dr Yosephine Pratiwi, Sosok Penolong Pasien Penyakit Kronis Kurang Mampu Hingga Biayai BPJSnya - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
dr Yosephine Pratiwi, Sosok Penolong Pasien Penyakit Kronis Kurang Mampu Hingga Biayai BPJSnya
dr Yosephine Pratiwi bersama dengan para pasiennya (Foto: Wildan Agta/ Satukanal.com)
BERITA Kanal Figur

dr Yosephine Pratiwi, Sosok Penolong Pasien Penyakit Kronis Kurang Mampu Hingga Biayai BPJSnya

Meski tidak berlatar belakang medis, dr Yosephine Pratiwi memiliki keinginan kuat untuk mendedikasikan hidupnya pada pasien kurang mampu. Melalui klinik yang ia dirikan, ia berhasil mengobati banyak pasien yang memiliki keterbatasan biaya. Hingga biayai BPJS Kesehatan para pasien. 

Satukanal.com, Malang – Wildan Agta

Sebuah klinik yang terletak di Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso sudah terlihat padat pagi itu. Beberapa orang yang didominasi oleh wanita mengantri dengan duduk tenang di ruangan tunggu. Mereka nampak menggenakan masker sebagai salah satu standar protokol kesehatan (prokes) di masa pandemi Covid-19.

Langit mendung disertai gerimis tak menghentikan arus kedatangan pasien. Mencari kesembuhan di tengah pandemi yang masih mewabah menjadi harapannya. Dari sebuah ruangan muncul seorang perempuan berkulit putih, menggunakan face shield. “Mari mas, didalam ruangan saya atau bagaimana?,” tanyanya.

Ia adalah dr Yosephine Pratiwi, seorang dokter yang banyak mendedikasikan hidupnya untuk pasien kurang mampu. Meski terlahir dari keluarga yang tidak menggeluti dunia medis. Tapi ketertarikannya menjadi dokter sudah muncul sejak dini.

Pada saat ditemui tim Satukanal.com, Ia mengatakan jika dulu sering terenyuh ketika melihat orang sakit. Rasa ingin menolong tumbuh seiring dengan simpati yang memuncak. Meski tidak berlatar belakang medis, ayahnya pada saat ia kecil juga sering mengobati warga sekitar dengan tanaman herbal.

“Jadi beliau dulu menanam banyak tanaman obat. Kalau ada yang sakit akan dibuatkan ramuan gitu,” ucapnya. Namun, beberapa tahun kemudian ayah Pratiwi sapaan akrabnya meninggal lantaran kanker stadium 4.

Keinginan mengobati orang semakin tumbuh karena tak mau melihat orang lain bernasib sama. Maka dari itu, dia memutuskan untuk menempuh program studi kedokteraan di Universitas Wijaya Kusuma, Surabaya.

Baca Juga :  Arfan Adhi, Sineas yang Bertekad Populerkan Malang Lewat Film Berbahasa Kiwalan

Ada cerita unik dalam perjalanannya menempuh perguruan tinggi. Di semester akhir dia mengaku bosan dan ingin mengambil jurusan hukum di Universitas Yos Sudarso, Surabaya.

“Saya waktu itu nganggur, karena juga tidak punya pasangan kalau keluar sama teman sering jadi obat nyamuk. Jadi dari pada seperti itu, saya kuliah lagi saja,” paparnya sambil tertawa.

Orang tuanya pun tidak mengetahui jika sang buah hati menempuh kuliah lain selain kedokteran. Ia mengaku biaya selama perkuliahan juga ditanggungnya sendiri dari uang saku.Uang saku yang rutin diberikan orang tua disisihkannya untuk menutup biaya kuliah dan kehidupan.

“Orang tua tuanya saat saya sudah lulus, ya mereka pasti kaget,” imbuh wanita asal Jombang ini.

Takdir pun membawanya ke Kota Dingin, tepatnya Krangploso. Sejak membuka klinik sendiri, sudah banyak orang yang berhasil ia tolong. Berbagai pasien dengan penyakit akut seperti kanker kronis, usus bocor dan lain-lain sudah banyak ditanganinya.

Apalagi pasien dengan latar belakang kurang mampu. Bahkan, Pratiwi sering membuatkan sekaligus membiayai Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS). Ia mengatakan alasannya banyak menolong orang lantaran sering membayangkan ketika dirinya yang berada di posisi tersebut.

Menangani pasien di klinik pribadinya juga biasa ia lakukan gratis untuk pasien yang kurang mampu. Terbukti meski gratis, hampir setiap pasien merasakan dampak membaik usai melewati penanganannya. Pemberian sugesti positif menjadi kuncinya.

Baca Juga :  Sutiaji: PPKM Darurat Satu Putaran, Jika Warga Patuh

“Untuk penyakit berat seperti kanker paliatif, kanker stadium 4 atau yang lain, pemberian semangat jadi hal terpenting. Karena mereka biasanya drop usai mengetahui vonis dokter,” kata ibu dua anak ini.

Menurutnya, keluarga pasien kebanyakan kurang memberi support positif. Padahal meskipun kemungkinan hidup hanya 5 persen, itu masih bisa tertolong. Keajaiban yang diberikan Sang Pencipta tentu tidak bisa diremehkan. Berangkat dari itu, ia membuat grup WhatsApp yang berisi mantan ataupun pasiennya kini.

Tujuannya, agar mereka bisa saling support dan menunjukan bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. “Dengan mengetahui sosok yang berhasil sembuh, maka akan menjadi nyawa kedua bagi pasien. Tentu tetap dibarengi dengan obat dan pola makan yang baik,” ungkapnya.

Perkembangan zaman yang berimbas pada kemudahan berkomunikasi juga menguntungkannya. Perempuan kelahiran 18 Maret 1986 itu bisa mengatur pola makan dan asupan pasien dengan teratur. Akses untuk mendapatkan penanganan rumah sakit juga kerap kali diberikannya.

Adanya kasus penolakan pasien saat ingin berobat menjadi tonggak awalnya. Dia memaparkan sering membuat surat berisi tentang permintaan untuk menerima pasien yang ditolongnya. Pemberdayaan pasien kurang mampu juga dilakukannya.

Ia biasa memasarkan produk olahan makan maupun usaha pasiennya melalui media sosial dan selembaran yang ditempel di kliniknya. “Agar mereka tetap bisa berpenghasilan. Karena ada beberapa pasien saya yang dengan penyakit parah juga tinggal sebatang kara. Selagi saya mampu, akan saya bantu,” terangnya.

 

 

 

Pewarta : Wildan Agta
Editor : Redaksi Satukanal

Kanal Terkait