Dari Warga untuk Warga, Kampung Telolet Wujudkan Perkampungan Produktif - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Dari Warga untuk Warga, Kampung Telolet Wujudkan Perkampungan Produktif
Bapak-bapak dan lansia di Kampung Telolet ikut mengelola urban farming (Foto: Lutfia/ Satukanal.com)
BERITA Kanal Straight

Dari Warga untuk Warga, Kampung Telolet Wujudkan Perkampungan Produktif

Satukanal.com, Malang – Berada di gang sempit RT 12 Karangbesuki, Kampung Telolet bersama warganya tengah membentuk perkampungan produktif untuk menunjang ketahanan pangan warga setempat.

Beragam inovasi dengan memanfaatkan lingkungan sekitar dilakukan oleh warga Kampung Telolet. Mulai dari pengelolaan ikan nila, pemanfaatan limbah rumah tangga, hingga urban farming, menjadi perwujudan komitmen warga Kampung Telolet ini.

Sri Hartatik Wahyuni, Ketua PKK sekaligus penggerak urban farming Kampung Telolet menjelaskan limbah rumah tangga terutama plastik dikelola bersama para warga untuk dijadikan sesuatu yang bermanfaat.

“Sebelum pandemi sekitar tahun 2019 kita bergerak semampunya untuk mengelola limbah plastik yang disaring dari sungai menjadi paving, ecobrick, dan memanfaatkan bahan dari limbah minyak jelantah juga,” ujar perempuan yang akrab dipanggil Yuni pada Kamis (25/11/2021).

Parit-parit di Kampung Telolet yang diberi filter untuk menyaring sampah (Foto: Dok. Sri Hartatik Wahyuni)

Saat berkunjung ke Kampung Telolet, di sepanjang jalan kampung ini akan dijumpai parit yang digunakan untuk budidaya ikan nila. Pada parit tersebut terdapat filter air untuk menampung sampah yang tak sengaja hanyut dan mencegah ikan hilang terbawa aliran air.

Baca Juga :  Dukungan Psikososial bagi Anak-anak Terdampak Pandemi Covid-19

Untuk perawatan dan pengelolaan ikan-ikan, dilakukan oleh bapak-bapak yang telah pensiun serta para lansia di kampung tersebut agar tetap berkegiatan. Ikan yang telah dipanen akan dijual. Hasilnya, akan digunakan untuk budidaya kembali. Kemudian, untuk anakan ikan akan dipindahkan ke kolam tersendiri.

Menariknya, Kampung Telolet juga tengah memproduksi paving yang sepenuhnya berasal dari limbah plastik yang tersaring di parit. Pengolahannya dilakukan oleh Samsu bersama dengan warga setempat. Disebutkan, untuk pembuatan satu paving membutuhkan 2 kilogram plastik dan 1,5 liter oli atau minyak jelantah.

“Jadi kuwali kita panaskan lalu dikasih oli atau jelantah, kalau sudah panas tinggi plastik kita masukkan supaya lembut cair kaya minyak. Daripada plastiknya kita buang kan mendingan kita olah saja,” ujar Samsu ketika dijumpai di RT 12 RW 03 Karangbesuki.

Hasil paving dari limbah plastik tersebut, sampai saat ini hanya digunakan untuk Kampung Telolet saja. Belum sampai pada tahap pemasaran keluar kampung.

Produksi paving dari limbah plastik yang tersaring di parit.(Foto: Dok. Sri Hartatik Wahyuni)

Ia juga menjelaskan bahwa dengan memproduksi paving ini sangat efektif untuk mengurangi membeludaknya limbah plastik terutama di Kota Malang. Sayangnya, produksi paving ini harus terhenti sejenak. Sebab, lahan lapang yang awalnya digunakan untuk memproduksi paving tengah dialihkan untuk lahan urban farming.

Tidak hanya itu, Kampung Telolet juga mempunyai Bank Sampah yang dikelola oleh Kasiani, salah seorang warga RT 12 RW 03 Karangbesuki. Kasihani mengatakan, sampah yang dikumpulkan oleh warga akan dipilah untuk disetorkan ke Bank Sampah Pusat di Kota Malang.

Baca Juga :  Bambang Irianto dan Ambisinya Bangun Negeri dari Lorong Kampung

Total anggota yang ikut serta di Bank Sampah ini yakni 40 orang. Setiap satu tahun sekali, para anggotanya akan mendapatkan hasil dari menabung di Bank Sampah tersebut.

Selain disetorkan, kata Kasihani, sampah-sampah plastik ini juga dimanfaatkan oleh para ibu-ibu untuk membuat ecobrick.

“Limbah plastik yang sudah bersih dan kering nanti dipotong-potong lalu dimasukkan ke botol plastik. Nanti kita tekan-tekan pakai tongkat terus dikemas di rumah Bu Ana jadi kursi,” ungkapnya.

 

 

Pewarta : Lutfia
Editor : Adinda

Kanal Terkait