2 Dosen dan Mahasiswa Unmer Malang, Manfaatkan Limbah Sayur dan Buah Jadi Pewarna Organik | SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
2 Dosen Unmer Malang, Manfaatkan Limbah Sayur dan Buah Jadi Pewarna Organik
BERITA HIGHLIGHT KOTA MALANG STRAIGHT NEWS

2 Dosen dan Mahasiswa Unmer Malang, Manfaatkan Limbah Sayur dan Buah Jadi Pewarna Organik

Satukanal.com, MalangUniversitas Merdeka Malang (Unmer) kembali menciptakan inovasinya dalam hal pemanfaatan limbah dari buah dan sayur yakni, limbah dari kulit buah naga dan kol ungu.

Inovasi pemanfaatan limbah buah dan sayur tersebut dilakukan oleh dua Dosen bersama dengan kedua mahasiswa dari Universitas Merdeka Malang (Unmer).

Kedua dosen dan mahasiswa Unmer tersebut memanfaatkan limbah dari kulit buah naga dan kol ungu. Sehingga, pada penelitian yang dilakukannya dapat menciptakan zat pewarna organik yang aman bagi lingkungan.

Kedua dosen tersebut bernama Pungky Eka Setyawan S.T., M.T selaku dosen Teknik Mesin dan Elta Sonalitha S.Kom., M.T selaku dosen Teknik Elektro. Sedangkan kedua mahasiswa yang turut dalam keberhasilan penelitian tersebut bernama Rifki Akbar Refitra dan Didit Abriyanto Asmo.

Pada penelitian pembuatan zat pewarna organik ini mengangkat judul “Produksi Pewarnaan untuk Anodizing Material Aluminium 6061 Berbahan Limbah Organik Sayur dan Buah”.

Keberhasilan atas penelitian tersebut, salah satunya mendapatkan dukungan dari pihak Unmer. Dukungan tersebut berupa pendanaan, yang berasal dari Dana Hibah Internal penelitian Pemula/Inovasi Unmer Malang Tahun 2020.

Baca Juga :  Meroket 2 Kali Lipat, Hujan Deras Picu Kenaikan Harga Cabai di Kabupaten Malang

Penggunaan limbah kulit buah naga dipilih karena kulit buah naga memiliki warna alami antosianin cukup tinggi. Antosianin sendiri merupakan salah satu zat yang dapat memberikan warna merah alami pada buah.

Sehingga, kandungan antosianin pada buah naga dapat dimanfaatkan menjadi salah satu pewarna alami. Nantinya, penggunaan kulit buah naga menjadi pewarna alami dapat menjadi alternatif pengganti pewarna sintetis yang lebih aman bagi kesehatan.

Pungky Eka Setyawan menjelaskan bahwa, pada kesuksesannya atas inovasi membuat pewarna organik dari kulit buah naga dan kol ungu tersebut dilakukan demi menjaga lingkungan dari limbah pewarna kimia.

Dosen Unmer ini juga menjelaskan terkait dengan Poses anodizing, proses ini adalah proses elektrokimia sederhana yang mulai dikembangkan pada abad 20, yakni dengan membentuk lapisan pelindung aluminium oksida pada permukaan aluminium.

Pada proses anodizing nantinya menghasilkan lapisan oksida tipis, memiliki pori-pori dan bersifat keras serta tahan korosi (perkaratan besi).

Dosen teknik mesin Unmer ini menjelaskan bahwa, pewarnaan pada proses anodizing ini dapat dialkukan menggunakan pewarna kimia serta pewarna alami.

Baca Juga :  Pemkab Malang Pilih Tutup Lokasi Perayaan Tahun Baru Ketimbang Tutup Akses Jalan

Namun, apabila pewarna kimia digunakan dalam proses anodizing, hal tersebut jika digunakan secara terus-menerus, akan menghasilkan limbah. Sehingga, berdampak buruk bahkan membahayakan lingkungan sekitar.

Pada penelitiannya tersebut Pungky berharap agar, “diharapkan sebuah terobosan menggunakan larutan pewarna yang tidak menghasilkan limbah berbahaya bagi lingkungan. Yaitu dengan pemakaian zat pewarna yang dihasilkan dari limbah organik” Ujarnya.

Kedua Dsen Unmer pada penelitiannya, menggunakan metode ekstraksi. Pemilihan metode tersebut dipilih untuk melakukan pengambilan zat warna terhadap kulit buah naga dan kol ungu.

Pungky mengatakan, pelarut yang dipergunakan adalah aquades. Pemilihan kol ungu sebagai pewarna alami merupakan bahan yang tepat, karena kol ungu kaya akan kandungan pewarna alaminya.

Sebagai upaya pelestarian lingkungan, beberapa bahan seperti sayur dan buah dapat dimanfaatkan menjadi produk-produk alami. Hal tersebut dapat meminimalisir penggunaan bahan kimia, sehingga ekosistem lingkungan sekitarpun dapat terus terjaga.

 

 

 

 

Pewarta : Naviska Rahmadani
Editor : Redaksi Satukanal

Kanal Terkait