Berkaca dari Al Ghazali, Belajar Matematika Butuh Kejujuran | SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
imgonline-com-ua-resize-umd6oeJPX26MzZw
Prof. Akhsanul In'am, Ph.D saat acara pengukuhan guru besar di Dome UMM (Foto : Sherla)
BERITA HIGHLIGHT ISU PILIHAN

Berkaca dari Al Ghazali, Belajar Matematika Butuh Kejujuran

SATUKANAL, MALANG – Metakognitif memiliki peran sangat penting dalam kegiatan pembelajaran, termasuk saat belajar matematika. Hal tersebut juga sudah tercermin dalam pemikiran-pemikiran Imam Besar Al Ghazali.

Dalam penelitian Guru Besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Akhsanul In’am berjudul Menguak Pemikiran Al Ghazali: Menjana Pembelajaran Matematika Terkini, In’am menyebut bahwa pemikiran dan pandangan Al Ghazali dapat diimplementasikan dalam kehidupan yang lebih bermakna.

In’am menguraikan bahwa terdapat empat golongan manusia berdasarkan konsep Metakognitif Al Ghazali. Pertama, Rojulun Yadri wa Yadri Annahu Yadri (orang yang tahu, dan dia tahu kalau dirinya tahu). Kelompok ini adalah kelompok yang mengetahui tentang pengetahuan dan ilmu yang dimiliki harus dimanfaatkan untuk kepentingan manusia.

Kedua, Rojulun La Yadri wa Yadri Annahu Laa Yadri (orang yang tidak tahu dan mengetahui bahwa ia tidak tahu). Kelompok ini menyadari bahwa dia mengetahui ketidaktahuannya dan menyadari kekurangannya.

Ketiga, Rojulun Yadri wa Laa Yadri Annahu Yadri (orang yang tahu, tapi dia tidak tahu kalau dirinya tahu). Golongan ini sebenarnya memiliki potensi atau kemapanan ilmu tapi tidak menyadarinya.

Keempat, Rojulun La Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri (orang yang tidak tahu dan tidak mengetahui bahwa ia tidak tahu). Kelompok ini ucapan dan tingkah lakunya tidak dapat dijadikan panutan dan tidak mengetahui apa yang harus dilakukan.

“Dalam sebuah pembelajaran tentu perlu adanya suatu cara atau strategi untuk mempermudah berjalannya proses belajar mengajar,” ujar In’am.

Selain pendekatan Al Ghazali, In’am menyebut diperlukan metode pendekatan metakognitif dalam pembelajaran. Metakognitif merupakan kesadaran untuk mengetahui apa yang diketahui dan yang tidak diketahui.

Guru besar bidang ilmu pendidikan matematika itu juga menekankan pentingnya pebelajar memiliki pengetahuan dan kemampuan seseorang untuk menilai. Termasuk, mengawal dan memantau pemikiran mereka terhadap proses kognitif secara efektif, bagi membentuk pembelajaran aktif.

Dia menekankan, kejujuran juga dibutuhkan dalam proses pembelajaran matematika. “Karena kalau tidak berkata jujur maka guru tidak akan tahu potensi siswa tersebut seperti apa. Itulah keterkaitan Al Ghazali dengan pembelajaran matematika,” ungkapnya.

Rektor UMM Fauzan juga mengapresiasi pengukuhan guru besar di lingkup UMM. “Penelitian seperti ini saya harapkan dapat menghilangkan stigma matematika yang sulit dan menakutkan bagi para pelajar,” ungkap Fauzan.

Pewarta : Sherla Naya
Redaktur: N Ratri

    Kanal Terkait