Akali Kenaikan Cabai, Warga Kabupaten Malang Pilih Bubuk Cabai Jadi Gantinya - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Diprediksi akan terus naik/foto: Ubaidhillah
BERITA HIGHLIGHT

Akali Kenaikan Cabai, Warga Kabupaten Malang Pilih Bubuk Cabai Jadi Gantinya

Satukanal.com, Malang – Sepekan terakhir, cabai di Kabupaten Malang kembali mengalami kenaikan harga. Kenaikan tersebut juga masih disebabkan oleh cuaca ekstrem yang terjadi dibeberapa wilayah yang mengakibatkan banyak petani gagal panen.

Hal tersebut membuat stok cabai terbatas dan membuat harga cabai rawit melonjak tajam. Pada bulan Maret ini, harga cabai rawit di Kabupaten Malang sudah menyentuh angka Rp 100 ribu per kilogramnya. Semakin langka barang di pasaran seperti cabai, semakin naik pula harga jualnya.

Salah satu pedagang sayur-mayur di Pasar Landungsari, bernama Sigit menjelaskan bahwa, dalam beberapa hari terakhir harga cabai di Malang terus mengalami kenaikan. Pada Kamis (10/3/2021) Sigit mengatakan, kini harga cabai rawit sudah menyentuh angka Rp100 ribu per kilonya.

Sementara itu, menurut pemaparan Sigit pada 2 minggu yang lalu, harga cabai di Kabupaten Malang pernah mencapai angka Rp 120 ribu per kilogramnya. “Dua minggu lalu pernah Rp 120 ribu per kilo, tapi sekarang sudah mulai penurunan jadi 100 ribu, namun sampai sekarang cabai juga masih langka” Ujarnya.

Kelangkaan cabai rawit dipasaran memang sering terjadi ketika musim hujan melanda. Hujan deras, mengakibatkan banyak tanaman cabai milik petani cepat busuk. Sigit menyampaikan, harga cabai nantinya dapat kembali normal dan stabil ketika musim hujan berakhir. Kondisi cuaca yang panas, dapat meningkatkan produksi panen para petani.

Baca Juga :  Mengingat Kembali Pertemuan Terseru Arema FC vs Barito Putera

Kenaikan cabai rawit juga turut dirasakan warga Sumbersekar Dau, Kabupaten Malang. Purwati selaku warga setempat yang membeli kebutuhan pokoknya di Pasar Landungsari menyampaikan, kondisi keluarganya yang notabene gemar menyantap makanan pedas, ketika harga cabai melambung hingga Rp 100 ribu per kilogram, tentunya sangat berdampak.


“Sekarang harga cabai naik sampai Rp 100 ribu per kilogramnya. Jadi, kalau beli cabai tidak banyak-banyak. Hanya beli secukupnya saja” Ujarnya.

Meningkatnya harga jual cabai membuat para pelaku usaha bahkan ibu-ibu rumahan seperti Purwati memilih untuk mengganti cabai rawit segar menggunakan bubuk cabai yang yang tersedia di berbagai toko penjual bahan makanan.

“Kalau ingin membuat makanan pedas bisa diakali menggunakan bubuk cabai rentengan yang dijual di toko-toko, harganya juga murah cuma Rp 7 ribu saja. Meskipun rasa makanan tidak seenak menggunakan cabai asli, tapi rasa pedas bisa diakali dengan bubuk cabai itu” Ungkapnya pada tim Satukanal.com.

Purwati juga membagikan beberapa tips agar bisa mengatasi kenaikan harga cabai saat musim hujan. Ia menjelaskan, ketika harga cabai mulai turun dan cenderung normal, cabai tersebut dikeringkan lalu di giling sehingga menjadi bubuk cabai kering.

Baca Juga :  Capai 72 Ribu Ton, Stok Beras Kabupaten Malang Aman Hingga Lebaran

Bubuk dari cabai kering tersebut dapat disimpan dalam waktu yang lama. Sehingga, hal ini merupakan salah satu carannya agar rasa masakan tetap pedas ketika harga cabai melambung tinggi seperti sekarang ini.

Sebagai informasi, para petani Kabupaten Malang yang mengalami gagal panen berupaya mengatasi tingginya harga cabai. Salah satunya dengan melakukan barter komoditi. Barter komoditas tersebut dilakukan karena sejumlah petani di Kabupaten Malang mengaku mengalami gagal panen, karena curah hujan yang tinggi dalam beberapa waktu terakhir ini yang membuat bunga cabai rontok.

Budiar Anwar selaku Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang mengatakan, para pedagang saat ini mengambil suply cabai dari pedagang lain yang memiliki stok cabai melimpah.

“Mereka memiliki pemikiran untuk barter komoditas, artinya bukan barter (tukar menukar) yang sesungguhnya. Sistemnya tetap beli, dan saat ini sudah dilakukan. Di pasar-pasar induk, hal itu sudah dilakukan. Seperti di Pasar Mantung di Pujon, atau di Pasar Karangploso,” Ungkapnya.

 

 

 

 

 

Pewarta : Naviska 
Editor : Redaksi Satukanal

Kanal Terkait