Efek Samping Vaksin Booster Covid-19? Simak Penjelasannya
SATUKANAL.COM
Efek Samping Vaksin Booster Covid-19
Vaksinasi Covid-19 di Balai Desa Pandantoyo Kabupaten Kediri (Foto: Anis Firmansyah/ Satukanal.com)
BERITA Kanal Straight

Bagaimana Efek Samping Vaksin Booster Covid-19? Simak Penjelasannya

Satukanal.com, Nasional–  Efek samping vaksin booster Covid-19 menjadi salah satu hal yang mungkin dicemaskan oleh banyak orang.

Terlebih, beberapa jenis vaksin untuk dosis pertama dan kedua juga bisa memberikan efek bagi orang yang disuntikkan. Meski begitu, efek dari penyuntikan vaksin ini tak perlu terlalu dicemaskan.

Seperti yang telah diketahui, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menerbitkan izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) terhadap lima jenis vaksin Covid-19 sebagai vaksin dosis ketiga atau vaksin booster pada Senin (10/1/2022).

Kelima vaksin tersebut adalah Coronavac PT Bio Farma, Pfizer, AstraZeneca, Moderna dan Zifivax. Sama seperti penyuntikan vaksin primer atau dosis pertama dan dosis kedua, vaksin booster juga memiliki efek samping pada penerimanya.

Efek Samping Vaksin Booster Covid-19

Lantas, bagaimana efek samping masing-masing vaksin boster Covid-19 yang akan diggunakan. Berikut ulasannya:

1. Coronavac PT Bio Farma

Menurut Kepala BPOM Penny K Lukito, hasil uji klinik dari Coronavac PT Bio Farma menunjukkan bahwa pemberian vaksin ini sebagai booster menimbulkan reaksi lokal atau efek samping seperti nyeri pada lokasi suntikan.

Baca Juga :  Menteri Agama Sebut Pelaksanaan Umroh Bukan Dihentikan Melainkan Kebijakan Satu Pintunya

“Umumnya tingkat keparahannya grade satu dan dua,” kata Penny dalam konferensi pers secara virtual, Senin.

Vaksin Coronavac diberikan sebagai vaksin booster yang bersifat homologus atau sejenis dengan vaksin primer atau dosis pertama dan kedua.

Penggunaan vaksin ini diberikan sebanyak satu dosis untuk usia 18 tahun ke atas.

“Imunogesitas menunjukkan peningkatan titer antibodi netralisasi hingga 21 sampai 35 kali setelah 28 hari pemberian vaksin booster ini pada dewasa,” ujarnya.

2. Pfizer

Hasil uji klinik dari vaksin Pfizer menunjukkan bahwa penyuntikan vaksin tersebut menimbulkan efek samping bersifat lokal seperti nyeri di tempat suntikan, nyeri otot, demam, dan nyeri sendi.

“Imunogesitas menunjukkan peningkatan nilai rata-rata titer antibodi netralisasi setelah 1 bulan sebesar 3,3 kali,” ucapnya.

Adapun sebagai vaksin booster, vaksin Pfizer bersifat homologus atau pemberiannya untuk vaksin sejenis pada dosis pertama dan kedua.

“Diberikan sebanyak 1 dosis minimal setelah 6 bulan dari vaksinasi primer untuk usia 18 tahun ke atas,” kata Penny.

3. Astrazeneca

Hasil uji klinik dari vaksin AstraZeneca menunjukkan, efek samping dari penyuntikan vaksin tersebut bersifat ringan (55 persen) dan sedang (37 persen).

Baca Juga :  Awas! ETLE Mobile Bakal Difungsikan Selama Nataru

Sama seperti Pfizer, vaksin AstraZeneca bersifat homologus atau pemberiannya untuk vaksin sejenis pada dosis pertama dan kedua. “Imunogesitas nya menunjukkan peningkatan nilai rata-rata titer antibodi dari 1.792 menjadi 3700,” kata Penny.

4. Moderna

Vaksin Moderna bisa diberikan sebagai vaksin booster yang sifatnya homologus atau sejenis dan heterologus atau jenis vaksin yang berbeda dari vaksin dosis satu dan dosis kedua.

Penny mengatakan, respons titer antibodi netralisasi dari vaksin Moderna sebesar 13 kalinya, setelah dosis booster dan pada usia dewasa 18 tahun ke atas.

“Untuk heterologusnya moderna adalah untuk vaksin primernya adalah AstraZeneca, Pfizer, Johnson and Johnson dengan dosis setengah,” ucap dia.

5. Efek Samping Vaksin Booster Zifivax

Vaksin Zifivax bisa diberikan sebagai vaksin booster yang bersifat heterologus untuk vaksin Sinovac dan Sinopharm.

Adapun respons titer antibodi netralisasi meningkat lebih dari 30 kali pada subjek usia dewasa. (Adinda)

Kanal Terkait