Buah dari Tekad Belajar yang Kuat, Lulusan SR ini Ekspor Bonsai ke Eropa - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Buah dari Tekad Belajar yang Kuat, Lulusan SR ini Ekspor Bonsai ke Eropa
Arpai, Pebonsai asal Desa Sidomulyo, Batu (Foto: Wildan Agta/satukanal.com)
BERITA Kanal Feature Kanal Highlight

Buah dari Tekad Belajar yang Kuat, Lulusan SR ini Ekspor Bonsai ke Eropa

40 tahun sudah, Arpa’i bergelut di dunia bonsai. Pembudidaya asal Batu ini sekarang telah menuai hasil kerja kerasnya. Selain pasar dalam negeri, dia melayani permintaan dari Jerman dan Perancis.

Satukanal.com, Malang Wildan Agta Affirdausy

SEJUMLAH orang berkutat di depan tanaman kecil di pekarangan rumah yang didominasi dinding kayu di Desa Sidomulyo, Batu. Tangan-tangan mereka sangat cekatan, mengatur batang demi batang. Menyulap tanaman kecil secara artistik, hingga serupa dengan pohon besar dan tua.

Begitulah keseharian aktivitas perawatan bonsai di pekarangan rumah Arpai. “Silakan masuk,” ucap si empunya rumah menyambut kedatangan Satukanal.com.

Lelaki kelahiran Batu, 1941 ini memulai usahanya sejak tahun 1980. Sebelumnya, profesi sehari-harinya yakni bertani buah dan juga berbagai sayuran. Namun, keuntungan petani tidak sebanding dengan penghasilan yang diperoleh.

Lalu, dia berfikir bagaimana memaksimalkan lahan. “Waktu itu lagi tanam apel, ‘kan jarak antara pohon lumayan lebar. Jadi di situ saya coba tanam bonsai saja, karena ukurannya yang kecil. Jadi cocok,” ujarnya.

Alasan lain,  dia ingin menanam sesuatu yang penanaman, perawatan, pemasaran dan harga ditentukan di kebunnya sendiri. Tekadnya memperdalam ilmu seni tanaman dari negeri Tiongkok ini sangat kuat.

Beberapa penataran diikutinya. Arpai juga membeli buku berbahasa Jepang. “Saya beli, tapi baca bukunya saja tidak bisa. Untungnya ada gambar. Jadi saya tiru aja dari gambar,” jelasnya, sembari terbahak.

Pada masa pandemi akhir-akhir ini, daya jual bonsai masih stabil. Berbeda dengan tanaman hias lain yang fasenya naik turun. Menurut Arpai, bonsai jenis souvenir yang paling digandrungi. Harganya relatif murah. Mudah diperjual belikan secara online lantaran bentuknya tak begitu besar.

Baca Juga :  41 Pelanggar di Batu Ikuti Sidang Tipiring PPKM Darurat

Teknik dalam pengerjaan bonsai juga beragam. Tak sembarang orang bisa menguasainya. Ada 22 gaya yang terdiri dari dua golongan: konversional dan non-konvensional. Sementara, terbaginya golongan bukan tanpa sebab.

“Bonsai tercipta karena gambaran alam secara asli. Maka dari itu dipelajarilah bentuk-bentuk pohon yang ada di muka bumi. Ada dua golongan karena di alam ada penampakan normal dan ekstrem,” ujarnya.

Menurut dia, semua bentuk memiliki kerumitannya masing-masing. Karena itulah perlu waktu yang sangat panjang untuk mempelajarinya. Contohnya adalah gaya cokan.

Arpa’i menyebutkan bahwa teknik ini adalah yang paling rumit dan jarang ditemui. Bentuk batang harus besar dari bawah dan mengecil ke atas dengan lurus tanpa liukan. Akar yang ada juga harus benar-benar tua.

“Percabangan yang ada juga harus teratur sesuai hukum alam. Bagaimana pencahayaan dan sirkulasi udara juga tetap diperhatikan,” katanya. Tidak semua tanaman bisa digunakan untuk bonsai. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar tumbuhan layak diberi perlakuan sesuai teknik yang ada.

Syarat yang pertama adalah tanaman dengan daya hidup tinggi. Seperti berbatang keras juga tak mudah layu. Kedua, memiliki daun yang kecil karena akan berpengaruh pada keseimbangan view bonsai.

Ketiga, bukan tumbuhan yang mempunyai daun bergandan layaknya pohon pisang, palem dan asem. Terakhir, anatomi kulit tua pada tumbuhan pun menjadi syarat. Contoh tanaman yang memiliki seluruh syarat seperti cemara, sancang dan wahong.

Perawatan bonsai pun tidak begitu rumit. Dalam sehari penyiraman yang dibutuhkan hanya sekali. Sisanya hanya perawatan yang berbentuk penjagaan bentuk dari tanaman itu sendiri.

“Sebaiknya untuk pemula pelajarilah dulu botaninya. Agar tahu bagaimana perlakuan pada setiap tumbuhan, karena sebenarnya sangat berbeda-beda,” ungkapnya.

Baca Juga :  Dari Tidak Sengaja, Temukan Alternatif Langkanya Oksigen

Selain itu, kebutuhan cahaya juga sirkulasi udara yang tak boleh diabaikan. Musim hujan yang ada memberi keuntungan bagi pengusaha bonsai. Mereka tak perlu repot-repot menyirami tanaman.

Curah hujan tinggi pun tak memiliki efek negatif baginya. Karena air dapat dengan mudah keluar dari pot melalui lubang-lubang yang ada. Sebagai pencegahan air menggenang.

Dari usaha yang sudah dilakoni sejauh 40 tahun itu, Arpai sudah memiliki 22 karyawan. Dalam sekali kirim dia bisa menjual 400 bonsai. Selain dalam negeri, pasarnya juga mancanegara. Meliputi kawasan Eropa, Jerman dan Prancis.

Harga yang dipatok setiap pot juga bervariasi, mulai dari Rp 50 ribu hingga 250 juta. Patokan harga dipengaruhi sejumlah hal. Semakin sempurna penyebaran akar, liuk batang dari sudut pandang depan, komposisi percabang dan lapisan rumpun daun akan menimbulkan dimensi yang sangat seimbang. Maka, hargaanya kian mahal.

Ia juga tak henti-hentinya mengingatkan para ‘bonsai hunter‘ untuk tidak mengambil bonsai langsung dari alam. “Saya selalu mengingatkan mereka untuk melakukan budidaya. Cukup ambil dahan tertua dari pohon yang besar maka bisa dikembangkan di rumah, asal tahu caranya saja,” ujar pria lulusan Sekolah Rakyat (SR) tahun 1952 ini.

Dengan keunggulan teknologi yang dimiliki para remaja masa kini, Arpai berharap agar mereka tetap berusaha dan memiliki semangat juang tinggi. Pendidikan dari keluarga, sekolah dan lingkungan menjadi suatu kepentingan dalam pertumbuhan generasi penerus.

“Jangan sampai juga kita melupakan rasa kesatuan. Karena hanya dengan itu kita bisa menganggap semua sama tanpa membedakan warna kulit, suku, ras dan agama,” tutupnya. (*)

 

Editor : Danu Sukendro 

Kanal Terkait