6 Filosofi Mengenai Udeng Kemplengan Ikat Kepala Khas Malang - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
6 Filosofi Mengenai Udeng Kemplengan Ikat Kepala Khas Malang
BERITA HIGHLIGHT STRAIGHT NEWS

6 Filosofi Mengenai Udeng Kemplengan Ikat Kepala Khas Malang

Satukanal.com, Malang – Malang kaya akan seni dan budaya yang sarat makna. Salah satu seni khas Malang yang wajib dilestarikan yakni Udeng Kemplengan. Udeng Kemplengan merupakan udengan khas Malang. Udeng ini kini semakin gencar dikenalkan kembali. Salah satunya di daerah Karangkates, Kabupaten Malang.

Ternyata Udeng juga sudah jadi produk budaya khas dari Indonesia. Hampir seluruh wilayah di Indonesia memiliki ikat kepala khas dari daerahnya masing-masing, tentunya dengan nama yang berbeda-beda. Seperti Blangkon, salah satu nama yang dipakai sebagai ikat kepala tradisional yang berasal dari Jogja.

Udeng sebenarnya sudah dikenal dan dipakai oleh masyarakat Indonesia sejak zaman dulu, khususnya di daerah Jawa. Semenjak manusia sudah mengenal sebuah pakaian, ikat kepala atau Udeng sering dijadikan sebagai sebuah kelengkapan dalam berbusana sehari-hari.

Pemakaian udeng biasanya hanya dikenakan oleh kaum pria saja, karena Udeng dianggap sebagai simbol kebanggaan bagi para kaum laki-laki. Pada era kejayaannya, Udeng bagi masyarakat Jawa sempat menjadi sebuah status sosial yang melambangkan sebuah martabat dan kedudukan bagi para pemakainya.

Untuk itulah mengapa Udeng juga sempat dijadikan sebagai pembeda antara kaum ningrat keraton atau kaum masyarakat biasa. Namun, saat memasuki era modern, pemakaian Udeng sudah tidak lagi mengenal kasta sosial. Udeng kini hanya dikenal dan digunakan sebagai sebuah produk budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Berikut adalah beberapa penjelasan terkait beberapa filosofi dari Udeng khas Malang yang telah dirangkum oleh Satukanal.com.

Baca Juga :  Jadi Koleksi Artis dan Sosialita Saat Pandemi Covid-19, Desainer Asal Malang Buat Pengait Masker Mewah Berlapis Emas

1. Filosofi Kain Udeng Kemplengan

Udeng adalah lembaran kain kecil yang digunakan untuk mengikat kepala. Kain ini dapat berbentuk persegi maupun segitiga. Pada Udeng Kemplengan, kain mula-mula dibentuk menjadi segitiga sebelum dikenakan. Bentuk segitiga memiliki makna tersendiri, yakni 3 hubungan yang wajib dijaga. Hubungan horizontal antara manusia dan alam, serta hubungan vertikal dengan Tuhan.

2. Udeng Kemplengan memiliki 4 bentuk

Udeng yang populer di daerah Karangkates, Kabupaten Malang tersebut memiliki bentuk unik dan tentunya penuh filosofi pada tata cara pemakaiannya. Seperti bentuk gunungan, jeprakan, puteran, tali wangsul dan keempat bentuk tersebut memiliki beberapa arti tertentu.

3. Filosofi bentuk Gunungan pada Udeng Kemplengan

Bentuk gunungan terletak pada belakang kepala. Bentuk gunungan yang terletak di bagian belakang udeng ini memiliki arti kekuatan. Kekuatan masyarakat Malang yang diibaratkan seperti gunung. Selain itu, juga diambil dari gunung yang juga menyimbolkan harapan yang tinggi.

4. Filosofi bentuk Jeprakan pada Udeng Kemplengan

Jeprakan terdapat pada kedua sisi udeng. Bagian kedua sisi ini memiliki arti keseimbangan hidup manusia. Keseimbangan ini juga bisa diartikan sebagai sebuah keadilan dalam mengambil suatu keputusan.

5. Filosofi bentuk Puteran pada Udeng Kemplengan

Puteran terletak pada bagian depan udeng, dan berbentuk seperti benjolan. Benjolan ini didapatkan saat memutar ujung udeng di depan, untuk dibawa ke arah belakang, sehingga menghasilkan benjolan. Puteran melambangkan 2 hal yang berhubungan dan saling berbalikan. Seperti dalam hidup ini, selalu ada 2 sisi, baik dan buruk, siang dan malam, dan sebagainya.

Baca Juga :  Kisah Menarik di Balik Pembangunan Kilat Masjid Tiban Malang

6. Filosofi bentuk Wangsul pada Udeng Kemplengan

Wangsul adalah simpul akhir dalam pemakaian udeng. Secara harfiah, Wangsul diambil dari bahasa Jawa yang artinya adalah “pulang” dalam bahasa Indonesia, yang dimaksud pulang adalah pulang atau kembali kepada sang Pencipta. Ikatan tersebut juga menyimbolkan hubungan antara Tuhan dengan manusia.

Seiring berkembangnya zaman dan terus masuknya budaya-budaya modern, pemakai Udeng Kemplengan di Malang sudah sangat sulit ditemui. Padahal Udeng Kemplengan sangat cocok apabila dipadukan dengan gaya berpenampilan anak muda masa kini.

Meskipun harus diakui kalau Udeng saat ini kalah tenar dengan beberapa fashion lainnya. Namun, tidak ada salahnya jika kita terus melestarikan dengan menggunakannya kembali saat ada acara adat tertentu atau kegiatan seni dan budaya lainnya.

Berikut adalah tata cara pemakaian Udeng Kemplengan :
  • Siapkan kain kecil yang sudah dibentuk menjadi segitiga.
  • Letakkan bagian segitiga di belakag kepala, dengan ujungnya menghadap ke atas.
  • Lipat bagian yang panjang selebar 5 cm secara berlapis, sesuaikan.
  • Bawa kedua ujung kain ke depan, lalu silangkan bagian kanan ke diri, dan sebaliknya sehingga membentuk Puteran.
  • Bawa kedua ujunganya ke belakang.
  • Sebelum ditali di belakang, lebarkan bagian samping kain sehingga membentuk seperti tepian, bentuk menjadi Jeprakan.
  • Setelah itu, tali ujungnya di belakang dengan simpul yang mudah dibuka dengan sekali tarikan.

 

 

 

 

Pewarta : Naviska Rahmadani
Editor : Redaksi Satukanal

Kanal Terkait