3 Alasan BPOM Rilis Izin Darurat Penggunaan Vaksin Sinovac | SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
3 Alasan BPOM Rilis Izin Darurat Penggunaan Vaksin Sinovac
BERITA HIGHLIGHT STRAIGHT NEWS

3 Alasan BPOM Rilis Izin Darurat Penggunaan Vaksin Sinovac

SATUKANAL.com, NASIONAL– Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah merilis izin penggunaan darurat vaksin covid-19. Vaksin Sinovac yang berasal dari China dengan nama CoronaVac resmi mendapatkan EUA atau Emergency Use Authorization.

EUA ini merupakan otorisasi penggunaan  darurat berupa izin yang dikeluarkan untuk penggunaan metode atau produk medis tertentu seperti halnya dengan vaksin covid-19.

Penny K Lukito selaku Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengungkapkan bahwa vaksin sinovac yang telah diuji coba tahap ketiga di Bandung telah memenuhi standar keamanan yang diisyaratkan oleh Orgnisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Hal tersebut disampaikannya dalam konferensi pers pengumuman pemberian izin penggunaan darurat vaksin atau emergency use authorization (EUA) yang digelar, Senin (11/01/2021). Menurut Penny, ada tiga hal yang mendasari pemberian izin tersebut yaitu:

  1. Efek samping dari vaksin coronavac hanya bersifat ringan dan sedang.

Efek Ringan yang dimaksudakn yaitu penerima vaksin kemungkinan akan mengalami keluhan berupa nyeri dan iritas. Sedangkan untuk efek sedang, penerima vaksin kemungkinan akan mengalami keluhan berupa pembengkakan sistemik, nyeri, otot, demam dan gangguan sakit kepala. Dikatakan bahwa efek samping tersebut tidak berbahaya dan dapat pulih kembali.

  1. Efikasi yang diperoleh vaksin ini sebesar 65,3 persen.

Hal ini berarti vaksinasi berpotensi untuk menurunkan kemungkinan seseorang terinfeksi sebesar 65,3 persen. Melalui uji klinik yang telah dilakukan sebelumnya, vaksin dapat membentuk antibodi yang dapat melawan virus tersebut yaitu 99,74 persen setelah 14 hari penyuntikan dan 99,23 persen setelah 3 bulan penyuntikan.

  1. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dalam menjamin mutu vaksin telah melakukan pengawasan terhadap bahan baku, proses produksi serta telah melakukan inspeksi langsung ke fasilitas sarana produksi di Tiongkok.

BPOM juga secara rutin mengevaluasi data hasil uji klinik secara bertahap melalui rolling submission yaitu pada 9 desember, 29 desember, 8 januari dan 10 januari. Evaluasi itu dilakukan oleh BPOM bersama Komnas Penilai Obat, ITAGI, Perhimpunan Alergi Imonologi Indonesia.

Baca Juga :  Disebut Gantikan Menkes Terawan, Ini Profil Singkat Budi Gunadi Sadikin

 

 

 

Pewarta: Adinda
Editor: Redaksi Satukanal

Kanal Terkait