Banyak Fenomena Bunuh Diri, Psikolog : Komunikasi Cegah Secara Dini - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Seorang mahasiswa UB diduga meninggal akibat freon (Aris)
BERITA

Banyak Fenomena Bunuh Diri, Psikolog : Komunikasi Cegah Secara Dini

Misteri Kematian Mahasiswa UB (3)

 

Satuchannel.com, Kota Malang – Dalam sehari kemarin (7/8), Kota Malang dihebohkan dua kasus kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa. Pertama mahasiswi Unikama dan kedua mahasiswa Universitas Brawijaya. Bahkan dalam rentang 2 sampai 3 bulan ini, terdapat 5 kasus bunuh diri yang melibatkan mahasiswa dan masyarakat umum.

Menanggapi hal itu, Psikolog Sri Wiworo Retno mengungkapkan, perkembangan teknologi seperti media sosial dapat dijadikan ajang atau media bullying. Hal tersebut tentu menjadi salah satu faktor penyebab bunuh diri.

“Perkembangan media sosial, pergaulan bebas, dan jenis kepribadian yang introvert untuk mencoba menyelesaikan masalah sendiri bisa menjadi penyebabnya,” ungkap Woro, selasa (8/8).

Bagi Woro, hal-hal yang menyebabkan faktor bunuh diri diantaranya bisa karena tidak menemukan jalan keluar masalah, mudah galau, mencari jalan pintas sendiri, dan pola asuh orang tua.

Psikolog Unidha Sri Wiworo Retno (Istimewa)

“Tinggal di kos jauh dari keluarga. Tinggal di kamar sendiri, jarang berkomunikasi dengan pemilik kos atau cuek bisa menjadikan niat tersebut muncul,” tambahnya.

Terkait latar belakang kasus yang menimpa mahasiswi Unikama, perempuan yang juga dosen Universitas Wisnuwardhana (Unida) ini mengingatkan perlu adanya sosialisasi tentang pacaran sehat, komunikasi efektif dengan pasangan, serta melatih kemampuan problem solving yang bagus.

“Mahasiswa juga wajib mengikuti paling tidak satu organisasi kemahasiswaan atau ekstrakulikuler seperti bidang olahraga, musik dan lain-lain, supaya mereka lebih bisa mengekspresikan dirinya dan lebih terbuka,” pungkasnya saat dihubungi satuchannel.

Sementara itu, Psikolog Universitas Brawijaya, Cleoputri Yusainy mengatakan setiap motif bunuh diri tidak bisa hanya satu faktor penyebabnya. Ada beberapa faktor lain yang tidak bisa diduga – duga.

“Deteksi dini menjadi salah satu kuncinya, bila ada kebiasaan dari seseorang yang tiba – tiba berubah itu yang harus diwaspadai,” ujar perempuan yang juga dosen di Program Studi Psikologi, FISIP UB.

Ia juga mengatakan, manusia sebagai makhluk hidup yang unik, karena di satu sisi berusaha survive untuk tetap hidup. Namun di sisi lain, manusia yang bunuh diri ketika realita di sekitarnya tidak bisa menemukan jalan keluar.

Psikolog UB Cleoputri Yusainy (Aris)

“Tidak semua emosi di usia muda juga melatarbelakangi bunuh diri, mengingat setiap orang berbeda – beda cara mengelolanya. Jadi antara usia muda dengan tua yang bunuh diri perbandingannya 11:12 lah,” tutur Cleoputri, kepada awak media di Rektorat UB (8/8)

Menurutnya, membangun komunikasi dengan keluarga, teman, lingkungan, dan Psikolog menjadi langkah untuk mengantisipasinya. Meski tidak semuanya ‘curhat’ dapat menyelesaikan masalah, beberapa kasus depresi berat pun perlu dilakukan penanganan medis lebih lanjut. (Swd / Ars)

Kanal Terkait