Bersih Desa di Tengah Pandemi, Gelar Jaranan Tanpa Panggung dan Pengeras Suara - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Bersih Desa di Tengah Pandemi, Gelar Jaranan Tanpa Panggung dan Pengeras Suara
Jaranan yang digelar saat acara Bersih Desa di Kediri (Foto: Anis Firmansah/ Satukanal.com)
BERITA Kanal Feature

Bersih Desa di Tengah Pandemi, Gelar Jaranan Tanpa Panggung dan Pengeras Suara

Di akhir bulan Syuro, warga Desa/Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri menggelar rangkaian acara Bersih Desa.  Salah satunya, pementasan seni jaranan.

Anis FirmansyahSatukanal.com

TRADISI Bersih Desa ini sudah menjadi budaya turun-temurun pada bulan Syuro. Namun, pada masa pandemi Covid-19, pagelaran pentas dibatasi. Berlangsung dengan protokol kesehatan yang ketat.

Pagelaran dimulai dengan Langen Busan atau biasa disebut tayuban dan wayang kulit pada Kamis (2/9/2021) malam. Dilanjut pentas jaranan Jumat (3/9/2021). Lantas, ditutup dengan istighosah doa bersama, Sabtu (4/9/2021).

Kali ini, jumlah peserta jaranan dibatasi. Sebelum masa pandemi jumlahnya 50 orang, sekarang dikurangi 20 peserta. “Kita juga mengikuti aturan prokes yang ketat, yang terpenting masih dilaksanakan. Walaupun tidak bisa seperti sebelum-sebelumnya,” ungkap Mohammad Ghozi, ketua panitia gelaran Bersih Desa Pagu, Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri.

Baca Juga :  Kampung Tematik Kota Malang Ancang-ancang Buka, Siapkan 27 Virtual Event

Pementasan jaranan dilakukan tanpa panggung dan pengeras suara. Sehingga, tidak mengundang warga untuk berkerumun. Pagelaran juga digelar singkat: 30 menit. Bandingkan dengan pagelaran di hari biasa, yang mencapai 8 jam. Bahkan, seniman juga harus menjalani rapid test. Semua dilakukan untuk mengantisipasi penularan Covid-19.

Alhamdulillah bagus ini. Tadi sudah kami siapkan masker jadi kalau nanti yang tidak membawa masker, kita kasih masker. Selain itu, kru jaranan yang akan pentas sudah kita lakukan rapid tes Covid-19,” ujarnya.

Baca Juga :  Topeng Karakter Warga Kediri Merambah Pasar Mancanegara

Menurut dia, gelaran ini merupakan turun-temurun dari nenek moyang. Juga menjadi sedekah bumi. Dilakukan untuk melestarikan budaya yang sudah ada.

Pesan melalui gelaran budaya, seni jaranan ini disebutkan terutama dapat menerapkan kerukunan masyarakat.

“Kalau kita melihat dalam pagelaran jaranan, bahwa kita masyarakat desa pagu bisa guyup rukun. Dan harapannya dapat diterapkan ke masyarakat, bisa-bisa betul berjalan ayem, tenteram, dan rukun,” pungkasnya.

 

 

Editor: Danu Sukendro 

    Kanal Terkait