Benarkah Lambang Garuda Terinspirasi Dari Candi Kidal? - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Benarkah Lambang Garuda Terinspirasi Dari Candi Kidal?
BERITA Kanal Highlight Kanal Straight

Benarkah Lambang Garuda Terinspirasi Dari Candi Kidal?

SATUKANAL.com, MALANG– Candi Kidal yang terletak  di Desa Kidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang ini memiliki merupakan satu-satunya candi dengan relief yang bercerita tentang kisah Garudeya. Tak hanya itu, candi ini juga memiliki gambaran truktural ikonik Garuda paling lengkap dibandingkan candi lain.

Uniknya, di Candi Kidal dapat ditemui adanya dua unsur ajaran yakni Syiwa dan Wisnu sekaligus. Lingga Yoni yang terdapat di dalam candi sebagai penanda ajaran Syiwa. Sedangkan di dinding luar candi terdapat relief Garudeya sebagai penanda ajaran Waisnawa atau pemuja Wisnu.

Jika biasanya di bagian atas candi Hindu dihias dengan ratna sebagai ciri khas candi Hindu, tidak demikian dengan Candi Kidal. Tidak ada unsur hiasan khas candi Hindu yang nampak. Meski begitu, Candi Kidal tidak dihias pula dengan stupa sebagai ciri khas dari candi Buddha.

Untuk itu, seringkalii Candi Kidal biasa ditafsirkan sebagai candi yang berkarakter sinkretisme antara Syiwa-Wisnu yang dibangun sebagai monumen persatuan nasional. Pernyataan tersebut didukung oleh pemerhati sejarah Cokro-Wibowo Sumarsono. Ia menyebut bahwa candi itu sebagai simbol pengayoman terhadap segenap rakyat Singhasari termasuk para pemeluk ajaran Buddha.

Pada Candi kidal sendiri terdapat relief Garudeya di ketiga sisi kaki candi. Ketiga relief tersebut yaitu Garuda dan para naga, Garuda membawa tirta amerta serta Garuda bersama ibunya yang telah terbebas dari perbudakan kadru dan para nagaa.

Baca Juga :  Terbaru, Klaster Keluarga Lowokdoro Ternyata 2 Orang Meninggal

Kala itu, di era raja Dharmawangsa Teguh (991-1016) telah digubah beberapa bagian daripada kitab Mahabarata diantaranya adalah Adiparwa, Wirataparwa dan Bhismaparwa. Cerita Garudeya yang menokohkan sang Garuuda terdapat dalam kitab Adiparwa. Kisah heroik pembebasan bunda sang Garuda dari belenggu perbudakan sebangun dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia melepaskan Ibu Pertiwi dari belenggu perbudakan. Kisah mitologi Garuda merupakan wahana dari Dewa wisnu.

Garuda dimaknai sebagai sang pembebas serta simbol spirit perjuangan yang tak kunjung padam. Bentuk relief Garudeya di Candi Kidal memiliki banyak kemiripan dengan Garuda Pancasila. Beberapa kemiripan ada di bagian paruh yang besar, kuat, tajam dan terbuka. Bentuk lidah juga sama yaitu melengkung ke atas. Garudeya berkalung ular sedangkan garuda pancasila berkalung rantai dengan mata rantai berbentuk kotak dan bulat.

Kesamaan lainnya yaitu keduanya memakai hiasan di dada. Garudeya memakai selempag sedangkan Garuda Pancasila memakai perisai berbentuk jantung. Sama-sama memiliki cakar yang kuat dan besar serta memiliki sayap yang mirip. Arah muka keduanya juga memiliki arah yang sama, menghadap lurus ke kanan.

Selain itu, mereka sama-sama membawa kain panjang. Garudeya mencengkeram kain selendang ebagai pegikat guci tirta amerta. Sedangkan Garuda pancasila mencengkeram pita selendang bertuliskan sesanti Bhinneka Tunggal Ika. Urutan arah simbol dalam jantung perisai lambang negara sama dengan arah membaca relief garudeya secara prasawiya.

Dalam sejarahnya, pemakaian burung Garuda sebagai Lambang Negara diawali pada masa Mataram kuno era pemerintah Dharmawangsa Teguh. Di masa kahuripan, Airlangga juga menjadikan Garudhamukha sebagai lambang negara. Selanjutnya, masa Singhasari relief Garudeya dipahatkan secararesmi pada candi Negara.

Baca Juga :  Dominasi Guru, Warnai Formasi ASN Kabupaten Malang

Tak hanya itu, Raden wijaya dan penerusnya juga menggunakan warna merah  putih sebagai bendera nasional. Warna merah dan putih merupakan warna kebesaran burung Garuda secara mitologis. Keraton Ngayogyakarta hadiningrat juga menggunakan sayap garuda sebagai lambang keraton.

Panitia Lencana Negara yang dibentuk oleh Presiden Sukarno dengan beranggotakan Muhamad Yamin, Moch Hatta, Sultan Hamid II, Ki Hajar Dewantara, M.A Pelleupesy, Moh Natsir,  Poerbatjaraka dan Doellah adalah sebuah tim kerja yang kolektif berperan merumuskan Lambang Negara.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 66 tahun 1951 tentang Lambang Negara dijelaskan bahwa Garuda merupakan burung mitologi yang telah lama dikenal masyarakat Indonesia serta terdapat di berbagai candi di Indonesia termasuk di Candi Kidal Malang.

 

 

Pewarta: Adinda
Editor: Redaksi Satukanal

Kanal Terkait