada anggota keluarga perempuan selain ibunya. Pun, ia tidak memiliki saudara kandung perempuan. Kehati-hatiannya menjaga piranti perempuan harus ekstra. Sebab, sekali ditemukan barang milik perempuan di rumahnya, bukan tak mungkin akan menimbulkan pertanyaan.

Sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya terjatuh juga. Pepatah itu pas untuk menggambarkan kondisi Mutia. Sebab, sekira tahun 2017, Mutia terpergok orang tuanya. “Orang tua tahu, lebih tepatnya, saya ketahuan,” ujarnya.

Momen itu digunakan Mutia untuk berterus terang. Di luar perkiraan, orang tuanya bisa menerima. Asalkan bertujuan murni berpakaian perempuan dan menggunakan riasan, tanpa maksud “menjadi perempuan”, orangtuanya bisa memahami.

Sejak itu, Mutia meletakkan alat-alat rias yang dimilikinya di atas meja di kamarnya.

“Tapi, saya kunci, jangan sampai adik laki-laki tahu. Cukup aku saja yang seperti ini,” tuturnya.

Memang, saat menjadi “perempuan”, Mutia totalitas. Mulai dari hijab, pakaian, sepatu, hingga riasan, lengkap ia kenakan saat ia menjadi sosok kedua. Ia mengaku kesulitan mencari ukuran sepatu perempuan yang pas di kakinya yang cowok tulen.

Meski begitu, berdandan ala perempuan tak dilakukannya setiap saat. Ia menganalogikan seseorang yang bekerja, kadangkala memerlukan waktu untuk mencari hiburan dan melepas penat.

“Berdandan perempuan pun begitu. Cuma untuk hiburan, kalau lagi capek dan ingin. Kadang saat weekend atau waktu luang,” akunya.

Saat menjadi sosok kedua itu, terkadang ia pergi ke taman, jalan-jalan ke mall untuk belanja, bahkan ke pantai.

Aktivitas itu tak dilakukannya sendiri. “Ya sama temen yang perempuan, temen deket yang emang tahu kalau aku cross. Mereka bisa menerimaku,” sambungnya.

Dalam keseharian, Mutia tetap menjalani hidup layaknya mahasiswa. Begadang mengerjakan tugas, bergabung di himpunan mahasiswa, mengikuti aktivitas sosial, juga nongkrong di warung kopi. Untuk yang terakhir, ia kerap melakukannya dengan teman laki-laki.

“Kalau pas nongkrong sama temen cowok ya aku menjadi aku, sosok di kehidupan nyata sebagai mahasiswa yang nongkrong di warung kopi. Ya pakai pakaian normal, gila aja aku cross di depan temen laki,” ujarnya sambil terbahak.

Untuk menyalurkan kebutuhannya menjadi seorang crosshijaber, Mutia berhati-hati. Ia mengaku keluar kamar kosnya saat situasi kos sepi.

Begitu pula saat ia di kampung halamannya di Kecamatan Purwoasri, Kabupaten Kediri. Ia memilih waktu saat tak banyak orang beraktivitas di luar rumah, yang memungkinkan ia akan terpergok.

Urusan orientasi seksual, Mutia tetap normal. “Aku suka perempuan, aku pernah punya pacar, meski sudah putus di tengah masa kuliah,” ujarnya terbahak.

Ia tak tahu, sampai kapan kesukaannya menjadi crosshijaber akan berlanjut. Ia pun belum memikirkan alternatif pemuasan keinginannya selain berdandan dengan gamis dan jilbab lengkap dengan riasan.

“Aku tetap punya mimpi, cita-cita, dan membangun karir. Akun di twitter atau Instagram hanya alter. Aku tetap seorang pemuda yang menyusun masa depan,” tegasnya.

Mutia tak sendiri, ia memiliki lingkar pertemanan sesama crosshijaber. Malahan, banyak di antaranya yang sudah berkeluarga dan memiliki keturunan.

“Hobi” crosshijaber tetap disalurkan kawan-kawannya itu di waktu luang. Biasanya, kata Mutia, saat di akhir pekan, mereka menyisihkan waktu untuk memisahkan diri sejenak dari keluarga dan menyalurkan keinginannya berdandan dan berpakaian perempuan.

Apakah Mutia terpikir menikah? “Aku masih suka perempuan, kok. Kalau nanti menikah, terus bisa berhenti (menjadi crosshijaber), ya who knows,” tutup pemuda yang tengah menyelesaikan skripsi ini.

Pewarta: Isnatul Chasanah

Redaktur: N Ratri

    Kanal Terkait