Dongkrek, Kesenian Unik Penolak Bala Dari Madiun - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Dongkrek, Kesenian Unik Penolak Bala Dari Madiun
BERITA HIGHLIGHT STRAIGHT NEWS

Dongkrek, Kesenian Unik Penolak Bala Dari Madiun

SATUKANAL.com, MADIUN– Berbicara mengenai kesenian budaya yang ada di Indonesia tentu tidak ada habisnya. Salah satunya yakni kesenian Dongkrek Madiun. Kesenian ini berasal dari Desa Mejayan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur.

Kesenian dongkrek merupakan salah satu jenis kesenian di Kabupaten Madiun yang sudah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda di Indonesia. Sebagai warisan budaya lokal, kesenian dongkrek menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat pendukungnya.

Kesenian Dongkrek pada dasarnya adalah kesenian berupa tarian dengan iringan musik yang digunakan sebagai media penolak bala. Kesenian Dongkrek memadukan seni tari, seni, musik, seni topeng dan seni-seni pertunjukkan dengan arak-arakan keliling kampung yang melibatkan masyarakat untuk turut menari dan tak hanya menonton.

Istilah Dongkrek sendiri tercipta karena salah satu alat musik pengiringnya mengeluarkan suara ‘krek’ yang mana alat musik ini disebut sebagai korek. Selain suara dari alat musik korek, suara’dung’ yang dihasilkan dari alat musik bedug juga menjadi pengiring tarian dongkrek. Suara ‘dung’ dan ‘krek’ inilah yang kemudian menjadi asal usul mengapa kesenian ini disebut sebagai kesenian Dongkrek. Namun, seiring berkembangnya zaman kesenian dongkrek juga menggunakan alat musik lain seperti gong, kenung hingga kentongan.

Dalam kesenian ini terdapat tiga karakter yaitu Genderuwo yang mengganggu masyarakat (pageblug), warga masyarakat yang digambarkan sebagai dua perempuan (Roro Ayu dan Roro Perot), dan pemimpin atau tokoh masyarakat (Palang). Ketiganya memakai topeng dengan ciri khas sesuai watak masing-masing karakter. Dalam pementasannya sendiri, Dongkrek bisa bersifat sakral dan juga bisa bersifat sebagai hiburan saja, tergantung dengan tujuan dari pementasan Dongkrek itu sendiri.

Kesenian Dongkrek awalnya tercipta pada sekitar tahun 1867 pada masa kepemimpinan Raden Ngabehi Lho Prawiradipuro sebagai kepala desa kala itu. Alhmarhum Ngabehi Lho Prawirodipuro pada masa itu menciptakan kesenian dongkrek untuk menenangkan masyarakatnya yang saat itu sedang menghadapi pageblug (wabah). Kala itu, Dongkrek menjadi media penolak bala yang biasanya dipertunjukkan pada waktu-waktu tertentu seperti saat memasuki tanggal 1 Muharam (Tahun Baru Islam).

Kesenian ini mengalami masa kejayaan pada rentang tahun 1867-1902. Pada awal kemunculannya, Dongkrek berkembang cukup pesat dan banyak disukai oleh masyarakat. Tetapi, kepopuleran Dongkrek juga mengalami pasang surut seiring dengan perkembangan dinamika politik yang ada di Madiun.

Kesenian ini sempat dilarang untuk dipertunjukkan pada masa pemerintah Belanda. Pemerintah Belanda takut jika kesenian Dongkrek terus berjalan akan menjadi kekuatan masyarakat untuk melawan pemerintah Belanda. Melansir dari Kemdikbud, saat masa kejayaan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madiun, kesenian ini dikesankan sebagai kesenian “genjer-genjer” yang dikembangkan PKI untuk memperdaya masyarakat umum. Sehinga kesenian dongkrek mengalami masa pasang surut akibat imbas politik.

Meski saat ini kepopuleran Dongkrek menurun, Kesenian ini memiliki makna yang sangat kuat dengan keunikan tersendiri dan sejarah yang sangat panjang. Selain karena pementasan Dongkrek yang monoton yang membuat masyarakat bosanm. Perkembangan zaman juga  menjadi salah satu penyebab menurunnya eksistensi budaya lokal seperti kesenian Dongkrek ini.

 

 

 

Pewarta: Adinda
Editor: Redaksi Satukanal

 

 

Sumber: https://sdm.data.kemdikbud.go.id/upload/files/Kesenian_Dongkrek.pdf, https://brisik.id/, https://surabaya.liputan6.com/

Kanal Terkait