700 Koleksi Alat di Museum Kesehatan Jiwa Malang, Ini Cara Pengobatan Gangguan Jiwa Zaman Kolonial - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
BERITA Kanal Highlight Kanal Straight

700 Koleksi Alat di Museum Kesehatan Jiwa Malang, Ini Cara Pengobatan Gangguan Jiwa Zaman Kolonial

Satukanal.com, Nasional – Salah satu museum di Kota Malang yakni Museum Kesehatan Jiwa yang berlokasi di Jalan Ahmad Yani, Lawang, Kabupaten Malang, menjadi salah satu destinasi wisata serta sarana edukasi yang dapat dikunjungi ketika berwisata di Malang.

Identik dengan pintu dan jendela besar, bangunan museum satu ini sangat kental dengan nuansa Belanda. Saat memasuki pintu utama, pengunjung akan di sambut oleh beberapa manekin dengan baju suster dan dokter era kolonial yang berdiri tepat didepan pintu masuk.

Museum merupakan tempat yang menyimpan barang-barang kuno atau bersejarah. Sehingga, ketika memasuki area museum, kesan angkerpun sering melekat. Begitu pula di museum Kesehatan Jiwa ini.

Museum yang masih berada satu area dengan Rumah Sakit Jiwa Dr. Radjiman Wediodiningrat ini, merupakan satu-satunya museum kesehatan jiwa di Indonesia. Rumah Sakit Jiwa Dr. Radjiman Wediodiningrat ini sendiri juga merupakan salah satu rumah sakit jiwa tertua di Indonesia.

Di dalam Museum Kesehatan Jiwa dr. Radjiman Wediodinigrat, terdapat sekitar 700 koleksi alat-alat yang digunakan untuk kesehatan jiwa pada zaman dahulu. Beberapa benda koleksi museum tersebut bahkan terkesan sadis untuk digunakan pada manusia. Salah satunya adalah koleksi balok kayu yang digunakan untuk memasung orang gangguan jiwa.

Pada museum tersebut juga terdapat alat pemotong tengkorak yang masih digerakkan dengan tangan. Ada juga pisau pemotong tulang dan sebagainya. Entah bagaimana cara pengoperasian alat pemotong tersebut. Namun, jika dilihat sepintas alat tersebut berfungsi seperti bor yang digerakkan manual menggunakan tangan.

Baca Juga :  Aturan Baru Polri, SIM C Bakal Digolongkan Jadi SIM C1 dan C2

Museum tersebut juga memiliki alat electro convulsive theraphy, yakni sebuah alat yang digunakan untuk proses terapi pasien dengan cara mengalirkan arus listrik tegangan rendah melalui elektroda di kepala pasien.

Electro convulsive theraphy tersebut digunakan untuk pasien yang menderita depresi berat, sangat gaduh, cenderung ingin bunuh diri atau menelantarkan diri, gelisah dan tidak responsif terhadap obat-obatan.

Tak hanya beberapa koleksi alat guna mengatasi orang gangguan jiwa, pada museum tersebut para wisatawan juga bisa melihat secara langsung hasil karya para pasien Rumah Sakit Jiwa, di mana mereka bisa membuat lukisan menjadi sangat nyata, dan begitu cantik.

Terdapat 15 lukisan karya para pasien, ada yang mengusung aliran realis yang diwujudkan dalam lukisan berupa pemandangan alam pegunungan dan sawah, bunga mawar merah, dan lain-lain. Ada pula yang beraliran abstrak karena hanya berupa coretan-coretan berbagai warna pada kain yang dijadikan alas melukis.

“Di sini lebih banyak lukisan abstrak. Banyak cerita yang ingin diungkapkan pasien. Nah, melukis, bermain alat musik, menjahit hingga bercocok tanam merupakan kegiatan rehabilitasi pasien agar bisa menemukan bakat dan minatnya. Juga sebagai langkah agar mereka siap kembali ke masyarakat,” Ujar Kepala Museum, Mashud, SE.

Namun, menurut Mashud, keberadaan museum ini masih belum diketahui oleh masyarakat. Padahal biaya tiket masuk museum ini tidak dipungut biaya sama sekali alias gratis.

Baca Juga :  Ingat! Hari Ini Pengumuman Hasil SBMPTN 2021, Ini Link Aksesnya

Sebagai informasi, Museum Kesehatan Jiwa ini telah diresmikan pada 23 Juni 2009 dan bertepatan dengan hari jadi RSJ dr. Radjiman Wediodiningrat yang ke-107. Rumah Sakit Jiwa Dr. Radjiman Wediodinigrat Lawang sendiri didirikan berdasar Surat Keputusan Kerajaan Belanda No. 100 tanggal 30 Desember 1865.

Sedangkan pengerjaan pendirian bangunan rumah sakit sendiri baru dimulai pada tahun 1884. Sebelum rumah sakit dibangun, pengelolaan pasien mental diserahkan kepada Dinas Kesehatan Tentara Belanda dan pada 23 Juni 1902, Rumah Sakit Jiwa ini dibuka secara resmi dengan nama Krankzinigen Gesticht te Lawang.

Awal dibukannya Rumah Sakit Jiwa tersebut, terdapat 500 tempat tidur dan pada saat zaman kolonial waktu itu, rumah sakit jiwa ini hanya melayani orang-orang kaya saja. Dalam perkembangannya kemudian, rumah sakit tersebut juga diperuntukkan bagi warga pribumi.

Mashud menyampaikan bahwa, pengunjung museum ini kebanyakan adalah kalangan anak SMA dan mahasiswa yang mendapat tugas untuk belajar. Selain itu, ada juga pengunjung dari mancanegara yang datang. Museum Kesehatan Jiwa ini buka pada hari Senin hingga Jumat, mulai dari pukul 08.00 hingga15.00 WIB, musem ini tampaknya bisa menjadi destinasi wisata saat ke Lawang, Malang.

 

 

 

 

Pewarta : Naviska Rahmadani
Editor : Redaksi Satukanal

Kanal Terkait