Dampak Lingkungan Pembangunan Desa Wisata di Kabupaten Kediri | SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Kemajuan Desa Wisata, Menjadi Peringatan Dampak Lingkungan
BERITA HIGHLIGHT STRAIGHT NEWS

Dampak Lingkungan Pembangunan Desa Wisata di Kabupaten Kediri

SATUKANAL.com, KEDIRI – Kemajuan Desa Wisata Alaska, mengakibatkan penebangan dan pohon tumbang, di Kawasan Hutan Lindung Sumber Pawon, Desa Tempurejo Kecamatan Wates Kabupaten Kediri.

Organisasi Lingkungan seperti Oleng-oleng, EPPI, Donor Pohon, dan Komunitas Kediri Raya bersatu padu untuk mencegah hal ini dan mengembalikan ekosistem hutan kembali.  Dikatakan, beberapa pedagang di kawasan wisata Alaska melakukan pembukaan lahan lapak dengan menebang pohon.

Koordinator organisasi penggiat lingkungan ‘Oleng-oleng’, Heri D.K, mengatakan beberapa pengrusakan kawasan hutan lindung Sumber Pawon sangat menyalahi aturan. Apalagi perijinan dari pembangunan juga tidak jelas.

“Lahan Tanah itu milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri, bukan juga Pemerintah Desa (Pemdes). Perijinan juga tidak ada, dari Pemkab maupun Pemdes,” ujar Heri D.K, (9/01/2020).

Disebutkan kegiatan wisata Alaska, yang berada di Kawasan hutan lindung masih belum lama, kisaran 1,5 tahun. Namun dampak aktivitas perambahan hutan mengakibatkan kerusakan luar biasa.

Menurutnya, hal ini dapat menjadi contoh bagi pembangunan kawasan wisata lain daerah. Dikhawatirkan apabila dibiarkan maka akan menular ke hutan-hutan lain di Kabupaten Kediri.

Baca Juga :  Transaksi Pegadaian Kediri, Meningkat 20 Persen di Masa Pandemi Covid-19

Pihaknya dan Organisasi Lingkungan lain bersikap tegas untuk melakukan penegakan hutan kembali. Upaya reboisasi penanaman pohon dilakukan, dampak beberapa pohon besar yang tumbang.

“Pohon-pohon banyak yang ditebang, itu akan menyebabkan beberapa habitat disitu akan hilang. Banyak juga penimbunan sampah plastik, yang mengakibatkan merusak struktur tanah,” tegasnya.

Heri menambahkan, untuk kegiatan aktivitas di kawasan hutan lindung. Pencangkokan tanah saja tidak diperbolehkan. Apalagi dilakukan pembangunan permanen seperti kolam, toilet umum, dan jembatan.

Beberapa kasus pohon tumbang, menurut Heri disebabkan adanya pembersihan pohon-pohon kecil sebagai penyangga disekeliling pohon besar. Secara tidak langsung, akar pohon-pohon besar tergerus mengalami erosi dan tumbang.

Termasuk tanaman merambat penutup tanah juga dibersihkan. Dan itu sangat mnyalahi kaidah hutan lindung. “Disana yang dipertahankan adalah pohon karet kebo yang besar-besar. Sedangkan pohon-pohon kecil yang menjadi penyangga pohon besar. Semuanya banyak yang dihabiskan, dibabat, dan ditebangi menjadi lokasi warung,” tambah Heri.

Baca Juga :  'Gugatan Istri' Mendominasi Ribuan Kasus Perceraian di Kabupaten Kediri

Jumlah pedagang yang berlokasi di wisata Alaska, disebutkan terbagi dua areal. Pedagang yang berada diluar areal wisata sebanyak 60 pedagang. Di dalam areal juga disebutkan kisaran 60 pedagang. Sedangkan untuk jumlah pengunjung, saat hari libur mampu mencapai 2000 pengunjung.

Kabar terkahir Sabtu (9/01), wisata Alaska yang berada dalam kawasan hutan lindung Sumber Pawon masih dilakukan penutupan tertanggal 2/01/2021, sampai batas waktu yang belum ditentukan. Akibat penutupan wisata Alaska, para pedagang direncanakan untuk relokasi dari kawasan.

“Ini bisa kita jadikan contoh untuk pengelola wisata lain. Bahwa mereka harus tau lokasi yang ditempati, hak milik, dan perijinan. Apabila melanggar, tentunya akan berhadapan dengan hukum seperti yang terjadi di Alaska,” tutup Heri.

Pewarta: Anis Firmansah
Editor: Redaski Satukanal

Kanal Terkait