Daur Ulang Sampah Jadi Produk Bernilai Ekonomi, Strategi DLH Kota Batu Tekan Volume Sampah Hingga 25 Persen - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Daur Ulang Sampah Jadi Produk Bernilai Ekonomi, Strategi DLH Kota Batu Tekan Volume Sampah Hingga 25 Persen
BERITA HIGHLIGHT STRAIGHT NEWS

Daur Ulang Sampah Jadi Produk Bernilai Ekonomi, Strategi DLH Kota Batu Tekan Volume Sampah Hingga 25 Persen

Satukanal.com, Batu – Sehubung arahan Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko, yang menargetkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu untuk menekan volume sampah. Kini DLH Kota Batu telah merancang skema baru tata kelola persampahan untuk mengurangi volume sampah.

Skema tersebut disiapkan karena program pilah sampah dari rumah dinilai kurang maksimal dalam mengurangi volume sampah. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tlekung, Junrejo, Kota Batu setiap hari menampung sampah rata-rata sebesar 90 ton.

Volume sampah yang terus bertambah secara masif tersebut mengakibatkan lahan di TPA Tlekung overload. Untuk mengurangi kelebihan muatan sampah di wilayah Kota Batu, Wali Kota Batu menargetkan DLH untuk menekan volume sampah di TPA Tlekung sebesar 25 persen.

Target pengurangan sampah 25 persen telah tercantum dalam Perwali Kota Batu nomor 67 tahun 2018. Dalam regulasi tersebut mengatur tentang kebijakan dan strategi daerah (jakstrada) pengelolaan sampah rumah tangga dan sejenis rumah tangga.

“Tahun ini volume sampah di TPA Tlekung harus bisa turun sampai 25 persen. Semua pihak harus mendukung, tidak hanya DLH saja,” Ujar Dewanti.

Oleh sebab itu, kini Dewanti menghimbau kepada seluruh masyarakat Kota Batu agar mau memilah sampah rumahan. Jadi sampah yang sudah dipilah bisa dilihat mana yang bisa dimanfaatkan, sehingga sampah yang masih dapat dimanfaatkan tidak perlu sampai ke TPA Tlekung.

Dewanti juga menegaskan masyarakat untuk memanfaatkan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yakni kegiatan pengumpulan, pemilahan, penggunaan ulang, pendauran ulang, pengolahan, dan pemrosesan akhir sampah, sedangkan Tempat Pengolahan Sampah 3R (reduce, reuse, recycle) yang selanjutnya disebut TPS 3R yang ada di desa.

Baca Juga :  Strategi Jemput Bola Vaksinasi Lansia

Penerapan TPST 3R tersebut sangatlah membantu agar volume sampah di TPA bisa berkurang sejak dari rumah dan desa.

“Sampah di TPA Tlekung harus dikelola dengan baik. Harus ada peralatan yang mendukung agar sampah, sedimen hingga cairannya tidak menjadi polusi yang mencemari lingkungan hingga menjadi masalah bagi masyarakat,” Ungkapnya.

Dalam hal menekan volume sampah, Pemerintah Kota Batu sudah merencanakan untuk menambah lahan sampah di TPA Tlekung. Penambahan ini akan dilakukan seandainya memang dibutuhkan.

“Kita menyiapkan lahan untuk menambah ketika memang lahan di sana sudah tidak cukup. Lahan sampah di TPA Tlekung akan diperluas dengan menggunakan tanah di sebelah lahan yang ada sekarang,” Ujar Walikota Batu.

Kendati demikian upaya perluasan lahan TPA Tlekung tersebut, eksekusinya masih menunggu studi kelayakan yang dilakukan pihak DLH Kota Batu. Tujuannya, supaya bisa dinilai apakah lahan tersebut memang layak untuk digunakan atau tidak.

Sementara itu Aries Setiawan selaku Kepala DLH Kota Batu mengatakan bahwa, pengurangan volume sampah menjadi isu aktual yang masuk dalam program DLH Kota Batu. Perlu sistem tata kelola penanganan sampah agar target penekanan volume sampah terwujud.

Selain mengupayakan penekanan volume sampah, Aries juga menyampaikan bahwa sampah bisa memberikan nilai ekonomi. Sehingga, upaya mengatasi pengurangan sampah dengan menjadikan sampah sebagai sebuah produk atau karya yang memiliki nilai jual.

“Ketika pandemi ini semua sektor merosot perekonomiannya. Namun dari data KLHK sektor kelola sampah malah meningkat,” Ungkapnya.

Aries menyampaikan, pergerakan daur ulang sampah dapat menjadi produk yang memiliki nilai jual. Pemanfaatan sampah tersebut rupanya telah di mulai di beberapa desa di wilayah Kota Batu, dengan membuat bank sampah.

Baca Juga :  Keberangkatan Belum Pasti, 169 Calon Jemaah Haji Batu Jalani Vaksinasi Covid-19

“Sehingga jika ini dilakukan dengan masif, sampah bisa menjadi penggerak ekonomi juga. Kita akan berkolaborasi dengan bank sampah yang ada di desa dan kelurahan,” tandasnya.

Selain itu, DLH Kota Batu juga menyusun langkah berupa penjadwalan pengangkutan sampah yang dibawa oleh kendaraan pengangkut sampah. Lantaran program pilah sampah dari rumah masih belum memberi hasil yang memuaskan.

“Sampah organik akan diangkut pada hari Senin, Selasa dan Kamis. Karena sampah organik prosentasenya 60 persen. Sampah anorganik akan diangkut pada hari Rabu dan Sabtu. Sampah limbah B3 akan diangkut di hari Minggu,” Ujar Aries.

Pihaknya juga telah berhitung dengan ketersedian armada pengangkut sampah untuk mengubah trayek kendaraan pengangkut sampah. Jadwal pengangkutan sampah juga didasarkan pada perhitungan prosentase jenis sampah yang dihasilkan penduduk Kota Batu.

Strategi baru berupa penjadwalan pengangkutan sampah akan diawali dengan sejumlah tahapan. Tahap awal, sistem baru pengolahan sampah yang telah disusun DLH Kota Batu itu, akan dipaparkan melalui kelompok diskusi terarah. Kegiatan itu rencananya akan digelar pada Maret nanti dengan mengundang unsur-unsur pentahelix.

Setelah tahapan melalui kelompok diskusi terarah, kemudian dilanjutkan tahap sosialisasi hingga ke desa/kelurahan. Dari situ, akan dipilih tiga desa/kelurahan di tiga kecamatan Kota Batu sebagai proyek percontohan baru itu.

Uji coba ini dilakukan guna mengetahui dan mengevaluasi pelaksanaan sistem baru tersebut, terkait kelebihan dan kekurangannya. Apabila dari tahapan tersebut dirasa efektif, nantinya akan diimplementasikan secara menyeluruh agar volume sampah dapat berkurang.

 

 

 

 

 

Pewarta : Naviska
Editor : Redaksi Satukanal

Kanal Terkait