SATUKANAL.COM
BERITA

Cegah Stunting, Pemdes Slorok Gelar Lomba Balita Sejahtera Indonesia, Sekda Didik Budi: Patut Dicontoh

Tidak hanya sosialisasi atau seminar yang bisa menjadi pertahanan atau senjata mencegah angka stunting merangkak naik atau turun di Kabupaten Malang. Tapi, banyak jalan untuk mewujudkan harapan besar yang kini bertumpu pada kebijakan para pemimpin dan tentunya kerja keras di lapis bawah dalam struktur pemerintahan itu.

Di tataran kebijakan, pemerintahan telah bersepakat untuk menurunkan bahkan menihilkan angka stunting. Di tingkat pemerintahan paling bawah pun, yaitu desa, gerilya untuk mencegah stunting digelorakan. Tentunya dengan berbagai kreasi yang tak melulu harus melalui rapat, seminar, simposium dan lainnya.

Seperti yang dilakukan di Desa Slorok, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang yang menggelar acara Lomba Balita Sejahtera Indonesia (LBSI). Pemerintah Desa (Pemdes) Slorok memberikan fasilitasi dan anggaran dana desa untuk menggelar acara yang tujuan akhirnya memberikan stimulus kepada para orang tua untuk lebih memperhatikan tumbuh kembang anaknya.

“Kami pakai format lomba untuk melihat kondisi balita di desa. Jadi, tidak hanya di penimbangan posyandu saja untuk mencatat perkembangan balita. Acara ini lebih mengasyikkan bagi para orang tua dan juga balita itu sendiri,” kata drg Herawati, kepala Puskesmas Kromengan, Kamis (26/09/2019) kepada kami.

Acara yang digelar di pendapa Desa Slorok itu memang bukan sekadar lomba untuk mencari menang-menangan. Tapi seluruh balita yang berjumlah 14 orang sesuai dengan usia yang jadi prioritas pencegahan stunting, yaitu rentang 6-23 bulan dan 2-5 tahun, diberi ruang bermain dengan berbagai permainan seusianya sekaligus bingkisan atau hadiah kepada para balita.

Baca Juga :  WCC Dian Mutiara Lakukan Penyuluhan Penanganan Permasalahan Kekerasan Perempuan dan Anak

Hal ini dipertegas oleh Herawati yang mengatakan, LBSI yang rutin dilakukan satu tahun sekali ini memang bukan sekadar mencari pemenang balita. “Tapi lebih memberikan stimulus kepada orang tua lebih memperhatikan tumbuh kembang anaknya. Ini juga untuk mendeteksi adanya kasus stunting atau tidaknya di desa,” ujarnya.

Perangkat Desa Slorok Suparlan menyerahkan hadiah LBSI kepada pemenang didampingi Bidan desa Ettik Meiarianti (kanan) (Nana)
Etti Meiarianti, bidan Desa Slorok, juga menyampaikan bahwa apa yang disampaikan Herawati memang menjadi fokus bagi dirinya dan seluruh bidan di wilayah Kromengan dalam mendeteksi dan mencegah lahirnya stunting.
Melalui LBSI, pola penanganan balita untuk mewujudkan kebijakan nol stunting lebih mengena dan tepat. “Karena yang kami hadapi kan balita dan para ibu. Jadi, untuk memancing antusiasme mereka datang, memang lebih pas melalui acara seperti ini,” ucap Etti.

Tentunya, dalam LBSI itu sendiri, balita tetap menjalankan penimbangan dan pengukuran terlebih dahulu. Sehingga secara tahapan sebenarnya sama dengan kegiatan rutin penimbangan balita di posyandu. “Tapi, dalam lomba ada hadiah-hadiahnya bagi balita. Ini yang membuat kegiatan ini bisa dikatakan tidak ada kendala dalam pelaksanaannya,” ucapnya.

Baca Juga :  WCC Dian Mutiara Lakukan Penyuluhan Penanganan Permasalahan Kekerasan Perempuan dan Anak

Harapan besar para penggiat kesehatan desa dan tentunya pemdes di wilayah Kromengan ini, dengan berbagai kegiatannya, adalah terwujudnya generasi penerus bangsa yang semakin lebih sehat lagi.

Terpisah, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Malang Didik Budi Muljono saat dikonfirmasi terkait agenda pencegahan stunting dengan format lomba balita memberikan apresiasinya.
Didik Budi mengatakan, setiap elemen masyarakat memang perlu berkreasi untuk menurunkan dan mencegah stunting yang jadi momok dewasa ini.

“Jadi, banyak cara memang untuk itu. Saya apresiasi pemdes, petugas kesehatan di desa yang mampu memotivasi para orang tua dan balita dengan tujuan pencegahan stunting ini,” ucapnya.

Format lomba patut dicontoh oleh desa lainnya dalam mencegah stunting. “Menciptakan kegembiraan dengan tujuan besar memang yang perlu terus dikembangkan. Lewat lomba balita itu, saya pikir patut dicontoh,” ujar Didik Budi.

Saat seluruh elemen bergerak dengan pola kreatif sesuai bidangnya masing-masing, lanjutnya, maka akan semakin cepat pula untuk menurunkan angka stunting di Kabupaten Malang. “Target 2020 stunting nol. Tahun ini turun satu digit. Ini bisa terealisasi kalau seluruh elemen bergerak. Jadi, saya apresiasi berbagai inovasi dan kreativitas di tingkat desa untuk terus melakukan itu,” pungkas Didik Budi.

Kanal Terkait