Dari Tidak Sengaja, Temukan Alternatif Langkanya Oksigen - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Dari Tidak Sengaja, Temukan Alternatif Langkanya Oksigen.58-9d0c1a3d
Salah satu pasien yang menggunakan alat alternatif langkanya oksigen (Foto: dr Yosephine Pratiwi)
BERITA Kanal Artikel Kanal Highlight

Dari Tidak Sengaja, Temukan Alternatif Langkanya Oksigen

Satukanal.com, Nasional– Kelangkaan oksigen tengah dirasakan masyarakat Indonesia. Hal tersebut berbanding lurus dengan angka penyebaran Covid-19 yang semakin meninggi.

Rakyat yang berada di tengah kondisi panik menempuh berbagai cara guna kesembuhannya. Namun, berbagai rumah sakit yang ada telah penuh. Mereka kehabisan kuota untuk menampung pasien baru. Sementara, penularan masih terus berlanjut hingga kini.

Melihat kondisi miris itu, dr Yosephine Pratiwi mencoba mencari jalan keluar. Secara tidak sengaja ia menemukan terobosan baru sebagai alternatif kelangkaan oksigen.

“Menggunakan metode penguapan, obat dan vitamin. Nacl ambroxol dexametasone dan mkp saya campurkan ke nebulizer. Setelah itu, uapnya bisa dihirup,” jelasnya. Dengan cara tersebut dari 83 pasien, 81 diantaranya dinyatakan sembuh.

Temuannya tersebut didapatkan secara tidak sengaja. Ia menyebutkan, suatu hari ada seorang pasiennya yang datang. Pasien itu mengatakan ingin ditangani oleh Pratiwi sapaan akrabnya secara langsung. Lantaran takut dan rumah sakit yang ada sudah penuh.

Ia bahkan menyebutkan meski usahanya gagal, dia bakal ikhlas asal sudah ditangani dokter yang berada di Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso itu. Setelah diperiksa, pasien tersebut telah divonis terjangkit Covid-19.

Salah satu gejalanya adalah sesak nafas. Alasannya yakni varian terbaru virus ini cenderung menyerang paru-paru, sehingga mengakibatkan sesak napas pada pasien.

Berbekal nekat, ia mencoba mencari obat sisa dari Sang Ibu yang juga pernah mengalami sakit serupa. Diantara obat-obat itu, dia menemukan dua obat yang dirasa cocok.

Baca Juga :  Duh, Pengrajin Tempe di Batu Terseok-seok Diterpa Badai Harga Kedelai

“Tidak tahu diantara obat lain, cocok kedua obat tersebut. Coba-coba aja awalnya, mungkin juga sudah jalan dari Tuhan,” terangnya. Setelah dicobakan, metode penguapan, obat dan vitamin tersebut terbukti dapat menyembuhkan.

Kabar dari mulut ke mulut terus menyebar di kalangan masyarakat, seperti getok tular. Pasien yang datang biasanya memiliki saturasi oksigen 86 persen atau kurang. Dengan kondisi itu, manusia akan sulit untuk bernafas.

Tidak ada rasio penggunaan pakem pada terobosan metode baru ini. Saturasi pasien setelah menggunakannya bisa naik hingga 95 persen ke atas. “Saya tidak pernah memaksakan untuk frekuensinya. Misalnya kalau pagi pasien pakai, sore kami cek lagi. Kalau mulai naik kita ubah dosisnya, jika malah menurun saya beri rujukan ke rumah sakit,” paparnya.

Dia beserta tim akan terus memantau kondisi pasien hingga dalam keadaan normal. Jika telah bugar, mereka akan kembali beraktifitas seperti biasa. Tidak serta-merta ditinggalkan, meski keadaan pasien belum begitu sehat.

Terobosan barunya sudah ada sejak bulan Maret tahun ini. Namun, waktu itu sama sekali tidak ada yang meresponnya. Dari pasien maupun masyarakat sekitar. Padahal, bisa jadi jika metode ini berjalan, bisa membantu banyak orang yang terpapar.

Baca Juga :  Sutiaji: PPKM Darurat Satu Putaran, Jika Warga Patuh

Proses mudah dan harga obat yang terjangkau membuat cara ini bisa ditiru oleh semua orang. “Karena itu saya buat metode yang mudah, hanya seperti masyarakat awan membuat mie instan. Kasihan juga orang yang kurang mampu, mereka juga ingin sembuh. Dengan cara ini harga yang dikeluarkan tidak perlu mahal,” kata perempuan asli Jombang itu.

Jika ditotal, masyarakat yang ingin menggunakan alat ini hanya memerlukan biaya tak lebih dari Rp 700 ribu. Kalau belum memiliki alatnya. Nebulizer biasa dipatok dengan harga Rp 300 hingga 600 ribu. Sedangkan untuk obat, memakan biaya kurang dari Rp 100 ribu saja. Peralatan dan obat pun bisa diperoleh dimana saja dengan mudah.

Pratiwi berharap agar metode penguapan yang ditemukannya secara tidak sengaja ini bisa segera dikenal banyak orang. Kelangkaan oksigen akan menemukan titik terang. Selain itu, bagi masyarakat kurang mampu juga bisa mengupayakan kesembuhannya.

Belum lagi berbagai penjuru rumah sakit yang penuh. “Saya merasa sendiri, kalau saja banyak orang yang mendengar ini dan dapat meniru, sudah berapa nyawa yang bisa kita selamatkan. Dari pada hanya berdiam diri dan tidak melakukan apa-apa,” ucapnya.

 

Pewarta : Wildan Agta
Editor : Adinda

Kanal Terkait