CFD Simpang Lima Gumul Jadi Ajang Pelestarian Budaya Tradisional | SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
20191215_075407-960x640
Penampilan tari di area CFD SLG. Foto: Isna
BERITA STRAIGHT NEWS

CFD Simpang Lima Gumul Jadi Ajang Pelestarian Budaya Tradisional

SATUKANAL, KEDIRI – Area publik memang dapat dimanfaatkan untuk melatih kepercayaan diri. Itu pula yang dilakukan pemilik Sanggar Tari Rajni Agung, Febta Rezanyken, kepada anak didiknya.

Febta, begitu ia biasa disapa, membawa 52 anak didiknya untuk tampil di hadapan pengunjung CFD. Mereka membawakan lima tarian tradisional dan semi teater di panggung terbuka itu.

Setiap tiga bulan sekali, ia membawa anak didiknya tampil di ruang publik. “Untuk melatih mental anak-anak, juga melestarikan budaya Indonesia di tengah masyarakat,” tutur Febta.

Sanggar yang didirikannya dua tahun lalu ini mengajarkan beragam seni tari. Mulai dari tarian tradisional, modern, sendra tari klasik, hingga teater. Febta pun turun tangan langsung sebagai pengajar tari.

“Anak-anak sekarang sudah terpapar budaya modern, lupa dengan seni tradisionalnya. Jadi meski semua jenis tari diajarkan, fokus tetap ke tari tradisional,” ujar perempuan yang sudah mencintai tari sejak SMP ini.

Baca Juga :  Pemkab Kediri, Lakukan Peninjauan Operasional RS Darurat Nuraini Pare

Ada lima tarian yang dibawakan di CFD SLG, antara lain Tari Srampat Jathil dari Ponorogo, Sendra Tari Roro Jonggrang yang biasa dibawakan di Candi Prambanan, Tari Bedayan Segara Kidul yang mengisahkan penghormatan kepada penguasa laut selatan Nyi Roro Kidul, dan Tari Panji Semirang yang merupakan kesenian asli Kediri yang menceritakan penyamaran Dewi Sekartaji.

Anak didiknya di sanggar tari yang beralamat di Kecamatan Semen ini kerap tampil di berbagai even, seperti peringatan hari jadi Kabupaten maupun Kota Kediri, hingga delegasi Kabupaten Kediri di even nasional.

Tari, bagi Alumnus Seni Tari Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya ini tak hanya sekadar membawakan gerakan diiringi musik. “Saya merasa memiliki tanggung jawab sebagai anak muda untuk melestarikan tarian sebagai warisan sejarah,” ungkapnya.

Rupanya, penampilan para penari dari sanggar tari Rajni Ageng ini mendapat antusias masyarakat. Salah satunya Wempy Marcelino, bocah laki-laki asal Kecamatan Pagu. Ia menonton penampilan tari usai latihan sepak bola di lapangan SLG.

Baca Juga :  Pemkab Kediri, Lakukan Peninjauan Operasional RS Darurat Nuraini Pare

Ia menonton ditemani ibunya. “Saya memang suka tari. Saya juga penari kuda lumping,” ujar siswa kelas 6 SD itu.

Wempy kerap tampil di acara hajatan khitan atau pernikahan, juga even-even kabupaten. “Ibu saya nggak suka. Tapi saya suka, turunan dari ayah yang juga penari,” pungkas bocah yang mulai menari kuda lumping sejak PAUD ini.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri Adi Suwignyo mengungkapkan bahwa keberadaan SLG dan event-event yang diselenggarakan di sana merupakan salah satu upaya meningkatkan daya tarik wisata daerah. “SLG ini kan salah satu ikon, sekaligus menjadi tempat bagi warga untuk menunjukkan kreativitasnya,” tuturnya. (adv)

Pewarta: Isnatul Chasanah

Redaktur: N Ratri

    Kanal Terkait