Arfan Adhi, Sineas yang Bertekad Populerkan Malang Lewat Film Berbahasa Kiwalan - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Arfan, sineas yang memiliki kepedulian terhadap daerah asalnya (foto: Chosa Setya/satukanal.com)
BERITA Kanal Figur Kanal Highlight

Arfan Adhi, Sineas yang Bertekad Populerkan Malang Lewat Film Berbahasa Kiwalan

Sejak usia lima tahun, Arfan Adhi Perdana dikenalkan oleh ibunya dunia peran. Sebuah modal yang dibawanya, ketika bergelut di dunia film, baik sebagai aktor, maupun sutradara.

Chosa Setya Ayu Widodo – Satukanal.com

PINTU rumah gaya modern bercat krem di Desa Donowarih Kecamatan Karangploso, Kota Malang ini terbuka. Seorang wanita menyembul di balik pintu. Menyambut ramah kedatangan wartawan satukanal.com.

Sesaat kemudian, wanita bernama Adelia Rahmawati itu memanggil Arfan Adhi Perdana, suaminya. Arfan, yang juga sosok ramah ini banyak berbicang tentang dunianya: film. Dia telah menggarap puluhan judul film. Uniknya, dia sosok yang serba bisa. Bisa merangkai adegan sebagai sutradara, juga tampil di depan kamera sebagai aktor.

Beragam penghargaan juga direngkuhnya. Di antaranya juara III Inovasi Digital Mahasiswa 2020 berkat filmnya berjudul ‘Hari Esok’. Dia juga baru menyabet penghargaan Best Director dan Most Viewers untuk film berjudul ‘Bumi’. Disusul prestasi sebagai Best Actor dalam acara Indodax Short Film Festival 2020.

Pria yang juga dosen pada program studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu mengeluti dunia seni sejak usia lima tahun. ”Dulu ibu saya sering mengajak saya ikut mengisi operet, drama musikal. Di situlah mulai dikenalkan dunia seni peran terus sering ikut lomba-lomba,” terangnya

Kematangan di dunia seni dia peroleh saat kuliah di UMM. Dia menggarap skripsi dengan judul “Analisi Teks Media”. Kala itu dia menempuh program studi S1 di UMM Jurusan Ilmu Komunikasi. Alasannya sejak awal dia ingin mengkolaborasikan antara audiovisual dan teks dalam sebuah film. Berkat skripsinya dia semakin sering diajak turut berpartisipasi dalam pembuatan film oleh rekan mahasiswa dan produser film.

Baca Juga :  Siti Rahmania Rauf, Sosok Pencipta Sajak ‘Ini Budi’ di Pelajaran Membaca

Pria kelahiran Pontianak ini juga kerap kali dijadikan mentor untuk riset film dokumenter. “Barusan saya jadi fasilitator dari Kemenparekraf (Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) di Jayapura, Klaten dan Jogja,” paparnya.

Dunia seni peran memang sudah menjadi bagian hidup dari pria yang akrab disapa Bang Arfan ini. Berbagai judul film juga dia perani. Arfan sering kali menggaet seniman muda untuk berkarya bersamanya.

Lelaki yang sedang mengambil studi S2 Jurusan Sosiologi Komunikasi ini juga memiliki pengalaman unik selama produksi di tengah pandemi. “Sempat kesulitan karena tidak boleh membuat pengumpulan massa dengan skala besar. Belum lagi untuk mengakses beberapa tempat kami juga dibatasi,” ujar pria 43 tahun tersebut. Namun, dia bisa tersenyum karena kemudahan yang ada pasca Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) berakhir. Pada akhirnya ia bisa menyalurkan kreativitasnya lagi setelah sekian berhenti. Seperti mulai keikutsertaannya pada pemutaran film pendek di Dewan Kesenian Malang.

Sekarang, dia sedang fokus untuk menyelesaikan proses editing film garapan terbarunya yang berjudul “Seseorang yang Menutupi Layar”. Rencananya, film ini akan diputar untuk pertama kali di Europe on Screen pada April tahun depan.

Baca Juga :  Ziyana Mumtazah, Anak Petani Jadi Duta Pemuda Sosial Jombang

Alasan diputarnya film tersebut juga bukan kebetulan. Itu karena dia masuk nominasi Short Film Pitching Project yang diadakan pada November 2020 lalu. Cerita di dalamnya mengisahkan tentang penggiat film yang resah dan mencari cara agar pemutaran film kembali ramai. Uniknya, karyanya ini menggunakan dialog bahasa “kiwalan” atau bahasa walikan khas Malang yang merepresentasikan karakter asli Arek Malang.

Dia ingin mempopulerkan Malang yang juga punya bahasa khas. Tak hanya itu, setting lokasi pun banyak di Malang Raya. “Kalau butuh setting heritage bisa di Malang kota, kita juga punya keindahan pesisir di area Malang Selatan. Kita sudah kaya, tinggal memilih setting saja,” ujarnya.

Menurutnya, dialog Malangan yang dimiliki juga merupakan daya tarik tersendiri. Karena tak dimiliki daerah lain. Ia menyayangkan jika kekayaan yang sudah dimiliki ini sampai tergerus oleh budaya metropolitan bawaan mahasiswa luar kota.

Kedua buah hatinya juga mulai mengikuti bakat sang ayah. “Mulai kecil mereka memang sudah dibiasakan sama ibunya dengan diajak nonton film. Mereka jadi lebih cepat tanggap kalau diajarkan sesuatu lewat film,” jelas Arfan.

Ke depannya, ia berharap bisa lebih memaksimalkan potensi kreator asli Malang. Karena menurutnya banyak bisa lebih dikembangkan lagi. “Malang ini luar biasa dengan keanekaragaman yang tidak dimiliki daerah lain. Saya sangat ingin lebih mengembangkan lagi dunia perfilman yang ada di sini,” tekadnya. (*)

Editor : Danu Sukendro

Kanal Terkait