Banjir Malang, Problem Yang Terjadi Sejak Era Kolonial - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Banjir Malang, Problem Yang Terjadi Sejak Era Kolonial
BERITA HIGHLIGHT STRAIGHT NEWS

Banjir Malang, Problem Yang Terjadi Sejak Era Kolonial

SATUKANAL.com, MALANG– Hujan deras yang mengguyur Kota Malang di bulan Januari-Februari ini telah mengakibatkan banjir di sejumlah titik. Beberapa jalan utama Kota Malang seperti Jalan Soekarno Hatta mengalir deras ke arah utara, sekitar patung Sudimoro yang permukaannya lebih rendah. Selain Soekarno Hatta, hujan deras juga menyebabkan banjir di kawasan Gajayana, Letjen S. Parman, Galunggung  dan Bantaran.

Tak heran apabila hujan deras dan banjir lantas menghasilkan sejumlah masalah lain. Diberitakan oleh satukanal.com pada Senin (18/01/2021), banjir terjadi di 4  kecamatan dan menyebabkan 260 rumah terendam dan satu orang dinyatakan hilang. Empat kecamatan tersebut antara lain Klojen, Sukun, Kedungkandang dan Lowokwaru. BNPB bahkan menyebut bahwa insiden banjir yang terjadi di Kota Malang tersebut juga menyebabkan struktur tanah di beberapa wilayah Kota Malang menjadi labil.

Sebagai salah satu kota terbesar kedua di Jawa Timur, Kota Malang termasuk kota yang rawan banjir. Dikutip dari penelitian Asti dan Utami yang berjudul “Adaptasi Bangunan di Permukiman Betek dari Ancaman bencana Banjir”, setidaknya terdapat 58 kawasan di di wilayah Kota Malang yang rawan terjadi bencana saat musim hujan, baik tanah, longsor, banjir maupun puting beliung.

Atas hal tersebut, Wali Kota Malang Sutiaji turut memberikan komentar terkait banjir tersebut. Menurutnya, selain hujan yang turun deras, penyebab banjir yang sering terjadi tak lain karena adanya drainase yang tidak berfungsi atau tersumbat oleh tumpukan sampah.

Sutiaji menyebut bahwa pembersihan saluran air di kawasan rawan banjir di Kota Malang seperti Soekarno-Hatta sering dilakukan. Namun saat musim hujan, banjir di lokasi tersebut masih tetap terjadi, katanya dilansir dari laporan satukanal.com, Kamis (7/01/2021).

Sedangkan Kepala DPUPRPKP Kota Malang menyebut, curah hujan yang terjadi selama 2,5 jam nonstop telah menyebabkan sejumlah titik terkena banjir dan patut di waspadai. Ia juga menghimbau kepada pengusaha ataupun masyarakat umum yang hendaak mendirikan bangunan agar tidak menutup saluran air. Sehingga pemberisihan sampah bisa dilakukan oleh Satgas DPUPRPKP.

Baca Juga :  Musrenbang Pemuda, Milenial Dituntut Ikut Serta dan Jadi Kunci Penting Pembangunan Daerah

Meskipun demikian, sebenarnya hampir setiap tahun Kota Malang selalu dilanda banjir ketika hujan turun dengan intensitas tinggi. Titik rawan banjir pun tak berubah dengan ketinggian air yang bervariasi, mulai dari sebatas mata kaki hingga perut orang dewasa.

Fenomena ini kemudian membuat Badan Penanggulangan Banjir Daerah (BPDB) Kota Malang juga menyebut bahwa sistem drainase yang buruk di Malang menjadi penyebab sekaligus biang kerok luberan air yang terjadi dimana-mana.

Esti Widodo dan Diana Ningrum dalam penelitiannya yang berjudul “Evaluasi Sistem Jaringan Drainase Permukiman Soekarno Hatta Kota Malang Dan Penanganannya” terkait kelayakan dan fungsi drainase di Jalan Soekarno Hatta sisi Kelurahan Jatimulyo.

Hasilnya menyebutkan, sebagian besar saluran drainase yang ada di Malang di klaim tidak mampu lagi menampung air hujan sehingga mengakibatkan genangan sesaat. Apalagi dengan pertumbuhan bangunan di dekat wilayah kampus, membuat volume ke drainase ikut meningkat pula.

Terkait permasalahan sistem drainase Kota Malang memang bukan merupakan hal yang baru lagi. Drainase yang berada di ketingggian 440 sampai 667 meter di atas permukaan laut memang memang menjadi permasalahan sejak 1918, empat tahun sejak Malang ditetapkan sebagai Kota Madya (Gemeente) dan lepas dari Pasuruan.

Dalam sebuah penelitian dari Reza Hudiyanto yakni “Mengungkap Unsur Air dalam Sejarah Kota Malang: Pengelolaan Assainerring dan Gorong-Gorong Kota 1914-1940” menyebut, jalanan di Malang banyak berubah menjadi lumpur saat musim hujan. Selain itu, selokan yang menjadi jalur air limbah di permuiman penduduk juga bermasalah.

Disebutkan, saat itu permukiman warga Eropa dekat dengan kampung bumiputera. Mereka mengeluhkan banyaknya nyamuk dari aliran air yang mampet serta bau busuk yang menyengat. Sebaliknya, warga kampung juga merasa terganggu oleh got0gt rumah orang Belanda yang kotorannya bermuara di area kampung. Sedangkan untuk membereska maslaha saluran air tersebut, tentu warga tak punya dana yang cukup.

Baca Juga :  Atasi Masalah Ketersediaan Air dan Sanitasi, Pemkot Malang : Sumur Resapan Jadi Solusi

Wali Kota Malang di era itu, H.I Bussemaker bersama komisi higienis Kreosan dan Th de Rochemont menemukan bahwa adanya penyumbatan saluran air antar kampung. Ditambah lagi dengan keluhan tentang perilaku warga yyang kerap buang air besar di selokan.

Kemudian, pada 1952 pemerintah menata rencana pengelolaan drainase. Pengelolaan dilakukan dengan mempertimbangan topografi Mlang dengan duaa sungai yang cukup dalam yakni Brantas dan Sukun. Genangan air dialirkan melalui pipa kotoran dan tinja manusia ditampung di sistem septic tank. Pembangunan got-got besar di samping jalan juga bermuara di dua sungai tersebut.

Nyatanya, masalah masih saja timbul meski higga tahun 193 kapasitas got dan drainase dianggap cukup. Faktor penyebabnya tak lain karena jumlah penduduk yang kian padat serta adanya perilaku buang air besar warga kampung yang masih belum bisa dihilangkan. Alhasil, banyak got dan saluran kotoran limbah terutama di kawasan pusat kota yang tak bisa menampung pembuangan.

Reza dalam tulisan juga menyebut jika pemerintah kolonial baru hanya memperhatikan pembangunan saluran air jika itu berkaitan dengan pemukiman Eropa. Saluran air dari kampung yang terhubung dengan pemukiman Eropa akan diperhatikan. Apabila lokasinya jauh dari pemukiman Eropa, pemerintah enggan untuk memperhatikan.

Hingga kini, sistem drainase Kota Malang terbilang belum optimal. Meski telah dilakukan perbaikan di sana sini. Saat hujan deras mengguyur Kota Malang, maka beberapa daerah langganan banjir akan mengalami hal serupa lagi. Masyarakat pun, tentu dirugikan atas keadaan ini.

 

 

 

 

Pewarta: Adinda
Editor: Redaksi Satukanal

Kanal Terkait