Berkat Tanaman Porang, Petani Untung Ratusan Juta Bisa Beli Tanah dan Rumah - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Berkat Tanaman Porang, Petani Untung Ratusan Juta Bisa Beli Tanah dan Rumah
BERITA Kanal Highlight

Berkat Tanaman Porang, Petani Untung Ratusan Juta Bisa Beli Tanah dan Rumah

Satukanal.com, Madiun – Keuntungan yang menggiurkan, kini tanaman porang kembali diminati para petani di Durenan, Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun, Jawa Timur.

Dari menanam porang, para petani bisa meraup untung puluhan juta hingga ratusan juta rupiah sekali panen. Warga di desa Durenan, Kabupaten Madiun, 98% merupakan petani dan sebagian besar menanam porang.

Untuk satu hektare lahan butuh modal sekitar Rp 55 hingga Rp 60 juta. Namun, ketika panen, para petani bisa memperoleh keuntungan hingga Rp 300 juta lebih.

Dengan menanam porang, kesejahteraan warga mulai meningkat dan angka kemiskinan di desa Durenan mengalami penurunan. Bahkan, banyak warga Durenan kembali dari perantauan dan menanam porang di kampung halaman.

“Saat pandemi ada 68 warga Desa Durenan yang membangun rumah berkat panen porang 2020 kemarin. Artinya, ketika seluruh warga menanam porang, kita bisa melibas angka kemiskinan,” ujar Kepala Desa Durenan, Purnama.

Perlu diketahui bahwa pengembangan porang di Desa Durenan sudah mulai berjalan sejak 10 tahun yang lalu. Namun, para petani baru serius menggarap sekitar tiga tahun lalu.

Keseriusan petani menanam poran didasarkan pada, tanaman porang yang merupakan komoditas menjanjikan. Perawatan porang terbilang mudah, tapi modalnya juga lumayan besar untuk membeli bibit.

“Ketika kualitas porang terjaga, pasar pasti membutuhkan,” ungkapnya.

Kini, tanaman porang pun bak tambang emas bagi para petani yang fokus dan tekun membudidayakan tanaman ini. Untuk wilayah Desa Durenan, jumlah lahan milik warga yang ditanami porang ada sekitar 200 hektare. Dan ada sekitar 149 hektare kawasan hutan milik perhutani juga ditanami porang oleh warga.

Sementara itu, Mujiono (56), salah satu petani asal Durenan, menceritakan kisahnya menanam porang selama 27 tahun. Mujiono kini telah meraup keuntungan ratusan juta selama menanam porang.

Keuntungan  tersebut ia gunakan untuk membeli tanah dan membangun rumah. Setiap panen, dia selalu bisa membeli sesuatu. Padahal, puluhan tahun silam, porang masih dianggap tanaman liar dan hanya segelintir warga yang membudidayakannya.

“Saya menanam porang sejak 1994, waktu itu harganya masih Rp 2.000 per kg,” ujarnya.

Awalnya ia menanam porang di lahan seluas 10×20 meter persegi. Setiap tahun, ia menambah luasan lahan tanaman porang hingga memiliki setengah hektare lahan yang ditanami 4.900 batang porang sampai sekarang.

Dirinya juga mengaku tidak mengeluarkan modal saat pertama kali menanam porang. Bibit porang dia ambil di hutan di lereng Gunung Wilis, di dekat desanya.

Setiap kali panen Mujiono mampu mendapatkan untung Rp 35 hingga Rp 36 juta. Keuntungan atau hasil panen dia gunakan untuk membeli tanah, membangun rumah, serta membiayai sekolah anak. “Uangnya saya belikan tanah, sekarang sudah punya delapan bidang tanah, saya tanam porang semua” tambahnya.

Mujiono menyampaikan, kini menanam porang jauh lebih menguntungkan dibanding ketela atau jagung, asalkan perawatannya benar. Dan, perawatan porang terbilang lebih mudah ketimbang tanaman lainnya.

Sebagai informasi, Mengutip Indonesia.go.id, Berdasarkan data Indonesia Quarantine Full Automation System (IQFAST) atau Badan Karantina Pertanian (Barantan), mengemukakan semester pertama 2021, ekspor porang Indonesia mencapai angka 14,8 ribu ton.

Di mana angka ini melampaui jumlah ekspor semester pertama pada 2019 dengan jumlah 5,7 ribu ton, kenaikan ini menunjukkan aktivitas ekspor sebanyak 160 persen.

Ada pun beberapa daerah Indonesia yang jadi sentra produksi tanaman porang antara lain adalah Jawa Timur, Nusan Tenggara Timur (NTT), Banten, Jawa Tengah, Kalimantan dan Sumatra. Lalu yang jadi sentra pengolahan tepung porang ada di kawasan Madiun, Bandung, Pasuruan,  Wonogiri, Maros.

 

 

 

 

 

Pewarta : Naviska
Editor : Redaksi Satukanal

Kanal Terkait