Deretan Film Indonesia yang Dilarang Tayang di Negara Sendiri - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Deretan Film Indonesia yang Dilarang Tayang di Negara Sendiri
Foto: Piqsels
BERITA Kanal Artikel

Deretan Film Indonesia yang Dilarang Tayang di Negara Sendiri

Satukanal.com, Nasional- Film-film Indonesia kini semakin berkembang dengan kualitas yang tak kalah dari film luar. Meski begitu, ada film yang dilarang tayang di negara sendiri bahkan dicekal meski film tersebut diproduksi oleh sineas asli Indonesia.

Dari sekian banyak film yang pernah dirilis, terdapat film-film yang dilarang beredar di bioskop karena beberapa alasan. Mulai dari adanya unsur SARA, menyinggung seseorang, kelompok ataupun lembaga, adegan vulgar atau pelecehan seksual yang sangat brutal hingga hal lainnya yang sensitif untuk dikonsumsi masyarakat.

Lantas, apa saja film yang dilarang tayang di negara sendiri meski telah mendapat berbagai penghargaan yang membanggakan? Untuk penjelasan lengkapnya, berikut ulasannya:

1. Jagal (2012)

Film Jagal menjadi satu dari sekian banyak film yang dilarang tapil di bisokop Indonesia. Film yang dirilis pada tahun 2012 ini mengangkat tema pembantaian massal pada tahun 1965. Film Jagal merupakan karya dari Joshua Oppenheimer, seorang pria berkebangsaan Amerika Seikat.

Diceritakan dalam film ini mengenai eksekusi massal yang keji dan brutal, dimana eksekusi massal tersebut dialkukan oleh sejumlah algojo sekitar pada tahun 1965 sampai 1966. Meskipun dilarang tayang di bioskop tanah air, film yang juga dikenal dnegan judul The Act Of Killing ini berhasil meraih banyak penghargaan.

Beberapa penghargaan yang diraih diantaranya adalah Film Dokumenter Terbaik di British Academy Film and Television Arts Awards 2013, hingga masuk nominasi Film Dokumenter Terbaik pada Academy Awards ke-86.

2. Senyap (2014)

Deretan berikutnya yakni Film Senyap. Film Senyap jugatermasuk dalam film kontroversial Indonesia yang dilarang tampil di bioskop tanah air. Disutradarai oleh orang yang sama dari Film Jagal yakni Joshua Oppenheimer, cerita dari film Senyap juga hampir  sama dengan Jagal, tentang eksekusi massal.

Baca Juga :  Hati-Hati! Ini Ciri Pinjol Ilegal yang Perlu Diwaspadai

Perbedannya terletak pada wkatu yang dipilih. Film Senyap lebih menceritakan kejadian setelah eksekusi tahun 1965 hingga 1966 tersebut dengan fokus utama pada tokoh yang bernama Adi. Adi ini merupakan salah satu orang ang selamat atas kejadian perburuan tersebut.

Sama halnya dengan film sebelumnya, Film Senyap juga dilarangtayang dikarenakan tema yang dimabil oleh film ini yakni masih berhubungan dengan peristiwa G30S.

3. Salawaku (2017)

Film berikutnya yang tidak boleh tayang yakni Salawaku. Alasannya bukan karena muatan yang terkandung di dalam film ini seperti dua film sebelumnya ataupun unsur sensitif seperti yang telah disebutkan.

Akan tetapi, film ini dinilai tidak layak tayang karena diproduksi oleh rumah produksi yang tidak dikenal dan tergolong baru. Tak hanya itu, alasan lainnya yakni karena sutradaranya baru pertama kali menggarap film. Dirilis pada tahun 2015, film Salawaku yang diproduksi Kamala Films ini, ditolak oleh salah satu jaringan bioskop Indonesia.

Mesksi begitu, perjalanan film ini tidak sampai di situ dan menyerah begitu saja. Film yang dibintangi oleh Karina Salim ini, bertekad untuk bisa memutarkan filmnya di bioskop. Akhirnya, film ini dibawa keliling dunia dan diputar pertama kali di Tokyo International Film Festival (TIFF) 2016.

Tidak hanya itu, Salawaku juga mendapatkan penghargaan di Piala Dewantara kategori “Film Cerita Panjang Bioskop”, dalam Apresiasi Film Indonesia (AFI) 2016. Berkat kualitas cerita serta banyak mendapatkan penghargaan, film ini akhirnya berkesempatan tampil di bioskop Indonesia pada tahun 2017.

Baca Juga :  Waspada Gelombang 3 Covid-19, Pemerintah Ungkap Telah Susun Strategi

4. Something in the way (2013)

Meski judulnya terdengar bukan seperti film Indonesia, Something in the way‘ ternyata merupakan salah satu film kontroversial Indonesia yang dilarang tampil di bioskop Tanah Air. Diperankan oleh Reza Rahadian dan Ratu Felisha, film ini dilarang tayang karena mengandung unsur seksualitas dan konflik iman seseorang.

Meski tidak boleh tayang di bioskop lokal, film ini ternyata berhasil tayang di Berlin, Jerman. Disutradarai oleh Teddy Soeraatmadja, film ini menceritakan tentang seorang pria yang bekerja sebagai sopir taksi, bernama Ahmad. Ahmad merupakan seorang pria yang pekerja keras dan supel. Namun, suatu saat ia dihadapkan dengan intrik kehidupan, dimana sangat menguji iman dan kebutuhan biologis.

5. Siti (2014)

Film Siti sempat menjadi bahan perbincangan lantaran menyabet penghargaan film terbaik Festival Film Indonesia (FFI) 2015 padahal belum tayang komersil di bioskop Indonesia. Siti, film garapan Eddie Cahyono ini memotret kehidupan perempuan yang harus menjadi pemandu karaoke kelas bawah di sekitar Parangtritis Yogyakarta.

Saat Siti bekerja sebagai pemandu karaoke, suaminya Bagus merasa keberatan dan tak mau berbicara kepadanya. Siti pun frustasi dan bimbang hingga seorang polisi hadir dalam kehidupannya, bahkan mengajaknya menikah.

Sempat tak ditayangkan di bioskop Tanah Air. Namun karena menang sebagai film terbaik FFI 2015, film ini akhirnya ditayang di bioskop. Sebelumnya, film hitam putih ini telah meraih penghargaan sebagai sinematografi terbaik dan naskah film terbaik untuk kategori New Asia Talent Competition di Festival Film Internasional Shanghai 2015.

 

Pewarta : Adinda

Kanal Terkait