Cerita Dibalik Penamaan Kayutangan Kota Malang - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Cerita Dibalik Penamaan Kayutangan Kota Malang
BERITA HIGHLIGHT STRAIGHT NEWS

Cerita Dibalik Penamaan Kayutangan Kota Malang

SATUKANAL.com, MALANG– Malang seringkali terkenal dengan wilayah yang penuh akan sejarah. Salah satunya yakni daerah Kayutangan yang baru-baru ini ramai diperbincangkan. Karena, akan direncanakan menjadi destinasi wisata tempo dulu, Malang Heritage.

Kayutangan sendiri merupakan nama sebuah kampung di Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Saat zaman kolonial Belanda, nama Kayutangan diabadikan menjadi nama jalan yaitu “KajoetanganStraat”. Lalu setelah kemerdekaan, nama jalan itu diganti dengan nama Jalan Jenderal Basuki Rahmat.

Dilansir dari terakota.id, ada empat toponimi (asal-usul nama tempat) mengenai asal mula penamaan kayutangan pada daerah tersebut. Pertama, nama Kayutangan didapatkan karena pada tahun 1930 ada petunjuk lalu lintas berbentuk telapak tangan yang berada di sebelah timur pertigaan Jalan Oro-Oro Dowo (Kini Jalan B.S. Riadi) dan Jalan Kayutangan (Kini Jalan jenderal basuki Rahmat). Papan penunjuk itu terbuat dari kayu yang mengarah ke tiga tempat. Yang ke barat menuju ke Batu, selatan menuju ke Blitar dan Utara mengarah ke Surabaya.

Kedua, nama Kayutangan merupakan sebutan perumpamaan bagi pepohonan beserta tangkai-tangkai yang berjajar di sepanjang jalan menyerupai deretan tubuh manusia. Pepohonan ini menjadi peneduh bagi pejalan kaki di sepanjang jalan seakan membentuk tangan terjulur ke arah jalan. Ketiga, nama Kayutangan diambil karena terdapat pohon yang menyerupai tangan di ujung jalan menuju arah alun-alun, saat kawasan alun-alun Jalan Merdeka mulai berkembang.

Baca Juga :  'Boso Walikan' Malang, Dari Era Penjajah Hingga Millenial

Terakhir, berasal dari keterangan Oei Hiem Hwie, seorang warga asli Malang yang menceritakan kisahnya saat masa kecil. Saat itu ia sedang berjalan-jalan di koridor Kayutangan. Di koridor tersebut ditanami pohon yang daunnya berbentuk aneh dan mirip dengan telapak tangan yang mengembang. Lantaran hal itu, maka jalan besar itu diberi nama Kayutangan. Pernyataan ini juga diperkuat dengan keterangan A.V.B Irawan dari PT bentoel Prima yang menyebut bahwa ia juga pernah melihat pohon aneh itu di Taman Indrakila, yang kini sudah tiada.

Meski begitu, catatan ilmiah tertulis dalam bahasa Belanda yang berjudul Nieuw Plantkundig Woordenboek voor Nederlandsch Indië atau Kamus Botani baru untuk Hindia-Belanda disebutkan  bahwa Kayutangan adalah nama tanaman dengan nama ilmiah Euphorbia Tirucalli L.

Catatan tersebut ditulis oleh F.S.A. de Clercq (1842-1906), yakni mantan Residen Ternate dan Riau. Ketika de Clerq meninggal tahun 1906, catatan tersebut kemudian disunting dan diterbitkan tahun 1909 di Penerbit J. H. De Bussy Amsterdam oleh Dr. M. Greshoff, seorang Direktur Museum Kolonial di Kota Haarlem, Belanda. Pada catatan ilmiah tersebut, tanaman Kayutangan disebut pada halaman 262 dengan Nomor Register 1389. Dijelaskan oleh De Clercq bahwa masyarakat Jawa menamakan tanaman ini dengan sebutan Kayutangan dikarenakan ketika tanaman ini tumbuh bentuknya mirip dengan tangan.

Baca Juga :  5 Fakta Unik Beberapa Julukan Untuk Kota Malang, Ini Dia

Disebutkan, jika tanaman ini juga memiliki sebutan di beberapa derah di Jawa antara lain Getih Urip, Kayu Getih Urip, Kayu Urip, Suru Tangan (Sunda), Tikel Balung. Di Pulau Madura dan kepulauan sekitarnya tanaman ini disebut Kayu Jaliso, Kayu Langtolangan, Kayu Leso, Kayu Potong,  Kayu Tabar dan Langtolangan.

Sedangkan di Pulau Bali tanaman ini disebut Kayu Tulang, Tulang dan Tulang Sambung. Suku Dayak Kalimantan menyebutnya Tatulang. Suku Sasak, Provinsi NTB menyebut Lelesuk. Makasar, Sulawesi mengenalnya Pata Tulang. Di bahasa Melayu disebut Pata Tulang, Patah Tulang dan Satulang. Sementara bahasa Sansekerta tanaman ini disebut Saptala atau Satala.

Selain itu, tanaman Kayutangan memiliki manfaat praktis untuk kesehatan. Bagian akar, batang kayu, ranting dan getahnya dapat digunakan sebagai obat. Untuk akar dan rantingnya dapat digunakan sebagai obat nyeri lambung, tukak rongga hidung, rematik, tulang terasa sakit, nyeri syaraf, wasir dan sifilis, Batang kayunya konon bisa untuk mengobati sakit kulit, kusta serta tangan dan kaki yang mati rasa.

 

 

 

Pewarta: Adinda
Editor: Redaksi Satukanal

Kanal Terkait