63 Persen Warganet Asia Tenggara Gemar Nonton Film Streaming Ilegal, Indonesia? | SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Tangkapan layar wajah situs IndoXXI. (Foto: Dokumen Satukanal)
BERITA HIGHLIGHT RISET

63 Persen Warganet Asia Tenggara Gemar Nonton Film Streaming Ilegal, Indonesia?

SATUKANAL – Beberapa pekan terakhir, masyarakat banyak membincangkan terkait rencana Kementerian Kominfo memblokir situs-situs menonton film atau streaming ilegal. Pada kenyataannya, kegemaran seperti itu juga dilakukan sebanyak 63 persen warganet di Asia Tenggara.

Data tersebut merupakan hasil sebuah survei yang dilakukan oleh Asia Video Industry Association’s (AVIA) Coalition Against Piracy (CAP). AVIA CAP menemukan bahwa di tengah booming layanan streaming hiburan online, mayoritas konsumen online di Indonesia lebih suka menonton film secara gratis melalui situs web ilegal. Situs streaming indoXXI telah menjadi pilihan yang populer.

Sementara, survei lain yang dilakukan oleh perusahaan data dan opini publik global YouGov, menunjukkan bahwa 63 persen konsumen online di negara Asia Tenggara lebih suka menonton konten premium melalui situs web torrent ilegal. Survei tersebut dilakukan dari 19 hingga 20 September dengan melibatkan 1.045 responden.

Dari survei yang sama, didapati sebanyak 62 persen responden mengatakan telah berhenti membayar untuk layanan TV kabel. Lalu, 29 persen responden menggunakan aplikasi ilegal yang menyediakan akses ke video dan saluran TV yang di-booting.

Di antara 35 persen dari responden yang menggunakan aplikasi ilegal, situs web dan aplikasi streaming ilegal indoXXI adalah saluran paling populer untuk menonton film gratis. Aplikasi ini populer di kalangan responden muda, angkanya mencapai 44 persen responden berusia 18 hingga 24 tahun.

Meskipun situs web sering diblokir oleh pemerintah, situs web ini dapat melewati blok ini melalui perubahan alamat situs. Produser film dan ketua Asosiasi Perusahaan Film Indonesia (APFI), Chand Parwez, menyatakan keprihatinannya atas temuan survei ini.

“Pencurian konten merusak industri kreatif Indonesia karena [para pencuri] mencuri dari para pembuat konten,” katanya pada awak media.

Dia mengatakan, APFI telah berkolaborasi dengan Koalisi Video Indonesia dan Kementerian Komunikasi dan Informasi untuk mengidentifikasi dan memblokir situs web yang memfasilitasi distribusi konten bajakan. Kementerian telah memblokir setidaknya 1.000 situs web untuk pembajakan konten sejak Juli.

Masalah Regional

Menonton film online secara ilegal tidak hanya terjadi di Indonesia. Sebelum survei terbaru yang melibatkan orang Indonesia, CAP telah menugaskan serangkaian dari survei lain yang menemukan bahwa 45 persen orang Thailand menggunakan perangkat streaming ilegal (ISD), diikuti oleh Filipina (28 persen), Malaysia (25 persen) dan Singapura (15 persen).

Survei, yang dilakukan dari November 2018 hingga Februari 2019, juga menemukan bahwa 69 persen orang Thailand memiliki ISD. Para pemilik ISD ini juga mengaku telah membatalkan semua atau sebagian langganan mereka ke layanan TV berbayar yang legal. Untuk studi kasus yang sama, jumlahnya mencapai 60 persen di Malaysia, 28 persen di Singapura, dan 18 persen di Filipina.

Ada beberapa kemungkinan alasan yang membuat orang Asia Tenggara terus beralih ke ISD. Yang paling jelas adalah bahwa ISD menawarkan konten gratis, sementara layanan streaming legal dapat sedikit mahal bergantung pada penyedia layanan dan paket berlangganan. Ini kemungkinan akan meningkatkan biaya karena pemerintah ASEAN berupaya untuk memasukkan pajak digital dalam beberapa bulan mendatang.

Alasan penting lainnya adalah bahwa layanan streaming menawarkan berbagai film, dokumenter dan semacamnya. Sementara konten-konten layanan legal tidak menawarkan semua yang dicari pasar. Netflix Asia, misalnya, sangat berbeda dari Netflix Amerika Serikat (AS) dalam konten yang disediakannya. Netflix Asia juga memiliki kebiasaan menurunkan konten setelah periode waktu tertentu.

Netflix, Amazon Prime, Apple TV, ini hanya beberapa layanan streaming yang tersedia bagi warganet untuk memutuskan apa yang ingin mereka tonton dan kapan mereka ingin menontonnya. Yang diperlukan hanyalah perangkat elektronik untuk memutar video, koneksi internet, dan sebuah akun di salah satu layanan ini.

Tahun lalu, sebuah laporan yang diterbitkan oleh Dataxis yang memperkirakan bahwa Asia Tenggara akan memiliki empat juta akun video-on-demand berlangganan (SVOD) berbayar pada tahun 2019. Jumlah ini diperkirakan akan tumbuh menjadi 6,2 juta pelanggan pada tahun 2022. Laporan tahun 2018, ‘SVOD di Asia Pasifik: demam emas’ menyatakan bahwa pada tahun 2022, pasar SVOD di Asia Tenggara diperkirakan bernilai US $ 390 juta.

Orang Asia Tenggara harus belajar bahwa pembajakan tidak dapat diterima secara sosial. Ini tidak hanya mempengaruhi industri film, tetapi juga para pengguna yang menikmati konten bajakan yang cenderung terkena malware, ransomware, dan spyware yang dapat menginfeksi perangkat elektronik mereka. Penyedia layanan streaming juga harus memahami bahwa sebagian besar penggunanya mengerti internet dan menuntut layanan yang lebih baik dan lebih terjangkau.

Pewarta: (Mg) Mochamad Hari Romansyah
Redaktur: N Ratri
Sumber: theaseanpost.com

Kanal Terkait