Dampak Seks Pranikah, Dua Pelaku Pembuang Bayi di Jombang Masih di Bawah Umur - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Dua Anak Dibawah Umur Jadi Pelaku Pembuang Bayi di Jombang
Kedua pelaku saat dibawa ke Satreskrim Polres Jombang (Foto: Anggit Puji/ Satukanal.com)
BERITA Kanal Straight

Dampak Seks Pranikah, Dua Pelaku Pembuang Bayi di Jombang Masih di Bawah Umur

Satukanal.com, Jombang – Masyarakat Jombang sempat dibuat heboh dengan penemuan jasad bayi mengambang di aliran sungai Kendalsari, Kecamatan Sumobito, Jombang Sabtu (03/07/2021). Namun, kini pelakunya sudah terungkap. Dalam ungkap kasus, kedua pelaku ternyata masih di bawah umur. Sang ibu bayi berinisial APP, masih berusia 14, dan berasal Kecamatan Sumobito, sementara  kekasihnya berinisial MNN, 17 tahun, warga Kecamatan Tembelang, Jombang.

Kendati terbukti membuang jabang bayi, menurut Kasatreskrim Polres Jombang AKP Teguh Setiawan,   keduanya belum ditetapkan sebagai tersangka. Pihak kepolisian masih mendalami kasus ini lebih lanjut.

“Ungkap kasus ini, pelaku masih belum dinyatakan tersangka. Karena masih belum diketahui pasti, bayi yang dilahirkan diperkirakan umur lima bulan itu dibuang waktu hidup atau mati,” ucapnya saat dikonfimasi wartawan pada Rabu (14/07/2021).

Dari kejadian tersebut, pihak kepolisian menemukan dua perkara. Yakni kasus pembuangan bayi dan persetubuhan terhadap anak. Dari kasus tersebut pelaku bersama pasangannya telah ditangani dan diamankan oleh pihak kepolisian.

Peristiwa itu merupakan dampak dari seks pranikah. Keduanya menghabisi bayi yang dikandung itu untuk menyembunyikan aib buah dari hubungan terlarang.

Teguh melanjutkan, kedua pelaku belajar menggugurkan kandungan dari media sosial. Pelaku membuka tutorial bagaimana cara menggungurkan kandungan dari beragam cara.

“Lewat beragam cara itu, pelaku menggugurkan kandungannya dengan seringkali mengkonsumsi minuman-minuman yang bersoda. Selain itu, tidurnya juga sering dengan posisi terpelungkup yang membuat posisinya tertekan,” katanya.

Dari tutorial yang dipelajari pelaku, sehingga pada tanggal 2 Juli 2021, ketubannya pecah dan sang wanita merasa perutnya mules. Lalu, keesokan harinya, pelaku wanita melahirkan dalam kamar mandi di rumahnya yang hanya tinggal dengan neneknya.

“Setelah melahirkan bayi langsung dibungkus dengan plastik dan dibuang di sungai,” ujarnya.

Alhasil, keduanya tertangkap. Akibat ulah persetubuhan anak tersebut, pihaknya mengungkapkan bahwa pelaku dikenakan ancaman penjara maksimal 15 tahun dan dengan denda Rp 5 miliar rupiah.

“Atau bisa juga dilakukan dengan kebiri, jika dari pelaku ini melakukan persetubuhan anak dibawah umur lebih dari satu kali,” pungkasnya.

Kejadian ini menjadi pelajaran bagi orang tua untuk mengawasi anaknya yang menginjak usia remaja. Apalagi, jika anak-anak mulai menjalin hubungan dengan lawan jenis. Maka, potensi untuk melakukan seks pranikah sangat tinggi.

Jurnal yang ditulis oleh Fisabella Dea Migiana dan Dinie Ratri Desiningrum (Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro) melansir data BKKBN 2014, bahwa 46 persen remaja usia 15 – 19 tahun sudah berani melakukan hubungan seksual pranikah.

Disebutkan dalam artikel tersebut, faktor-faktor terjadinya hubungan seksual pranikah: karena kurang terbukanya orang tua terkait masalah seksual, adanya kesempatan untuk melakukan hubungan seksual pranikah, rasa ingin tahu yang tinggi, kebutuhan biologis, informasi yang salah tentang seksualitas dan pengaruh lingkungan pertemanan.

Pewarta : Anggit Puji
Editor : Danu Sukendro

Kanal Terkait