5 Fenomena Orang Tua yang Digugat Anak Kandungnya Sendiri, Kok Tega! - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
5 Fenomena Orang Tua yang Digugat Anak Kandungnya Sendiri, Kok Tega!
BERITA HIGHLIGHT STRAIGHT NEWS

5 Fenomena Orang Tua yang Digugat Anak Kandungnya Sendiri, Kok Tega!

Satukanal.com, Nasional – Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia tengah dihebohkan akan fenomena orang tua yang digugat oleh anak kandungnya sendiri. Pokok permasalahan atas gugatan tersebut mayoritas adalah perebutan harta warisan. Namun, Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) juga turut hadir dalam gugatan tersebut.

Tidak ada satu orang tua pun yang membayangkan dirinya akan digugat oleh anak kandungnya sendiri. Namun, inilah yang dialami oleh kelima orang tua di Indonesia, yang digugat oleh anak kandungnya sendiri.

Beberapa kasus berakhir damai, meski ada juga kasus yang tetap diproses secara hukum. Berikut adalah beberapa fenomena anak gugat orang tua yang telah dirangkum oleh Satukanal.com.

1. Ayah di Bandung digugat Rp 3 Miliar oleh anaknya

Terdapat tiga bersaudara bernama Deden, Ajid, dan Muchtar yang menggugat ayahnya bernama RE Koswara (85) warga Cinambo Kota Bandung, Jawa Barat karena tanah warisan. Gugatan bermula ketika tanah seluas 3 ribu meter milik Koswara sebagiannya disewa untuk dijadikan toko.

Namun, tanah itu diputuskan Koswara tak lagi disewakan dan akan dijual dan hasil penjualan tanah akan dibagi pada para ahli waris yakni adik-adiknya yang berhak atas tanah tersebut. Koswara mengaku sudah berbicara kepada Deden soal keputusan menjual tanah itu, tapi mendapat penolakan.

Deden yang sempat membayar biaya sewa untuk tahun 2021 namun oleh Koswara, uangnya dikembalikan sehingga terjadilah konflik keluarga. Deden yang tak terima dengan pengembalian uang itu kemudian mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum perdata ke bapaknya melalui Pengadilan Negeri Kelas IA Khusus Bandung.

Dalam gugatannya, Deden meminta Koswara, Hamidah, dan Imas Solihah untuk membayar Rp 3 miliar jika Deden pindah dari toko tersebut. Kemudian, membayar ganti rugi material Rp 20 juta dan immateriil senilai Rp 200 juta.

Atas insiden ini, Koswara sempat membuat surat pernyataan tertulis bermaterai dengan cap notaris pada 11 Desember 2020 yang menyatakan dia tidak lagi mengakui Masitoh, Deden, Ajid dan Muchtar sebagai anaknya lagi.

2. Ibu di Kendal digugat karena tanah warisan oleh anaknya

Ramisah (67) seorang ibu yang berasal dari Kelurahan Candiroto, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah digugat oleh anak kandungnya yakni Maryanah (47). Kasus ini dimulai karena pertikaian perihal masalah tanah warisan.

Tanah tersebut sebelumnya merupakan warisan dari mendiang suaminya yang telah meninggal tahun 2011 lalu. Di tanah seluas 420 meter persegi yang disengketakan, Ramisah membangun sebuah warung kecil dan gubuk sederhana untuk bertahan hidup.

Namun, Maryanah menggugat Ramisah, karena tinggal di tanah yang ia klaim sebagai miliknya dan ia pun meminta ibunya pergi dari tanah dan gubuk itu segera. Ibu lima anak ini pun mengaku sudah lelah dengan proses hukum yang saat ini membelitnya.

Baca Juga :  Ingatkan Potensi Karhutla, Awal Musim Kemarau Diperkirakan Mei Dan Juni

Ramisah mengatakan bahwa, tindakan anak kandungnya itu telah mencederai hubungan seorang ibu dan anak. Ramisah juga menganggap apa yang telah dilakukan anak kandungnya yakni Maryanah sebagai tindakan yang sangat keterlaluan.

3. Ibu di Demak di laporkan anak kandungnya dan berakhir damai

Baru-baru ini juga muncul kasus Agesti Ayu Wulandari (19) yang melaporkan ibu kandungnya, Sumiyatun (39), ke Polres Demak atas dugaan KDRT berakhir damai.

Keduanya dipertemukan di Gedung Kejaksaan Negeri Demak, Rabu (13/01/2021), dengan suasana diwarnai tangis air mata. Keduanya didampingi kuasa hukum masing-masing, anggota DPR Dedi Mulyadi dan Kapolres Demak AKBP Andhika Bayu Adittama.

Kini, Sumiyatun bisa kembali bernapas lega dan berdamai dengan putri sulungnya itu. Segala tuduhan terhadapnya pun tak dibawa ke meja hijau. “Alhamdulilah terima kasih. Saling memaafkan itu lebih baik. Semuanya damai seperti yang saya inginkan. Semoga ini bisa jadi awal kesuksesan dari anak saya,” Ujarnya dikutip dari Kumparan.

Perasaan yang sama juga dirasakan Agesti. Dia akhirnya bisa memaafkan ibu yang telah mengandungnya 9 bulan itu.  “Tidak bisa berkata kata lagi. Dia tetap ibu saya,” katanya sambil menahan tangis.

