Dari Kuli hingga Temukan Ribuan Varietas Anggrek Baru - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Dari Kuli Hingga Temukan Ribuan Varietas Anggrek Baru
Dedek Setia Pribadi, seorang pembudidaya anggrek (Foto: Wildan Agta/ Satukanal.com)
BERITA Kanal Feature Kanal Highlight

Dari Kuli hingga Temukan Ribuan Varietas Anggrek Baru

Kecintaannya pada anggrek membawanya untuk mengembangkan berbagai varietas anggrek baru. Hal itu dilakukannya dengan cara menyilangkan berbagai jenis anggrek, guna menemukan jenis baru dibutuhkan waktu empat sampai enam tahun lamanya.

Satukanal.com, Batu – Rambut panjangnya terikat di tengah panasnya matahari. Sambil penuh keringat ia merapikan tanaman anggrek baru di depannya. Tak lupa, seringkali dia mengamati secara seksama helai demi helai daun.

Beberapa karyawan di sekitarnya pun ikut membantunya. Duduk melingkar, masing-masing fokus memilah-milah tanaman hias yang tak habis popularitasnya ini.

Dari kejauhan dia melihat wartawan Satukanal.com saat masih berada di area parkir. Dengan menghampiri ia mempersilahkan masuk. Ialah Dedek Setia Pribadi, seorang pembudidaya anggrek yang telah banyak menemukan varietas anggrek baru. Jalan cerita suksesnya di mulai saat tahun 2005 silam.

Kala itu, Dedek diberi tahu oleh seorang saudara tempat beberapa penjual anggrek. “Waktu itu, saya masih kerja serabutan. Kadang jadi kuli, pegawai restoran atau apapun itu,” jelasnya. Namun, sejak kecil ia juga sudah sangat menyukai kegiatan bertanam.

Bahkan, ia mengatakan ayahandanya pernah marah ketika pria bertubuh gempal ini ingin melakukan hobinya tersebut. “Omah koyok alas,” ujarnya, sambil mempraktikan perkataan ayahnya dulu. Meski tak memiliki lahan dan ekonomi yang terbatas dia tak pantang menyerah.

Berbekal lahan berukuran setengah kali satu meter, ia membeli bibit anggrek dengan harga Rp 25 ribu. Atap penutupnya pun dimodifikasi menggunakan karung bekas bawang. Media tanam yang digunakan juga berbeda.

Baca Juga :  Cuaca Tak Menentu, Panen Lotus Jadi Rancu

Pria yang tinggal di Kelurahan Dadaprejo, Kecamatan Junrejo tersebut memanfaatkan gelas air mineral bekas. “Karena dulu saya bekerja juga di restoran, jadi sering memungut gelas bekas. Ketika orang-orang sudah pulang, saya bawa,” ungkapnya dengan tawa.

Ketlatenannya tak langsung menghasilkan sebuah kesuksesan. Dedek mengaku diawal usahanya dirintis, ia sering menjajakan anggreknya ke banyak tempat. Dari Pasar Bunga Splendid hingga Selecta. Penolakan sangat sering ditemuinya.

Lantaran itu, ia terpaksa hanya menitipkan barangnya pada para pedagang. Jika laku, uang akan dibayarkan. Namun, kalau saja tanaman hiasnya tidak terjual, maka akan digantinya dengan yang baru. Seiring berjalannya waktu, lelaki lulusan Universitas Brawijaya ini tetap yakin akan usaha anggrek yang digelutinya.

Ia menyewa lahan dan mulai belajar kultur jaringan secara otodidak. “Dulu baca-baca buku di Gramedia Kota Malang. Saya baca saja, tapi tidak beli,” ucapnya. Jerih payahnya mulai terlihat setelah beberapa tahun.

Di tahun 2007, ia mengikuti lomba anggrek tingkat nasional. Pada lomba tersebut Dedek mendapatkan salah satu kategori juara. Kebanggan itu kian memantapkannya untuk terus menekuni budidaya anggrek. Dia terus berfikir tentang keterbatasan yang dimilikinya.

Ia melatih dan memberdayakan masyarakat sekitarnya. Setelah diberi pelatihan hingga bisa, mereka diberinya bibit anggrek secara gratis. Hal tersebut juga bisa menjadi jalan keluar halangan umum bagi pembudidaya anggrek, yaitu waktu yang lama.

Pada umumya, anggrek baru bisa berbunga ketika menginjak umur 2 tahun. Dengan pemberdayakan masyarakat sekitar itu, ia bisa membagi pembudidaya berdasarkan umurnya. Terobosan tersebut sangat berhasil untuk memangkas waktu budidaya anggrek yang sangat lama.

Baca Juga :  Petani Peacock Kembali Anjlok

“Petani jadi bisa panen terus, jejaring pemasangan juga sudah dari kami,” paparnya.

Pendapatan yang petani sekitar dapatkan juga tak main-main. Dalam media pembibitan seluas satu meter persegi, mereka bisa mendapatkan Rp 1,2 juta. Dampak ekonomi yang sangat tinggi, mengingat bertani juga merupakan pekerjaan sampingan bagi sebagaian besar anggotanya.

Selama ini, pria kelahiran 21 Juni 1978 tersebut menemukan ribuan jenis anggrek varietas baru. Namun, ada kurang lebih 200 jenis yang sudah dipatenkan. Beberapa contohnya ialah Mufidah Yusuf Kalla juga anggrek titipan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawangsa yang merupakan jargon, Harmoni dan Cetar.

Ia mengaku enjoy dan menikmati kegiatannya membudidayakan anggrek. Alasannya, karena itu adalah hobi yang sejak kecil dilakukannya. Lelaki asli Malang tersebut juga membeberkan tips bagi pemula yang akan memperdalam usaha ini.

“Usaha anggrek jangan takut gagal. Kita akan belajar dari kegagalan, saya pun beribu kali gagal,” kata Dedek.

Permintaan untuk anggrek kepadanya kini kian meningkat. Bahkan 110 green house masyarakat yang diberdayakannya tidak bisa mencukupi permintaan. Harga tanaman dengan bunga bewarna-warni miliknya sekararang dibanderol dengan harga bervariasi.

Harganya dipatok mulai Rp 25 ribu sampai dengan 40 juta. Sementara, untuk penjualannya kini telah mencapai pasar luar negeri yakni Eropa tepatnya di Belanda, Swiss dan Prancis.

 

 

Pewarta : Wildan Agta
Editor : Redaksi Satukanal

Kanal Terkait