Agar Dapur Tetap Mengepul, Seniman Bantengan Terpaksa Lego Properti Pementasan - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Agar Dapur Tetap Mengepul, Seniman Bantengan Terpaksa Lego Properti Pementasan
Seniman Bantengan Nuswantara (Foto: Wildan/ Satukanal.com)
BERITA Kanal Feature Kanal Highlight

Agar Dapur Tetap Mengepul, Seniman Bantengan Terpaksa Lego Properti Pementasan

Selama pandemi Covid-19, seniman Bantengan di Batu betul-betul tiarap. Pertunjukan dilarang, Pemasukan nihil. Mereka terpaksa melakukan segala cara, agar dapul tetap mengepul.

Satukanal.com, Batu – Wildan Agta Affirdausy

RUMAH bergaya klasik dengan halaman luas dan sejumlah gazebo di pekarangannya di Bumiaji, Kota Batu itu tampak lengang. Sebelum pandemi Covid-19, rumah ini seakan tak pernah sepi. Lazimnya, rumah itu digunakan untuk berkumpulnya para pelaku kesenian Bantengan tanah air.

Rumah tersebut merupakan markas organisasi Bantengan Nuswantara, forum yang mewadahi seniman Bantengan tanah air. Lengangnya rumah berbanding lurus dengan kondisi pertunjukan Bantengan. Praktis, kegiatan panggung berhenti total, sebagai konsekuensi pembatasan sosial.

”Berat Mas, bagi pelaku kesenian tradisional semacam kami ini, saat pandemi dengan kosongnya pertunjukan seperti sekarang ini,” ujar Ketua Bantengan Nuswantara, Agus Riyanto ditemui di Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji.

Sementara, lanjut pria berambut gondrong ini, pelaku seni bantengan seperti mereka harus patuh dengan anjuran pemerintah. “Kami seratus persen sama sekali tidak ada kegiatan sejak peraturan pemerintah muncul,” tegasnya. Agenda yang diadakan setiap tahun pada bulan Agustus, yaitu Festival Bantengan Nuswantara pun harus mundur. Sampai kapan mundurnya festival tersebut, tidak ada yang tahu.

Acara rutin tahunan masyarakat bantengan itu terdiri dari tiga rangkaian kegiatan selama tiga hari. Hari pertama berisi tentang pertunjukan yang dilakukan seniman luar negeri. Aksi kolaborasi bantengan dalam dan luar negeri dilaksanakan hari berikutnya. Sedangkan, hari terakhir festival.

Baca Juga :  Ngetwit Soal Covid-19 RI, Dokter Faheem Younus Beri Rekomendasi Obat saat Isoman

Festival besar ini dimulai dari Stadion Brantas sampai Balai Kota Batu. Pagelaran ini melibatkan sekitar 250 kelompok dan kurang lebih 50 orang setiap kelompoknya. Mulai kalangan bawah hingga kalangan atas, tua maupun muda berkumpul menyaksikan hiburan yang lahir sudah beratus-ratus tahun lamanya.

Euforia juga tidak hanya dirasakan seluruh rakyat pribumi saja. Pasalnya lebih dari 30 negara dari berbagai penjuru dunia selalu menghadiri Festival Bantengan Nuswantara setiap tahunnya. Malaysia, Australia dan Prancis merupakan contoh negara yang selalu ikut serta. Tiga sampai lima orang menjadi perwakilan setiap negara.

“Mereka (teman-teman luar negeri-Red) sangat tertarik pada budaya kita. Karena itu, mereka selalu datang untuk juga bisa belajar secara langsung di Indonesia,” ucapnya.

Misi memperkenalkan bantengan ke seluruh dunia juga dilakukan Agus. Dia rutin mengadakan kunjungan ke negara-negara lain dua hingga tiga kali per tahun. Di suatu negara, dia biasa singgah selama 10 sampai 14 hari untuk melakukan workshop dan pementasan.

Perkembangannya di Nusantara sendiri juga bisa dikatakan baik. Banyak sekali generasi baru, mulai dari empat tahun sudah diajari kesenian tanah Jawa ini. Sayang, minimnya tempat membuat frekuensi latihan tidak berjalan rutin. “Harapannya anak – anak kita bisa melestarikan bantengan supaya tidak punah lagi,” ucap pria berbadan besar ini.

Baca Juga :  Klenteng Ditutup, Umat Buddha Beribadah Dari Rumah Masing-masing

Dulunya pementasan bisa dilakukan lebih dari dua kali per bulannya. Kini, bantengan sama sekali tidak bisa digelar. Sehingga, para seniman Bantengan menganggap tidak ada lagi wadah bagi mereka menyalurkan kreatifitas dan menghibur masyarakat. Selain itu, sumber perekonomian seniman juga tertutup.

Agus juga menyebutkan, banyak dari properti anggotanya telah dilego. Barang yang nganggur dan tuntutan kebutuhan ekonomi jadi salah satu alasan. “Saya selalu seperti ingin meneteskan air mata kalau ada teman – teman yang bercerita seperti itu. Karena saya adalah ketua yang bertanggung jawab pada mereka semua,” ungkap pria kelahiran Batu ini.

Bantengan sendiri ialah salah satu kesenian khas Malang Raya yang sudah turun temurun dilestarikan. Dahulu kala seni yang erat kaitannya dengan pencak silat ini digunakan untuk menghibur warga saat ada acara seperti nikahan, khitan maupun bersih desa.

Sekarang, pria yang bertempat tinggal di Desa Bumiaji ini, hanya berharap pemerintah bisa mengubah peraturan menjadi lebih luwes untuk semua penggiat seni. Pemutaran roda ekonomi yang baik juga dibutuhkan di semua elemen masyarakat.

Sebelum pandemi, para penggiat seni bantengan bisa melakukan pementasan sekaligus ajang silaturahmi dengan rutin. Berbanding terbalik dengan saat ini, berkumpul untuk sekedar melepas penat bekerja sehari-hari pun sulit untuk dilakukan. (*)

 

Editor : Danu Sukendro

Kanal Terkait