Ditolak Dua Kali oleh Wanita, Ini Kisah Cinta Nabi Muhammad SAW - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
BERITA

Ditolak Dua Kali oleh Wanita, Ini Kisah Cinta Nabi Muhammad SAW

Kisah cinta selalu menampilkan dua wajah yang bertolak belakang. Satu sisi menampilkan penerimaan atas curahan kasih dan sayang. Di sisi lainnya adalah penolakan. Hal ini menjadi bentuk ‘takdir’ dalam kisah cinta setiap manusia di dunia.

Tak terkecuali yang menimpa manusia suci Nabi Muhammad SAW. Dia juga pernah mengalami kisah penolakan saat dirinya menyatakan cintanya kepada seorang perempuan. Bahkan, Nabi Muhammad SAW bukan hanya sekali ditampik lamarannya, tapi sampai dua kali, oleh seorang perempuan yang sama yang bernama Fakhitah atau Ummu Hani’.

Buku Martin Lings, Muhammad: His Life Based on The Earliest Sources yang diterjemahkan oleh Qomaruddin SF Muhammad (2013) dan Muhammad ibn Saad dalam Kitab al-Tabaqat al-Kabir, vol. 8. Translated by Bewley, A. (1995), The Women of Madina menceritakan bagaimana Muhammad sebelum menjadi nabi dan rasul Allah pernah mengalami penolakan dari Fakhitah yang dicintainya.

Siapakah Fakhitah atau Ummu Hani’ yang menolak cinta Muhammad sampai dua kali serta membuat Rasulullah harus mengikhlaskan perasaannya yang tidak gayung bersambut atau bertepuk sebelah tangan tersebut? Ummu Hani’ adalah salah satu anak Abu Thalib. Ummu Hani’ adalah sepupu sekaligus teman masa kecil Nabi Muhammad SAW sampai akhirnya remaja. Ummu Hani’ juga perempuan yang membuat hati Muhammad merasakan cinta kali pertama.

Rasa cinta Muhammad kepada Ummu Hani’ inilah yang membuatnya memberanikan diri mengungkapkan perasaannya tersebut dengan melamar pujaan hatinya kepada Abu Thalib.
Ternyata, Abu Thalib dengan lembut menolak permintaan keponakannya tersebut. Pasalnya, Ummu Hani’ telah dilamar terlebih dahulu oleh seorang laki-laki bernama Hubayroh dari Bani Makhzum.

Tidak patah arang, Nabi SAW terus berusaha membujuk pamannya untuk menikahkan putrinya kepada beliau. Tapi dengan halus, Abu Thalib menolaknya karena lelaki yang telah melamar putrinya, selain dari bani yang sama dengan ibunda Rasulullah, juga karena klan Hubayroh pernah menikahkan putri mereka dengan salah seorang dari kabilah Abu Thalib. Sehingga, untuk menjaga hubungan baik, kabilah Abu Thalib membalas perlakuan itu

“Maka, seseorang yang baik haruslah membalas kebaikan yang sama dengan apa yang telah mereka berikan kepada kita,” kata Abu Thalib.

Ummu Hani’ pun akhirnya menikah dengan Hubayroh dan tertutup sudah kesempatan Nabi Muhammad SAW menikahi perempuan yang telah mengusik hatinya selama ini tersebut.

Cinta pertama yang kandas dibalas Allah dengan pilihan jodoh terbaik dan mulia bagi Nabi Muhammad SAW, yaitu Khadijah radhiyallahu ‘anha.

Tapi, cinta pertama nabi terhadap Fakhitah, yang kemudian dikaruniai 4 anak bersama Hubayroh dan tinggal di Makkah, kembali melahirkan kisah, seperti dijelaskan dalam kitab Al-Ishobah serta dituturkan oleh @balqis_sidiqia dalam akun pribadi Twitter-nya. Setelah Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi rasulullah dan terjadi peristiwa Fathu Makkah, banyak orang yang berbondong-bondong masuk Islam. Suami Ummu Hani’ tidak mau ikut masuk Islam. Suku Quraisy menentang dan melakukan boikot kepada rasulullah. Akhirnya rasulullah diwahyukan untuk berhijrah dari Makkah ke Madinah.

Saat Rasulullah Muhammad kembali ke Makkah, banyak manusia berbondong-bondong masuk Islam. Tak terkecuali Ummu Hani’, walaupun sang suami tetap tidak bersedia masuk Islam dan melarikan diri ke Najran. Ummu Hani’ pun akhirnya memilih menjadi janda dengan keyakinan dan keimanannya memeluk Islam sampai akhir hayatnya.

Rasulullah pun setelah wafatnya Khadijah dan merasakan kesedihan kerap mendapat penghiburan dari keluarga Ummu Hani’. Bahkan di rumah Ummu Hani’ Malaikat Jibril turun dan datang menjemput Rosulullah dalam peristiwa Isra Miraj.

Sebelumnya Muhammad datang ke rumah Ummu Hani’, melakukan salat malam lalu tidur di sana. Perjalanan satu malam menuju Jerusalem dan Sidratul Muntaha dimulai. Saat fajar tiba, Nabi pun kembali ke tempat yang sama. Kemudian Nabi Muhammad mengabarkan Ummu Hani’ tetang perjalanannya. Ia pun mengimani sabdanya.

Setelah masa berduka berlalu itulah, rasulullah kembali untuk meminang Ummu Hani’. Seorang rasul Allah yang terjaga kesuciannya melamar pujaan hatinya. Ini untuk kali kedua.

Tapi, lamaran tersebut sama dengan saat pertama Rasulullah meminta kepada pamannya untuk menikahkan putrinya. Kali ini Ummu Hani’ sendiri yang dengan halus menolak lamarannya.
“Sesungguhnya aku ini seorang ibu dari anak-anak yang membutuhkan perhatian yang menyita banyak waktu. Sementara aku mengetahui betapa besar hak suami. Aku khawatir tidak akan mampu untuk menunaikan hak-hak suami,” ucap Ummu Hani’ saat menolak lamaran rasulullah.

Penolakan Ummu Hani’ sebenarnya bukan karena perkara lainnya. Tapi lebih pada ketakutannya bila dirinya menjadi istri rasulullah. Ummu Hani’ khawatir dia dan anak-anaknya mengganggu penyebaran agama Islam yang dilakukan rasulullah. Muhammad pun menerima penolakan Ummu Hani’ yang kedua tersebut tanpa adanya kemarahan dan kebencian. Bahkan Nabi menyampaikan: “Sebaik-baik wanita penunggang unta adalah wanita Quraisy, sangat penyayang terhadap anak-anaknya.”

Betapa lembut balasan rasulullah dan betapa baiknya contoh yang beliau tinggalkan untuk umatnya walaupun dua kali nabi merasakan kegagalan untuk melamar dan menjadikan Ummu Hani’ sebagai istrinya.

Kanal Terkait