Ada Sejak 250 Tahun Lalu, Lontong Cap Go Meh Jadi budaya Peranakan China-Jawa - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Ada Sejak 250 Tahun Lalu, Lontong Cap Go Meh Jadi budaya Peranakan China-Jawa
BERITA Kanal Highlight Kanal Straight

Ada Sejak 250 Tahun Lalu, Lontong Cap Go Meh Jadi budaya Peranakan China-Jawa

SATUKANAL.com, NASIONAL– Hari ini, Jum’at (26/02/2021), Cap Go Meh diperingati tepat setelah 15 hari Tahun Baru Cina atau Imlek yang jatuh pada tanggal 12 Februari 2021. Biasanya, pada budaya Cap Go Meh orang-orang akan pergi keluar untuk melihat bulan, menerbangkan lampion dan makan bersama keluarga serta kerabat dekat.

Namun, berbeda dengan tahun ini. Kebanyakan orang tidak akan bisa merayakannya bersama keluarga pada acara reuni keluarga karena tidak ada hari libur nasional, sehingga perjalanan jauh pun tidak memungkinkan dilakukan.

Apalagi saat musim pandemi ini, ketentuan berpergian jauh harus melalui protokol yag ketat. Tak sama seperti dulu. Pandemi Covid-19 juga membuat perayaan-perayaan Cap Go Meh tak bisa dirayakan di lokasi-lokasi tertentu, karena adanya aturan jaga jarak dan prokol kesehatan.

Cap Go Meh sendiri dilakukan sejak 2000 tahun yang lalu. Dilansir dari China Highlight, pada awal Dinasti Han Timur Kaisar hanmingsi merupakan seorang pendukung agama Buddha. Ia mendengar, beberapa biksu yang menyalakan lentera di kuil untuk menunjukkan rasa hormat kepada Buddha di hari kelimabelas di bulan lunar pertama.

Baca Juga :  Apple Luncurkan Fitur Baru di iOs 15, apa saja?

Untuk itu, ia memerintahkan agar semua kuil, rumah tangga dan istana kerajaan menyalakan lampion pada malam itu. Kebiasaan ini lambat laun menjadi festival akbar di kalangan masyarakat. Orang-orang akan berkumpul pada malam Festival Lentera, merayakan dengan berbagai kegiatan. Seperti, menyalakan lampion, barongsai, makan tangyuan dan sebagainya.

Kebiasaan dan aktivitas Cap Go Meh dilakukan bervariasi tergantung regional  atau derahnya masing-masing.Di Nusantara sendiri, perayaan Cap Go Meh biasanya dilakukan dengan makan bersama kerabat dekat. Salah satu menu yang dinikmati saat perayaan Cap Go Meh tak lain adalah Lontong Cap Go Meh.

Mengutip dari buku “Hari-Hari Raya Tionghoa” yang ditulis oleh Marcus A.S terbitan Suara Harapan Bangsa, lontong Cap Go Meh sudah ada sejak lebih dari 250 tahun yang lalu. Lontong Cap Go Meh ibarat ketupat saat perayaan Idul Fitri di Indonesia. Bagi sebagian besar orang Indonesia yang merayakan Cap Go Meh, perayaan Cap Go Meh terasa tak lengkap jika tidak ada lontong cap go meh.

Penelitian Listya Ayu Saraswati dan P Ayu Indah Wardhani yang bertajuk Perjalanan Multikultural dalam Sepiring Ketupat Cap Go Meh menjelaskan Cap Go Meh berasal dari dialek bahasa Hokkian yang berarti malam ke-limabelas.

Baca Juga :  Awas Banyak Developer Nakal! Ini Tips Membeli Perumahan Yang Aman

Sejarahnya Lontong Cap Go Meh ketika pada abad ke-14, saat itu para imigran China dilarang membawa wanita. Akhirnya mereka menikahi wanita Jawa Lokal sehingga menciptakan budaya peranakan China-Jawa. Ketika mereka menetap di Jawa, orang Tionghoa tersebut sudah terbiasa dengan masakan tradisional buatan istri mereka.

Sejak saat itu Yuanxiao (Bola Nasi) tradisional diganti dengan lontong, kue beras lokal yang lalu disajikan dengan berbagai hidangan Jawa. Lontong Cap Go Meh diyakini melambangkan asimilasi dua budaya, suasana meriah tahun baru dan simbol keberuntungan.

Sementara itu, setiap komponen yang ada dalam sepiring hidangan ini juga memiliki makna filosofis yang mendalam. Menurut berbagai sumber yang dihimpun, lontong bulat yang berbentuk seperti bulan melambangkan purnama. Kemudian, bubuk kedelai melambangkan rezeki. Lalu, parutan kelapa dan kedelai yang dikukus atau disebut docang serta abing melambangkan kesucian.

 

 

 

 

Pewarta: Adinda
Editor: Redaksi Satukanal

Kanal Terkait