Cerita Siti Muawanah 27 Tahun Jadi Guru di SLB: Hati Saya Tergerak - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Anak-anak Berkebutuhan Khusus Menjadi Semangat Hidupnya Untuk Terus Bekerja Keras
Ilustrasi SLB (Foto: Satukanal.com)
BERITA Kanal Figur Kanal Highlight

Cerita Siti Muawanah 27 Tahun Jadi Guru di SLB: Hati Saya Tergerak

Satukanal.com, Batu – Udara dingin mendominasi suasana Kota Batu hampir setiap harinya. Awan mendung juga kerap menghiasi langit Kota Apel ini. Tibalah wartawan Satukanal.com di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Batu. Sekolah tersebut letaknya berada di Dusun Banaran, Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji.

Di depan sekolah terdapat halaman yang luas dengan parkiraan dan mushola di sampingnya. Ada patung semut yang terlihat sangat iconik untuk diketahui. Seorang wanita menggunakan baju batik khas dinas menghamipiri.

“Semut saya pilih sebagai ikon lantaran sifatnya yang selalu bekerja sama dan pekerja keras. Supaya bisa ditiru oleh semua bahwa ukuran yang kecil tak menentukan semangat yang dimiliki,” dia adalah Kepala Sekolah SLBN Batu, Siti Muawanah.

Ana panggilan akrabnya sudah mengabdi untuk dunia pendidikan khususnya disabilitas sejak 27 tahun yang lalu.

Berawal sejak masih menempuh studi kuliah di Universitas Wisnu Wardhana Malang pada tahun 1993. Saat itu ia diminta untuk menjadi guru pengajar kesenian di SLB Eka Mandiri Batu. Sebagai perkerjaan part time ditengah kesibukannya berkuliah.

Setelah tamat kuliah pada tahun 1997 dia menjadi guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) di SMA PGRI 1 Batu. Bahkan sampai menjadi tim pembuat soal Provinsi Jawa Timur. Hal tersebut tak bertahan lama. Panggiilan hati menuntunnya untuk sholat istighoroh dan memantapkan pilihan untuk mengabdian diri di sekolah disabilitas.

Pada tahun 2003 Ibu dua anak ini mengikuti seleksi sebagai guru bantu. “Hati saya terasa tergerak karena waktu itu ada SLB tetapi jumlah siswanya masih sedikit. Banyak oranng tua yang menyembunyikan anaknya lantaran malu,” ucapnya.

Baca Juga :  Kemenparekraf Diskusi Tentang Industri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Batu

Latar belakangnya yang merupakan lulusan PPKN tak menghalangi niat baiknya itu.

Setelah lulus seleksi dan diterima sebagai guru bantu, ia ditempatkan di SLB Eka Mandiri Batu sekaligus mengulang kisah saat ia kerja part time dimasa kuliah. Di tahun 2016 berdirilah SLBN batu.

Kala itu ia mendapat mandat dari Dinas Pendidikan Kota Batu untuk menjabat sebagai Pelaksana Tugas (PLT) sementara sambil menyelesaikan pembangunan sekolah. Pada tahun berikutnya wanita bertubuh mungil ini dilantik menjadi Kepala Sekolah tetap oleh Gubernur yang menjabat pada saat itu, Soekarwo. Jabatan yang diperolehnya membuatnya semakin bersemangat dalam memperjuangkan pendidikan anak berkebutuhan khusus.

Banyak cerita unik mengiri karirnya selama menjadi guru. Bahkan, berbagai pelajaran juga bisa diambilnya lewat para anak asuhnya. “Suatu saat saya pernah lupa tidak belajar sebelum mengajar anak-anak. Saya salah menerangkan dan anak itu bilang, ibu bodoh!,” ceritanya sambil tertawa.

Semenjak saat itu dia tak pernah lagi lupa belajar sebelum memberikan pelajaran pada muridnya. Suatu hal yang bisa membuat seseorang belajar dari bocah kecil dengan keistimewaan tertentu.

Wanita 53 tahun itu juga mengaku sering kali mengejar muridnya yang kabur lewat belakang sekolah. Dia mengejarnya hingga ke beberapa desa tetangga.

“Dulu kan dibelakang belum dibangun pagar, jadi anak-anak bisa kabur lewat belakang. Supir angkot disekitaran sini sampai hafal kalau lihat saya di jalan berarti sedang mencari murid SLB,” ungkapnya.

Dengan keluhan itu ia berusaha mengajukan pembangunan pagar kepada pemerintah kota. Hal tersebut langsung direspon oleh Walikota Batu, Dewanti Rumpoko. Yang membangun pagar belakang sekolah di tahun 2019 lalu.
Perhatiannya pada anak asuhnya tak perlu diragukan lagi.

Baca Juga :  690 Ribu Ibu Hamil Kota Batu, Masuk Target Vaksin

Menurutnya citra jelek pada anak disabilitas yang sudah lama ada pada masyarakat umum harus dihapuskan. “Selama ini mereka dipandang sebelah mata. Kalau tidak ada yang mendobrak sudut pandang itu ya bagaimana,” jelas perempuan kelahiran 17 Desember tersebut.

Selain berjuang di dunia pendidikan, dia juga sering menjadi relawan Komisi Pemilihan Umum (KPU) di bidang disabilitas. Pemikirannya untuk terjun di dalamnya karena ada salah satu muridnya di waktu itu yang memiliki (mohon maaf) cacat kaki tidak ikut untuk menyoblos.

“Dia saya tanya kenapa tidak ikut pemilihan, jawabannya karena tidak ada yang mengantar dia juga tidak bisa berjalan sendiri. Jadi saya selalu keliling dan mengantarkan mereka yang berkebutuhan khusus untuk datang ke TPS,” tuturnya.

Pembelajaran mengenai kreatifitas menjadi hal utama yang selalu diajarkan. Hal itu bertujuan agar setelah lulus siswanya bisa mandiri dan memiliki pekerjaan yang layak. Keluarganya pun juga sangat mendukung apa yang dilakukan selama ini.

“Sebelum saya diambil oleh Tuhan, harus ada sebuah arti yang dipahami anak-anak. Mereka mampu dan mereka bisa,” tegasnya.
Ketlatenannya selama ini membuahkan hasil.

Banyak siswanya yang berhasil meraih prestasi tingkat provinsi dan nasional. “Untuk seluruh masyarakat jangan lagi mengasihani mereka. Tetapi hargailah, dengan cara menghargai apa yang bisa dilakukan, dibuat dan prestasi yang bisa mereka peroleh,” tutupnya.

 

 

Pewarta: Wildan Agta 
Editor: Ubaidhillah

    Kanal Terkait