SATUKANAL.COM
E-Money Bikin Bank di Indonesia Merugi?
Sumber: theaseanpost.com
BERITA HIGHLIGHT ISU PILIHAN RISET

E-Money Bikin Bank di Indonesia Merugi?

SATUKANAL – Standard and Poor (S&P) Global Market Intelligence baru-baru ini merilis laporan perdana tentang pertumbuhan uang elektronik (e-money) di Asia Tenggara. Hasilnya, ditemukan bahwa jumlah transaksi e-money di kawasan ini meningkat lebih dari 31 persen pada tahun 2018.

Laporan yang berjudul Pasar E-Money Asia Tenggara 2019 tersebut melibatkan ASEAN 5, yakni lima negara yang meliputi Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, dan Thailand. Dari kelimanya, Indonesia dan Filipina menunjukkan potensi pertumbuhan terbesar untuk e-wallet non-bank.

Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa e-money telah menggeser kartu debit dan kredit sebagai metode pembayaran yang berlaku di Asia Tenggara, dengan lebih dari 10 miliar transaksi agregat pada tahun 2018.

Dari lebih dari 10 miliar transaksi e-money di Asia Tenggara tahun lalu, 34 persen terjadi di Singapura. Angka ini menjadikan Singapura sebagai pusat transaksi tanpa uang tunai terbesar di kawasan ini.

Meski demikian, Indonesia mendorong pertumbuhan e-money di wilayah ini. S&P Global Market Intelligence memperkirakan bahwa pangsa e-wallet dari total volume uang elektronik di Indonesia tumbuh menjadi 36 persen pada 2018 dari kurang dari 10 persen pada 2017.

“Jumlah transaksi e-money di negara-negara ASEAN-5 melebihi 10 miliar secara agregat pada tahun 2018 dan tumbuh lebih dari 31 persen pada tahun 2018. Popularitas instrumen ini melampaui kartu debit dan kartu kredit di kawasan ini,” demikian kutipan laporan tersebut.

Jumlah transaksi tanpa uang tunai di Indonesia naik menjadi lebih dari dua miliar pada tahun 2018, terhitung sekitar 20 persen dari total 10 miliar transaksi di Asia Tenggara.

Baca Juga :  Turis China Jarang ke Malang, Sektor Pariwisata Tak Terdampak Pembatasan

Tinjauan S&P Global Market Intelligence tentang tren pembayaran dan infrastruktur yang mendasarinya juga menunjukkan bahwa dompet elektronik yang dijalankan oleh non-bank memiliki potensi pertumbuhan tertinggi di Indonesia dan Filipina.

“Tumbuhnya ketidakcocokan antara ketersediaan tinggi smartphone dan perbankan yang rendah dalam ekonomi tunai menciptakan potensi untuk penyerapan e-wallet yang kuat,” tambah laporan itu.

Sebelumnya pada bulan Mei tahun 2019, firma riset pasar Canalys menyebut Indonesia sebagai pasar dengan pertumbuhan tercepat untuk smartphone di Asia Tenggara. Pasar ponsel pintar di Indonesia tumbuh 20 persen sepanjang tahun, didorong oleh gaya hidup masyarakat dan ekonomi yang tumbuh.

Menurut We Are Social, ada 355,5 juta langganan seluler di Indonesia (133 persen dari total populasi) per Januari 2019. Jumlah yang lebih tinggi bisa disebabkan oleh kenyataan bahwa beberapa pengguna memiliki lebih dari satu smartphone.

Menurut laporan itu, berdasarkan jumlah transaksi, pangsa pasar e-wallet di keseluruhan ruang e-money di Indonesia sebagian besar didorong oleh Go-Pay e-wallet yang tertanam dalam aplikasi ride-hailing, Go-Jek.

Layanan ride-hailing di Indonesia, nilai Go-Jek telah diperkirakan mencapai US $ 10 miliar oleh perusahaan intelijen pasar Amerika Serikat (AS), menempatkannya dalam jajaran perusahaan pemula yang dikenal sebagai decacorn.

CB Insights yang berbasis di New York telah mendaftarkan Go-Jek di antara 19 decacorn di seluruh dunia, bersama dengan orang-orang seperti Uber Technologies Inc. yang kedua di Asia Tenggara setelah layanan ride-hailing saingan, yaitu Grab.

Baca Juga :  Rekom Partai Mahal, Mantan Wakil Wali Kota Blitar Akhirnya Pilih Jalur Independen

Laporan S&P memperkirakan bahwa Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia dan Bank Central Asia secara kolektif memiliki 67 persen pangsa pasar uang elektronik di Indonesia pada tahun 2018, yang diukur dengan volume transaksi.

Namun, cengkeraman tiga bank di pasar dapat dipatahkan oleh Go-Jek’s Go-Pay serta platform pembayaran, Ovo.

“Dalam dua tahun sejak diluncurkan, e-wallet Go-Pay menyumbang lebih dari 26 persen dalam transaksi e-money pada tahun 2018, menurut perkiraan kami. E-wallet Ovo telah muncul sebagai pesaing kuat lainnya untuk memimpin pasar e-money di Indonesia berkat kemitraannya dengan perusahaan ride-hailing, perusahaan Grab dan e-commerce, Tokopedia. “

Laporan tersebut juga mencatat bahwa tren terbaru menunjukkan bahwa non-bank telah muncul sebagai penyedia uang elektronik yang dominan di Indonesia. Nilai beredar dana dalam rekening e-money yang dimiliki oleh non-bank menyumbang 36,4 persen dari total nilai uang beredar pada akhir 2018, tetapi persentase itu tumbuh menjadi 54,6 persen pada Agustus 2019.

“Sementara bank-bank menyumbang lebih dari 67 persen dari penggunaan uang elektronik, berdasarkan pada jumlah transaksi, kami mengharapkan bank-bank untuk menyerahkan dominasinya kepada bukan bank pada tahun 2019.”

Dengan populasi Indonesia yang besar dan sebagian besar muda, pelukan smartphone dan ekonomi tunai, perkiraan S&P mungkin tepat.

Pewarta: (Mg) Amalia Nurin Nisa’
Redaktur: N Ratri
Sumber: theaseanpost.com

Kanal Terkait