150 Hektar Lahan Beralih Fungsi, Hambat Resapan Air di Bagian Hulu - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
foto: Walhi Jawa Timur
BERITA Kanal Highlight Kanal Lipsus

150 Hektar Lahan Beralih Fungsi, Hambat Resapan Air di Bagian Hulu

Banjir bandang Batu merupakan dampak dari alih fungsi lahan pada kawasan resapan air. Data WALHI menyebutkan, sekitar 150 hektar kawasan hutan pada hulu sungai dialihfungsikan menjadi ladang dan lahan pertanian. 

Satukkanal.com, Batu – Lutfia Indah

Banjir terjadi karena air dari atas run off (mengalir mengikuti pola) ke yang lebih datar dan rendah, akibat daya tampung sungai tidak mampu menampung volume air.

Logika sederhana jika air dengan deras menuju bagian bawah secara cepat, maka secara sains dasar kita paham ada kerusakan di wilayah atas. Seharusnya, air di atas bisa dikendalikan jika ada kawasan tangkapan dan resapan air yang mumpuni. Tetapi karena rusak, akhirnya kawasan resapan dan tangkapan air tidak berfungsi, akibatnya air run off ke wilayah yang lebih bawah.

Alih fungsi lahan di kaki Gunung Arjuno. Membuat resapan air berkurang. (foto: Profauna)

Menurut Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), telah terjadi alih fungsi lahan pada area hulu sungai Brantas. Bukan hanya untuk pertanian saja namun juga alih fungsi lahan produktif untuk wisata, hotel hingga perumahan.

Terhitung pada sepanjang Tulungrejo hingga Sumber Brantas telah terjadi alih fungsi dari kawasan hutan menjadi lahan pertanian sekaligus perumahan. Imbas yang diberikan adalah warga mulai menjajaki area hutan untuk dijadikan sebagai lahan pertanian. Alih fungsi kawasan ini menyebabkan kinerja wilayah resapan menjadi menurun.

Catatan Walhi menyebut, sekitar 150 hektar kawasan hutan yang merupakan hulu sungai yang mengalami banjir dialihfungsikan menjadi ladang dan lahan pertanian. Banjir yang terjadi di Kota Batu ini memang dikatakan terjadi karena faktor iklim, namun WALHI dalam situs resminya menyampaikan bahwa kerusakan ekologi di Kota Batu juga memperparah perubahan iklim yang terjadi. Akhirnya kerusakan ekologi ini juga memberikan dampak yang besar bagi bencana banjir bandang yang terjadi di Kota Batu.

Baca Juga :  Ketika Bendungan Alam di Kaki Gunung Arjuno Jebol

Berdasarkan catatan Walhi Jatim, selama 20 tahun hutan di Kota Batu terus mengalami pengurangan.

“Merujuk data citra satelit 348 hektar hutan primer di Kota Batu hilang selama 20 tahun. Terakhir, dari data yang dihimpun terkait eksistensi keberadaan lahan hijau, dari luas 6.034,62 pada 2012 menjadi 5.279,15 hektar pada 2019,” ujar Ketua Dewan Walhi Jatim, Purnawan D Negara.

Pupung sapaan akrabnya mengatakan bahwa berkurangnya hutan di Kota Batu itu terjadi pada bagian hulu sungai meliputi di Kelurahan Tulungrejo hingga Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu sudah banyak terjadi alih fungsi lahan.

“Banyak di atas kawasan tersebut yang menjadi lahan pertanian, salah satunya juga didorong oleh alih fungsi lahan produktif untuk wisata dan peruntukan lain seperti hotel dan perumahan,” katanya.

Direktur Utama Perum Jasa Tirta I, Raymond Valiant Ruritan mengatakan bahwa alih fungsi lahan tersebut menyebabkan tanah longsor karena tidak ada tanaman pengikat di atasnya.

“Di Kali Sambong itu sedang kami teliti ke atas ke hulunya. Memang ada bagian hutan lindung yang mengalami alih fungsi lahan menjadi perkebuhan,” ujarnya.

Terkait dugaan alih fungsi lahan tersebut Kepala Departemen Pengelolaan Sumber Daya Hutan dan Perhutanan Sosial Perum Perhutani, Bambang Jurianto, mengatakan saat ini timnya masih mendatang berapa luasan hutan yang dialihfungsikan.

“Yang dibuka lahan berapa meter itu kita masih berhitung. Kata masih akan mengecek nanti, hasilnya akan kami sampaikan lebih lanjut,” katanya.

Baca Juga :  Banjir Bandang Batu Rusak Jaringan Pipa PDAM, Warga Kesulitan Air Bersih

“Bila ada laporan warga yang membuka lahan secara ilegal, itu nanti akan kami bina dulu untuk bisa berkontribusi untuk memperbaiki lingkungan,” sambungnya. (*)

Berita Lipsus Terkait:

 

Menelisik Sebab Musabab Air Bah yang Menerjang Kota Batu

Banjir bandang yang menerjang Kota Batu Kamis (4/11/2021) sore terhitung paling dahsyat di kota wisata tersebut. Berbagai pihak berupaya menelusuri apa penyebab banjir bandang untuk mengantisipasi kejadian serupa di kemudian hari.

Selengkapnya

Salam Pembuka La Nina yang Menyapa Batu

Bermula dari hujan ekstrem mencapai 80,3 milimeter selama dua jam. Banjir Bandang Batu yang merenggut tujuh nyawa dan merusak puluhan rumah bagian awal dari La Nina. BMKG memprediksi puncak La Nina pada Januari – Februari 2022.

Selengkapnya

Ketika Bendungan Alam di Kaki Gunung Arjuno Jebol

Hujan berintensitas tinggi akibat dari La Nina membuat kawasan hulu longsor di sejumlah titik yang menyebabkan terjadinya bendungan alam pada aliran sungai.

Selengkapnya

 

150 Hektar Lahan Beralih Fungsi, Hambat Resapan Air di Bagian Hulu

Banjir bandang Batu merupakan dampak dari alih fungsi lahan pada kawasan resapan air. Data WALHI menyebutkan, sekitar 150 hektar kawasan hutan pada hulu sungai dialihfungsikan menjadi ladang dan lahan pertanian.

Selengkapnya

Strategi Pemkot Batu Mengantisipasi Banjir Bandang Susulan

Jangka pendek, Pemkot Batu akan melakukan susur sungai untuk memantau bendung alam dan pembersihan pohon tumbang. Berikutnya, mengupayakan untuk menjaga resapan air di hulu.

Selengkapnya

Editor : Danu Sukendro

Kanal Terkait