Bayar Rp 25 Juta, Mahasiswa Indonesia Bisa Belajar Beternak Sapi di New Zealand | SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
IMG-20191214-WA0028
Mahasiswa Peternakan dari beberapa universitas di Malang saat menghadiri acara seminar CIIP 2019 di Gedung Fakultas Peternakan UB (Foto : Sherla)
ISU PILIHAN STRAIGHT NEWS

Bayar Rp 25 Juta, Mahasiswa Indonesia Bisa Belajar Beternak Sapi di New Zealand

SATUKANAL, MALANG – Jika di Indonesia, profesi peternak sapi masih dipandang miring oleh sebagian generasi muda. Bergelut dengan pakan, kotoran, kandang, seolah kurang punya prestise. Namun lain di Australia, dengan iklim usaha yang menjanjikan, menjadi peternak sudah menjadi pilihan pekerjaan.

Bahkan dengan menggandeng sejumlah perguruan tinggi di Indonesia, peternakan-peternakan besar di Australia membuka kelas magang bagi mahasiswa. Dengan merogoh kocek Rp 25 juta, peserta sudah bisa mengikuti program magang itu. Baik dari kantong pribadi maupun dari sponsor beasiswa.

Kerja sama antara dua negara itu, misalnya seperti yang dilakukan dengan Program Studi (Prodi) Peternakan Universitas Brawijaya (UB) Malang. Pekan ini, prodi tersebut menggelar seminar terkait program magang internasional di Australia dan New Zealand.

Program magang ini bernama Cattle Buffalo Club (CBC) International Internship Program atau disingkat dengan CIIP 2019. CIIP tahun ini mengangkat tema Rising Human Resources on Livestock Sector by Intership Sharing in Australia and New Zealand.

Terdapat beberapa perguruan tinggi di Malang selain UB, yaitu Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Universitas Islam Malang (Unisma) dan Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama). Sekitar 175 mahasiswa dari kampus-kampus itu hadir dalam seminar.

Seminar diisi dengan sharing atau berbagi pengalaman terkait program magang di Australia dan New Zealand yang telah dilakukan oleh peserta yang lolos seleksi di periode sebelumnya.

Baca Juga :  Hadiah Dies Natalis Ke-58, UB Raih Penghargaan Zero Project Dari PBB

Muhammad Alfaritsi Syahputra selaku ketua CIIP 2019 mengaku bahwa banyak mahasiswa dari program studi peternakan tertarik dengan program magang ini. Setiap peserta akan mengikuti tahapan seleksi di kegiatan internship ini.

“Ada seleksi, seperti seleksi administratif yaitu tes TOEFL, bikin esai bahasa Inggris dan bila lolos ada tes wawancara dan tanya jawab dengan bahasa pengantar bahasa Inggris,” ungkap Alfaritsi.

Program magang ini akan berlangsung sekitar 2,5 hingga 3 bulan. Periode magang yang sebelumnya di area Malang sendiri berhasil memberangkatkan 3 mahasiswa. Yakni 2 mahasiswa berasal dari UB dan 1 mahasiswa dari UMM.

“Tahapan seleksi dan wawancara tahun ini akan dilakukan di UB dengan dosen Fakultas Peternakan UB,” ujarnya. Sekitar awal Januari 2020 akan dimulai tahapan seleksi. Seminar tersebut, merupakan salah satu syarat untuk mengikuti program CIIP.

Program ini sendiri merupakan kerja sama dari Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) yang menggandeng pihak dari Australia. Selain itu, terdapat kerja sama dari pihak pemerintah Indonesia dengan Australia terkait program internship ini.

Sedangkan internship di New Zealand menggunakan sistem mandiri, artinya biaya ditanggung oleh peserta. Peserta setidaknya menyiapkan sekitar Rp 25 juta untuk seleksi di New Zealand. Untuk mengurangi beban biaya, peserta dapat mencari sponsor secara mandiri.

Baca Juga :  Mahasiswa Program Doktor Fapet UB Gunakan Pasta Buah Merah, Ciptakan Rasa juiceness Pada Petty Burger

Di seluruh Indonesia kuota peserta dari program ini sekitar 20 orang. Dari 20 orang tersebut mereka akan ditempatkan di peternakan masing-masing yang tersebar di beberapa wilayah di Australia.

Di Australia lebih fokus pada industri sapi potong. Sedangkan di New Zealand lebih dominan dengan sapi perah.

Alfaritsi juga mengungkapkan bahwa program ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa peternakan. “Manfaat program ini bukan pelabelan karena magang di luar negeri. Namun karena program ini terbatas dan seleksi ketat dengan peserta yang mengikuti juga banyak,” tuturnya.

Selain itu dengan mengikuti program ini, mahasiswa peternakan di Indonesia dapat menambah wawasan peternakan sapi di Australia.

“Peluang kalau ikut kegiatan ini bisa mengetahui lebih tentang sektor sapi potong, seperti tata cara kelola, cara budidaya, manajemen pakan yang berbeda dengan Indonesia. Di New Zealand, peserta dapat mengetahui manajemen sapi perah di sana dan perbandingan dengan sapi di Indonesia,” pungkasnya.

Pewarta : Sherla Naya
Redaktur: N Ratri

    Kanal Terkait