Ecoprint, Batik Ramah Lingkungan yang Jadi Peluang Bisnis Warga Kediri - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Ecoprint, Batik Ramah Lingkungan yang Jadi Peluang Bisnis Warga Kediri
Agus Praptina bersama produk batik ecoprintnya (Foto: Anis Firmansah/ Satukanal.com)
BERITA Kanal Highlight Kanal Pesona

Ecoprint, Batik Ramah Lingkungan yang Jadi Peluang Bisnis Warga Kediri

Satukanal.com, Kediri – Penggunaan warna batik kain secara alami atau disebut ecoprint, kini menjadi peluang bisnis bagi warga Kediri. Dalam rentang waktu satu bulan, permintaannya mampu mencapai 100 lembar kain.

Agus Praptina, warga Perumahan Candra Bhirawa Kecamatan Ngasem Kabupaten Kediri sebagai salah satu pelaku bisnis ecoprint, mengaku hasil produk tersebut nantinya, digunakan untuk berbagai kebutuhan konveksi. Seperti, kemeja, baju gamis, taplak meja, dan sajadah.

“Harganya pun juga bervariasi, untuk kain batik ecoprint ukuran 2 x 1,15 meter dijual seharga Rp 350 ribu, untuk sajadah Rp 100 ribu,” ungkap ibu rumahtangga yang akrab disapa Bu Seno itu.

Baca Juga :  Ramai! Temuan Burung Merak di Kediri, BKSDA Bakal Telusuri Habitatnya

Dia mengungkapkan, batik ecoprint mulai dikenal di Indonesia sejak tahun 2016, dengan memanfaatkan bahan pewarna alami seperti daun, batang, bunga, dan kulit tumbuhan yang didapat disekitarnya.

Agus Praptina memanfaatkan dedaunan untuk motif batiknya (Foto: Anis Firmansah/ Satukanal.com)

Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa pelaku usaha pembuatan batik ecoprint masih sedikit, sehingga dinilainya peluang usaha ini masih terbuka luas. Bu Seno menyampaikan, usaha pembuatan ecoprint ramah linkungan miliknya tersebut ia mulai sejak tahun 2017.

Menurutnya, cara membuat ecoprint terbilang cukup mudah. Kain yang sudah dibersihkan dari lilin direndam. Kemudian, dibentangkan. Lalu, daun ditata sesuai motif yang diinginkan. Selanjutnya, ditutup dengan kain dan dibungkus dengan plastik.

Baca Juga :  Ngotot Berjualan, PKL Meluber di Trotoar Kawasan Utara SLG

Proses selanjutnya yakni kain dan plastik digulung dan diikat. Kemudian, dikukus selama dua jam.  Lalu, kain diangkat dan diangin-anginkan selama 4 hingga 5 hari.

“Pengerjaan dibantu oleh 1 karyawan. Dalam sebulan mampu menjual 50 hingga 100 potong kain,” ucap Bu Seno.

Dengan memanfaatkan bahan pewarna alami, produk buatannya itu sangat diminati pasar hingga keluar kota. Penjualan dilakukan melalui offline pameran, maupun online di media sosial.

“Peminatnya dari Kediri dan sekitarnya, Malang, Surabaya, Madiun, Banjarmasin, Dan Jakarta,” tutupnya.

Pewarta : Anis Firmansyah
Editor : Adinda

    Kanal Terkait