Adat Masyarakat, Jadi Andalan Kampung Budaya Polowijen - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Adat Masyarakat, Jadi Andalan Kampung Budaya Polowijen
Kampung Budaya Polowijen (Foto: Chosa Setya/ Satukanal.com)
BERITA Kanal Highlight Kanal Pesona

Adat Masyarakat, Jadi Andalan Kampung Budaya Polowijen

Satukanal.com, Malang – Sejenak menepi ke sisi utara Kota Malang, terdapat sebuah perkampungan masyarakat yang bernama Kampung Budaya Polowijen. Kampung ini masih menjunjung nilai-nilai adat istiadat dalam kehidupan sehari-harinya. Senyuman ramah warga menyambut kedatangan wartawan Satukanal.com saat berkunjung ke Kampung Budaya Polowijen.

Salah satu bagian dari Kampung Tematik Kota Malang, yang menjadi terobosan dari destinasi wisata dalam Kota Malang. Suasana yang tenang dan jauh dari hiruk pikuk perkotaan membuat pengunjung lupa, bahwa dia masih berada di kota. Ditambah lagi hamparan sawah yang mengelilinginya membuat suasana adem ayem makin terasa. Sangat ramah inilah kesan pertama pada penduduk lokal Kampung Budaya Polowijen.

Isa Wahyudi, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Budaya Polowijen (KBP) mengisahkan konsep inilah yang memang menjadi obyek destinasi wisata. Tidak heran jika KBP berbeda dengan kampung tematik lain yang memiliki banyak spot foto didalamnya. Rasanya murni pengunjung sedang dibawa hadir masuk dalam kehidupan masyarakat disana.

“Kami memang sengaja membuat paket wisatanya tidak setiap hari, jadi kalau tidak hadir di waktu-waktu tertentu tidak ada yang bisa kami perkenalkan. Ya hanya kehidupan masyarakat sehari-hari saja jadinya,” ujarnya.

Ki Demang sapaan akrabnya menjelaskan, paket wisata yang ditawarkan memang berbasis edukasi. Mulai dari Sinau budaya, membuat karya Topeng Malangan, sarasehan budaya, belajar menari Topeng Malangan, membatik, nembang dolanan serta berbagai kegiatan budaya lainnya. Ini menjadi keunikan tersendiri yang dimiliki KBP. Tidak banyak perkampung masyarakat dalam kota yang masih mempertahankan adat istiadat dan budaya, bahkan memperkenalkannya ke khalayak umum.

Baca Juga :  Pasien Covid-19 Meningkat, RSL Soepraoen Siap Difungsikan

KBP sendiri resmi berdiri sejak 2 April 2016. Selain mengenalkan warisan budaya setempat, KBP memiliki tujuan untuk membangkitkan ekonomi kreatif masyarakatnya melalui sentra-sentra industri kreatif seperti kerajinan topeng, aneka gerabah, seni pahat, seni pertunjukan, dan lainnya.

Tidak hanya itu saja, untuk meningkatkan minat baca KBP serta dalam upaya meningkatkan budaya literasi di lingkungan masyarakat, KBP merealisasikan melalui Perpustakaan Kampung Budaya Polowijen atas bantuan civitas akademika Universitas WidyaGama. Perpustakaan yang diresmikan pada tahun 2017 silam ini memiliki lebih dari 1.100 koleksi buku didalamnya.

Kini memang kunjungan pada Kampung Budaya yang berada di RT 03 RW 02 kelurahan Polowijen, Kecamatan Blimbing, Kota Malang itu terbilang sepi. Tentunya pandemi menjadi alasan utamanya. Tidak adanya pembelajaran di sekolah turut mempengaruhi kunjungan pada KBP. Belum lagi wisatawan luar kota yang masih dibatasi untuk masuk, makin menambah faktor sepinya KBP.

Namun Ki Demang mengungkapkan, meski tanpa pengunjung masyarakat di KBP tetap melakukan kegiatan. Tentunya kegiatan yang dilakukan tidak lepas dari kegiatan budaya. Contohnya budaya Megengan pada malam-malam menjelang hari raya Idul Fitri beberapa waktu lalu. Saat kegiatan semacam itu dilakukan, masyarakat umum bebas datang.

Baca Juga :  Hafalan Al-Qur'an Antarkan Mahasiswa UMM Ke Turki

“Kami memang kita tujuannya membangkitkan kembali budaya, adat istiadat dan kebiasaan masyarakat yang mulai ditinggalkan di era saat ini. Karena melestarikan budaya yang seperti itu perlu, agar generasi kita kedepan tahu seperti apa sih budayanya,” tambahnya.

Untuk mengunjungi KBP dan merasakan paket wisata budaya yang dipertunjukkan, masyarakat tidak merogoh kocek terlalu dalam. Beberapa paket sesuai dengan jenjang usia telah disiapkan KBP. Hanya cukup mengunjungi laman resmi milik KBP masyarakat atau komunitas sudah bisa melakukan reservasi paket wisata budaya di KBP.

“Kami ingin dengan biaya kurang lebih 50 ribu yang mereka keluarkan mereka sudah dapat banyak. Mereka kita ajak makan bersama ala KBP, sambil melihat tari topeng, kemudian kita aja membatik dan membuat topeng juga. Jadi konsepnya memang paket budaya,” jelasnya.

Ki Demang berharap dengan tujuan melestarikan budaya lokal ini membuat Kampung Budaya Polowijen mampu menarik perhatian khusus masyarakat. Tidak banyak destinasi wisata yang menjual paket budaya di era modern saat ini. Inilah yang menjadi jalan bagi generasi kedepan untuk tetap mengenali dan bahkan masih menerapkan kebiasaan budaya dalam kehidupan sehari-hari mereka.

 

 

Pewarta : Chosa Setya Ayu Widodo
Editor : Redaksi Satukanal

Kanal Terkait