Aplikasi AWS Dari UGM, Bantu Petani Membaca Kondisi Cuaca - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Aplikasi AWS Dari UGM, Bantu Petani Membaca Kondisi Cuaca
Foto: UGM
Kanal Straight

Aplikasi AWS Dari UGM, Bantu Petani Membaca Kondisi Cuaca

SATUKANAL.com, NASIONAL– Automatic Weather Sensor (AWS) yang merupakan aplikasi berbasis tekonologi sensor untuk membantu petani pembaca kondisi cuaca dan tanah telah diterapkan di puluhan Kabupaten Indonesia.

Saat ini, aplikasi temuan peneliti Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta sudah diterapkan di 22 kabupaten di seluruh Indonesia. “Untuk penerapannya bekerja sama dengan kementerian dan lembaga antara lain Bappenas, Kemenko Perekonomian, Kementan, Kominfo, Kemendesa, Bank Indonesia, BNI, BRI dan beberapa industri swasta,” kata Bayu Dwi Nugroho, penemu aplikasi yang juga Dosen Fakultas Teknologi Pertanian UGM.

Menurut Bayu, aplikasi yang memiliki konsep smart farming 4.0 ini juga berhasil menyabet juara pertama dari ajang yang digelar komunitas peneliti di Jerman, Hermes Award untuk kategori Startup.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa AWS juga telah menjadi aplikasi percontohan Asian Development Bank (ADB) melalui Bappenas untuk digitalisasi pertanian dengan pilot project di Pasaman Barat (Sumatera Barat) dan Sukabumi (Jawa Barat). Sedangkan untuk tahun 2021 ini akan direplikasi ke 76 kabupaten di Indonesia.

Meski aplikasi itu telah diterapkan, Bayu mengatakan pengembangan-pengembangan masih terus dilakukan pihaknya bersama tim. Misalnya penambahan beberapa fitur, seperti chatbot (konsultasi pertanian dengan robot), voice command seperti Siri milik Apple, sehingga petani bisa bertanya langsung dengan suara tanpa melakukan pengetikan. “Kami juga melakukan penyempurnaan identifikasi hama dan penyakit tanaman dengan Artificial Intelligence (AI) untuk berbagai komoditas,” katanya.

Baca Juga :  Lonjakan Covid-19, Ini Cara Penggunaan Masker Ganda Untuk Proteksi Diri

Disebutkan, bahwa saat ini, aplikasi tersebut masih terbatas untuk lima komoditas pertanian yakni paadi, jagung, kedelai, cabai dan bawang merah. Sedangkan penyempurnaan fitur KUT(Kredit usaha Tani) dalam aplikasi itu juga bekerja sama dengan perbankan.

“Jadi harapannya nanti, petani apabila mengajukan kredit, langsung dari aplikasi dan terkoneksi dengan sistem di perbankan, sehingga bisa langsung dinilai dari sistem apakah disetujui atau tidak dan hasilnya bisa dicek di aplikasi,” katanya.

Pengembangan aplikasi juga membidik integrasinya dengan e-commerce pertanian. Dari aplikasi tersebut juga sudah disiapkan fitur e-commerce hasil pertanian, sehingga petani juga bisa menjual hasil panennya langsung dari aplikasi.

Selain sensor cuaca dan tanah, dalam pertanian cerdas atau smart farming  juga diperlukan suatu alat untuk monitoring, pemetaan dan otomatisasi pemupukan, sehingga perlu dipadukan sensor cuaca dan tanah tadi dengan drone.

Drone ini ada dua, yaitu drone surveillance dan spayer. Drone surveillance mempunyai tiga fungsi, yaitu pertama memetakan kondisi lahan dan mendeteksi kondisi lahan di tiap petak.

“Karena kita tahu kondisi dan kebutuhan tiap petak berbeda-beda, sebagai contoh ada petak yang kekurangan pupuk. Sedangkan petak lahan yang lain kurang air, sehingga sensor/alat yang kita pasang juga akan berbeda tiap petaknya,” kata dia.

Baca Juga :  Bisa Temani Akhir Pekan! Ini 5 Situs Nonton Film Online Gratis dan Legal

Kedua, drone survaillance ini juga terbang 3-4 kali selama musim tanam. Hal ini berfungsi untuk mendeteksi apakah tanaman tumbuh sesuai fasenya atau terjadi kerusakan, atau tanaman terkena serangan hama/penyakit tanaman. Kemudian, fungsi ketiga berkaitan dengan perbankan atau asuransi pertanian.

Drone surveillance akan men-capture lahan yang disinyalir terjadi kerusakan, sehingga capture kerusakan lahan tersebut bisa dijadikan dasar perbankan atau asuransi pertanian untuk memberikan kompensasi kerusakan tanaman ke petani,” katanya.

Sementara itu, drone sparyer berjalan setelah adarekomendasi dari sensor yang terpasang di lahan yang berkaitan dengan prediksi dari algoritma prediksi cuaca dan jadwal kebiasaan petani dalam melakukan penyemprotan.

Tidak hanya itu, diperlukan pula fitur-fitur dalam aplikasi yang mendukung pertanian cerdas ini. Menurut Bayu, pengembangannya bertujuan memudahkan pengguna yakni para petani. Ia juga mengatakan, untuk chatbot yang dimaksudkan adalah jika petani bertanya tentang pertanian, maka dapat langsung mengetik dan akan dijawab langsung oleh mesin (bot).

Adapun, voice command atau speaker aktif, petani bisa langsung bertanya menggunakan suara dan dalam perkembangannya voice command ini dikembangkan dengan menggunakan bahasa daerah. Hal ini untuk mempermudah petani yang sebagian besar menggunakan bahasa daerah masing-masing dalam berkomunikasi.

 

 

 

Pewarta : Adinda
Editor : Redaksi Satukanal

Kanal Terkait