SATUKANAL.COM
BERITA STRAIGHT NEWS

Anggap Twit Dibantah dengan Klaim, Bukan Fakta

Tulisan Ketua PW Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Papua Frizt Haryadi pun ramai di medsos. Dandhy Dwi Laksono (DDL), yang walau dibebaskan pihak kepolisian tapi tetap berstatus tersangka, menjawab debunk Fritz.

DDL membalik tulisan tersebut dan menyebutnya tidak hanya polisi yang menjadikan dirinya kambing hitam atas konflik Papua. “…juga beberapa netizen. Salah satunya oleh Sdr Fritz Haryadi yang mengaku sebagai pengurus Lembaga Komunikasi NU di Papua,” tulis DDL yang menjawab debunk Frizt dengan judul “Saya Menjawab Debunk”.

“Ada beberapa poin yang beliau tulis. Salah satunya tentang posting saya bahwa kericuhan di Jayapura pada 23 September 2019 (bukan Wamena) yang menewaskan 3 mahasiswa dan 1 personel TNI dimulai saat mahasiswa Papua yang eksodus (pulang kampung) dari beberapa kampus di Indonesia, hendak membuka posko di Universitas Cenderawasih. Kalimat posting saya di Twitter: JAYAPURA (foto 1). Mahasiswa yang eksodus dari kampus-kampus di Indonesia, buka posko di Uncen. Aparat angkut mereka dari kampus ke Expo Waena. Rusuh. Ada yang tewas.”
(Hati-hati dengan kata Expo Waena dan Wamena. Ini dua hal dan lokasi yang jauh berbeda). Dari kalimat ini, lalu Saudara Fritz Haryadi membuat apa yang ia sebut “Debunk Twit Hoax Aktivis DDL tentang Jayapura dan Wamena”.

DDL melanjutkan bahwa fakta terkait hal pertama dari Fritz yang diklaim sebagai “debunk twit hoax” (mengungkap kesalahan) ini justru mengandung hoax yang akut. “Pertama, posting Saudara Frtiz Haryadi ini tidak mengajukan foto untuk mendukung “fakta” yang ia klaim tentang spanduk bertuliskan “Posko UMLWP”. Jadi ia hendak membantah twit saya dengan klaimnya sendiri. Bukan dengan fakta baru. Kedua, sebenarnya saya tak berniat menanggapi substansi perkara yang sudah menjadi urusan hukum dengan polisi ini di media sosial seperti ini. Namun karena ada beberapa posting lain yang sejenis, dan ekskalasi di Papua sedang meningkat, saya khawatir pengkambinghitaman ini akan semakin menguat,” lanjut DDL.

Dia juga memposting foto posko mahasiswa yang eksodus dan tidak ada kaitan dengan ULMWP.
Dalam foro tersebut, DDL menerangkan, Fritz hanya berspekulasi dan menyimpulkan dengan kalimat losko ULMWP dalam spanduk. Hal itu terjadi karena Fritz hanya melihat foto spanduk yang tulisnya terpotong. “Selintas memang seperti “Posko UML… Pelajar dan M… siswa Exsod….Ini yang jadi fatal,” lanjut tulisan DDL.

Pertama, tulisan aslinya adalah “POSKO UMUM”. Kedua, kalaupun beliau terburu nafsu mengaitkan gerakan mahasiswa dengan organisasi ULMWP, foto spanduk ini pun tidak mendukung. Karena bagian yang terbaca adalah “U-M…” (dan sedikit huruf U yang terpotong dan terlihat seperti huruf L), bukan U – L – M seperti urutan singkatan dari ULMWP (United Liberation Movement for West Papua).

DDL pun menegaskan dalam penutup tulisan sebagai berikut: “Jadi sesungguhnya siapa yang menyebar hoax dan bahkan memfitnah mahasiswa? Sekali lagi, ini detil-detil yang mestinya menjadi bahan saya menghadapi perkara hukum. Tapi pengkambinghitaman yang sistematis di media sosial tampaknya juga tak bisa diabaikan begitu saja dan perlu saya respon agar tidak menjadi fitnah.
Bukan hanya terhadap saya, terlebih terhadap mahasiswa dan semua manusia apapun latar belakang suku dan agamanya ¬†yang hidup di garis depan konflik seperti Papua,” pungkas tulisan DDL.

Kanal Terkait