Kehilangan Penumpang Gegara PPKM, Tukang Becak di Jombang Ini Terpaksa Memulung - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Karena Covid, Tukang Becak di Jombang Sepi Penumpang Hingga Beralih Pungut Barang Bekas
Riyanto Saat mencari barang bekas untuk dikumpulkan (Foto: Anggit Puji/ Satukanal.com)
BERITA Kanal Figur

Kehilangan Penumpang Gegara PPKM, Tukang Becak di Jombang Ini Terpaksa Memulung

Ruang gerak masyarakat dibatasi kala PPKM diberlakukan. Namun, roda kehidupan harus terus berjalan. Ketika satu sumber mata pencaharian mati, seorang tukang becak di Jombang ini harus mengais rezeki dari sumber yang lain. Demi bertahan hidup.

Anggit Puji – Satukanal.com 

Cahaya matahari mulai meredup, ketika jarum pendek jam mendekati angka lima pada Kamis (22/7/2021) sore itu. Sosok pria berpakaian lusuh memunguti sampah di sekitar Bundaran Rigincontong. Tak jauh dari sisinya, sebuah becak penuh dengan sampah.

Laki-laki tersebut adalah Rianto.Pemulung bukanlah mata pencaharian utamanya. Sebelumnya, dia adalah tukang becak yang biasa mangkal di sekitar stasiun KA Jombang. Namun, sejak Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, mata pencahariannya mati. Tak ada penumpang yang naik becak, karena  pembatasan itu.

“Tidak ada penumpang, tetap tidak boleh berhenti bekerja, ya apapun dilakukan untuk menghidupi keluarga, yang penting,” ungkap Rianto kepada satukanal.com.

Dia juga mengatakan, kegiatan bekerja di luar rumah tetap dilakukan meskipun ada imbauan pemerintah terkait penerapan PPKM Darurat. Bukan tanpa sebab, dirinya mengaku bukan dari kalangan berada. Jika tidak berada diluar ia tidak akan dapat memenuhi kebutuhan untuk istri dan anaknya.

Meskipun demikian, Rianto bukanlah orang yang tidak percaya dengan virus covid, saat berada diluar rumah ia tetap menggunakan masker sesuai apa yang dianjurkan pemerintah. Dalam hatinya tetap ada rasa was-was takut jika corona mengendap di tubuhnya.

Pria asal Jogoroto, Jombang ini bercerita awal mula kenapa dia menjadi pemulung, bukan tanpa sebab pekerjaan mencari barang bekas merupakan yang termudah yang bisa dilakukannya.

“Apalagi yang bisa dikerjakan, saya ini SD saja tidak lulus, jadi dilakukan saja yang bisa dikerjakan, asal halal,” katanya.

Sebagai tukang becak selama pandemi pendapatannya menurun dratis. Sejak merebaknya pandemi Covid di Jombang ia mulai merasakan dampak yang luar biasa, mulai dari pemasukan menurun hingga menunggu penumpang yang makin minim.

Dirinya biasa menunggu penumpang di beberapa tempat seperti di Stasiun Jombang, serta Terminal Kepuhsari. Terkadang ia juga mengitari area Bundaran Ringin Contong untuk sekedar mencari penumpang.

“Kalau hari normal bisa dapat Rp 100 ribu setiap harinya. Sekarang kadang dapat kadang tidak,” katanya.

Akhirinya sebagai pengganti sementara jika sepi penumpang, ia memilih untuk mencari barang bekas dan berharap bisa ia jual kembali. Berapapun uang hasil menjual barang bekas itu, ia tetap syukuri masih diberikan rezeki.

Barang bekas yang biasa ia ambil biasanya seperti kardus, botol bekas, plastik snack dan lainnya. “Ya apa adanya saja. Kalau dapat syukur tidak dapat yah tidak apa-apa,” pungkasnya.

Editor : Ubaidhillah 

Kanal Terkait