4. Ibu di Salatiga digugat karena Mobil Toyota Fortuner oleh anak kandungnya

Ibu bernama Dewi Firdauz (50) digugat anak laki-lakinya, Alfian Prabowo (26) ke PN Kota Salatiga. Gugatan ini bermula karena ibu dua anak ini tak kunjung mengembalikan mobil Toyota Fortuner yang digunakannya kepada Alfian Prabowo.

“Lemas banget, saya di teras seperti enggak bernafas waktu baca surat dari pengadilan negeri. Saya pikir ini apa ternyata saya digugat anak saya sendiri. Anak saya menuntut agar mobil Fortuner ini diberikan kepadanya,” ujar Dewi.

Anak lelakinya Alfian Prabowo bahkan menuntut ibu kandungnya untuk membayar biaya sewa mobil tersebut. Tak tanggung-tanggung biaya sewa itu mencapai ratusan juta rupiah. “Gugatannya itu, biaya sewanya mencapai Rp 200 juta. Itu dihitung sejak pertama beli pada bulan Febuari 2013 sampai sekarang,” jelas Dewi.

Kasus itu bermula ketika kedua orang tua Alfian, Dewi Firdauz dan ayahnya dr Agus Sunaryo bercerai pada September 2019 lalu. Sebelum kedua orang tuanya bercerai, Alfian sempat dibelikan ayahnya mobil Toyota Fortuner.

Alfian yang melanjutkan studinya di Yogyakarta itu sebenarnya tidak protes mobil itu digunakan oleh ibunya. Hanya saja dia kesal karena mobilnya itu masuk ke daftar gono gini yang diperebutkan kedua orang tuanya.

Alfian mengatakan bahwa beberapa kali membuka ruang diskusi untuk kedua orang tuanya. Namun, karena gagal dan kedua orang tuanya terus ribut dia akhirnya mendaftarkan gugatan ke pengadilan pada Oktober 2020 lalu.

Baca Juga :  5 Jenis Olahraga Bantu Kurangi Nyeri Haid

5. Ibu di Probolinggo digugat anak kandung karena Tanah Warisan

Seorang anak bernama Naise (44), warga Dusun Tancak, Desa Ranuagung, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo, menggugat Surati (53), ibu kandungnya. Gugatan itu dilakukan Naise lantaran tanah warisannya seluas 3.874 meter persegi dibangun rumah oleh Surati.

Naise juga turut menggugat Satima, adiknya dan Sinal, sepupunya. Atas tindakan Naise, Surati mengaku tidak menyangka bila dirinya digugat anak kandungnya itu. “Saya tidak menyangka kalau dia sampai tega menggugat seperti ini,” Ujarnya.

Naise menggugat ibu kandungnya karena tanah yang saat ini dibangun rumah oleh ibunya itu adalah warisan neneknya atas nama Sitrap atau ibu kandung Surati. Setelah Sitrap meninggal dunia pada Tahun 2015, tanah warisan itu kemudian dihibahkan Sitrap kepada Naise.

Adanya fenomena ibu yang digugat oleh anak kandungnya sendiri, Dosen Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Sonny Dewi Judiasih menjelaskan bahwa, secara norma anak tidak diperbolehkan mengajukan gugatan ke orang tua.

Tindakan tersebut tidak sejalan dengan norma yang ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. “Ini sesuatu yang ironis,” kata dia, dalam keterangan resmi Unpad, Senin (25/01/2021).

Sonny juga menjelaskan, pada Pasal 46 Ayat 1 dan 2 UU Perkawinan mewajibkan seorang anak untuk menghormati orang tua serta wajib memelihara jika anak sudah dewasa. Karena itu, fenomena kasus anak gugat orang tua merupakan contoh dari ketidaksesuaian norma dari UU Perkawinan.

Hampir sebagian besar kasus anak gugat orang tua didasarkan atas motif ekonomi, yang salah satunya terkait pembagian harta waris. Karena itu, Sonny mengingatkan bahwa tidak seharusnya masalah pembagian harta dipermasalahkan saat orang tua masih hidup.

“Pembagian waris dilakukan nanti setelah orang tuanya meninggal. Karena itu perlu dikaji apakah gugatan ini karena ada kepentingan ekonomi atau bagaimana,” ujarnya.

Berbeda jika gugatan dilayangkan terkait adanya kekerasan atau penelantaran yang dilakukan orang tua. Sonny menjelaskan, UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga menyebut bahwa orang tua dilarang melakukan 4 jenis pelanggaran kekerasan dalam rumah tangga yaitu kekerasan fisik, psikis, seksual, hingga penelantaran rumah tangga.

Sehingga, dalam kasus ini, korban berhak mendapatkan pendampingan dan perlindungan secara hukum. UU ini berlaku bagi anak dengan kategori belum berusia 18 tahun serta belum pernah menikah. Sonny jugamengharapkan agar anak dapat menyadari betul siapa yang akan digugat. “Harus direnungkan kembali, apakah menggugat orang tua harus dilakukan atau tidak” Ujarnya.

 

 

 

 

Pewarta : Naviska Rahmadani
Editor : Redaksi Satukanal

Kanal Terkait