Bupati Instruksikan Screening Hipotiroid, Ada Apa Bayi di Kabupaten Malang? | SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
BERITA KABUPATEN MALANG

Bupati Instruksikan Screening Hipotiroid, Ada Apa Bayi di Kabupaten Malang?

Bupati Malang Sanusi dalam kunjungannya di acara Gema Desa di wilayah Pakis meminta kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) untuk segera melakukan screening hipotiroid kepada bayi baru lahir di Kabupaten Malang. Permintaan orang nomor satu itu diharapkan bisa dilakukan oleh Dinas Kesehatan Senin (23/12/2019) mendatang.

Permintaan itu tentunya membuat tanda tanya baru bagi masyarakat. Ada apakah dengan bayi di Kabupaten Malang? Apalagi setelah ramainya data stunting muncul di permukaan dan sampai saat ini terus diupayakan penurunan dan pencegahannya.

Seperti diketahui, hipotiroid adalah keadaan menurun atau tidak berfungsinya kelenjar tiroid. Kekurangan hormon tiroid pada bayi dan masa awal kehidupan bisa mengakibatkan hambatan tumbuh kembang anak dan akan terus berlanjut bila tak ada penanganan serius. Yakni mengakibatkan anak bertubuh pendek (cebol), muka hipotiroid yang khas (muka sembab, bibir tebal, hidung pesek), mental terbelakang, bodoh (IQ dan EQ rendah) atauidiot, serta kesulitan bicara dan tidak bisa diajar bicara.

Kondisi itulah yang membuat Sanusi meminta Dinas Kesehatan untuk melakukan screening hipotiroid secepatnya. Sehingga seluruh kegiatan penurunan angka dan pencegahan stunting juga bisa lebih komprehensif dilakukan di Kabupaten Malang.

“Pemkab Malang tak hanya fokus pada stunting atau penyakit lainnya. Tapi juga terkait hipotiroid pada anak baru lahir juga. Hal ini sangat penting sekali untuk mencetak generasi sehat dan cerdas ke depannya,” ucap Sanusi, Jumat (20/12/2019).

Screening hipotiroid terhadap bayi baru lahir, lanjut Sanusi, akan bisa mendeteksi secara dini pertumbuhan anak sekaligus mampu melakukan intervensi bila terdapat ciri-ciri kelainan itu.”Sehingga bisa memutus rantai secara cepat. Pasalnya, terkait ini, biasanya minggu pertama setelah lahir, bayi tampak normal dan tak ada kelainan hormon tiroid. Ini yang sering luput dari pengamatan dan dianggap bayi tanpa kelainan,” ujar Sanusi.

Pernyataan itu memang benar. Dari berbagai data yang ada, sebagian besar, lebih dari 95 persen, pada minggu-minggu pertama setelah lahir bayi tampak normal. Hal ini karena selama dalam kandungan mendapatkan hormon tiroid dari ibunya melalui plasenta sehingga bayi tak memperlihatkan gejala kelainan hormon tiroid.

Baru terlihat jelas gejalanya setelah beberapa bulan kemudian. Hal inilah yang membuat intervensi atau pengobatan jadi terlambat juga.

Gejala yang tertampakkan, bayi kurang aktif, malas menetek, mengalami kuning (ikterus) yang lama, tangan dan kaki kurang bergerak, lidah makin besar sehingga minum sering tersedak, dan perut buncit. Selain itu kulit bayi terlihat kering dan burik, mudah kedinginan, dan akhirnya terhambat tumbuh kembangnya.

“Kondisi ini yang saya minta bisa diantisipasi di Kabupaten Malang. Saya juga telah meminta tim anggaran untuk mengalokasikan untuk screening hipotiroid ini,” ujar Sanusi.

Dari data Indonesian Pedritiac Society atau Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tercatat bahwa screening hipotiroid merupakan prosedur rutin di negara maju sejak tahun 1970-an. Tapi, di Indonesia baru dilaksanakan sejak tahun 2000 dan sampai 2014, baru di-screening kurang dari 1% jumlah seluruh bayi baru lahir.

Belum adanya data pasti di Kabupaten Malang terkait hal itu, bukan berarti kelainan tiroid pada bayi baru lahir nol. Karena itu, Sanusi pun memberikan instruksinya untuk melakukan screening hipotiroid ke Dinas Kesehatan.

Hal ini sebagai bentuk antisipasi yang juga terjadi terkait stunting yang tiba-tiba mencuat dan membuat kaget khalayak ramai akhir tahun 2018 lalu. Untuk stunting, menurut Sanusi dalam kesempatan yang sama, saat ini sudah bisa diturunkan sekitar 17 persen daripada tahun sebelumnya yang berada di kisaran 29 persen.

“Turun sekitar 17 persen saat ini. Jadi tinggal sekitar 12,6 persen. Kami targetkan tahun 2020 bisa zero persen. Hal serupa juga saya minta untuk pencegahannya atas tiroid ini. Sehingga penanganan stunting juga bisa lebih komprehensif,” tegas politisi PKB ini.

Terpisah, Ketua IDAI Malang Dokter Haryudi Aji Cahyono menyampaikan pentingnya screening hipotiroid karena bisa menurunkan kecacatan dan kematian pada bayi baru lahir. Sehingga generasi depan akan tumbuh menjadi generasi emas seperti yang diharapkan pemerintah Indonesia.

“Screening juga sebenarnya diatur resmi pemerintah, yaitu melalui Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Permenkes) Nomor 78 Tahun 2014 tentang Screening Hipotiroid Kongenital (SHK). Dasar hukum ini menjadikan SHK wajib dilakukan pada bayi baru lahir,” tandasnya.

Kanal Terkait